Category Archives: Travel

Masjid di Turen, Malang Yang Penuh Misteri

turen-1

Ketika tahu bahwa saya akan berkunjung ke Malang, seorang teman memberikan saran agar saya menyempatkan diri untuk singgah ke masjid Tiban di Turen, sedikit di luar kora Malang.

Awalnya saya tidak terlalu menanggapi, hanya bertanya dengan enteng, “apaan tuh masjid Tiban?”
“Itu masjid yang konon diyakini masyarakat dibuat oleh jin, makanya dinamai masjid Tiban (masjid yang muncul ‘dadakan’),” jawab teman saya.

Saya mulai tertarik, karena biasanya teman yang satu ini tidak suka bercanda dan berbohong. Tapi tetap saja anggapan mengenai jin yang membangun masjid di era modern saat ini agak sulit masuk di akal. Namun hal ini justru membangkitkan minat saya untuk mendatangi masjid yang disebutnya.

Maka ketika urusan pribadi saya sudah selesai di hari Sabtu siang, 24 Agustus yang lalu, saya tanya ke sopir rental apakah dia tahu lokasi masjid Tiban di Turen. Dia spontan jawab, “tahu pak. Saya beberapa kali mengantarkan tamu kesana.”

Kebetulan isteri dan ibu saya juga ikutan ke Malang dan mereka berdua yang penasaran mendengar cerita sepotong soal masjid yang dibangun jin ini, antusias untuk ikut.

Perjalanan menuju Turen yang hanya sekitar 25 km di luar kota Malang ternyata memakan waktu yang lebih lama dari dugaan saya, hampir satu jam. Lokasi persisnya berada di jalan Wahd Hasyim, Gang Anyar, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Singkat cerita, setelah melalui jalan kecil yang cukup mulus namun ramai, kami pun memasuki gang kecil yang hanya muat untuk satu kendaraan. Di kanan kirinya ada kios-kios penjual buah dan makanan. Rupanya itu adalah jalan masuk menuju kompleks masjid. Jalan itu berakhir di pintu gerbang tinggi besar yang terbuat dari keramik biru putih yang dihiasi kaligrafi.

Saya mulai terkesan, karena membuat gerbang sebesar itu dengan tulisan kaligrafi bukan pekerjaan yang mudah. Diatas pintu gerbang terpampang tulisan besar “Selamat Datang – Pondok Pesantren Syalafiyah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir.”

turenOh ya, masyarakat setempat lebih mengenal kompleks ini sebagai Pondok Pesantren yang didalamnya terdapat masjid yang menghebohkan ini. Kendaraan yang memasuki kompleks langsung dipandu menuju areal parkir yang cukup luas oleh petugas yang ternyata adalah santri pondok pesantren.

Melihat banyaknya kendaraan yang parkir dan iringan mobil yang ada di belakang kami, saya percaya bahwa masjid di Turen ini pasti sudah jadi ikon wisata di Malang. Sopir kami menyebutkan bahwa di hari Minggu para tamu harus memarkirkan mobilnya di luar kompleks saking ramainya pengunjung dan harus berjalan kaki masuk. Begitu turun dari kendaraan, kami diminta untuk mendaftarkan diri ke loket informasi di bangunan khusus bernuansa oranye, sekaligus meminta karcis mobil untuk keluar kompleks. Tanpa karcis, kendaraan tidak diijinkan untuk keluar dari kompleks pesantren.

Di loket pendaftaraan saya hanya ditanyakan nama, kota asal dan berapa jumlah anggota rombongan. Tidak ada bayaran tiket masuk atau semacamnya. Selesai mendaftar, kami mulai celingukan kiri kanan. Bingung, karena terlihat ada banyak pintu masuk.

Ditengah kebingungan, tahu-tahu kami ditegur oleh seorang pemuda berpeci dengan seragam hitam. Rupanya ia santri yang tengah bertugas. Mungkin dia paham bahwa kami merasa asing dengan lokasi, sehingga dia menawarkan diri untuk memandu kami. Pucuk dicinta ulam tiba, kami dengan senang hati mengikuti pemuda tersebut.

Begitu masuk ke bangunan utama, kami diminta melepas sepatu untuk ditenteng menyusuri jalan masuk berupa lorong yang agak mendaki dengan dinding yang dihiasi aneka ornamen, ukiran dan kaligrafi. Pemandu kami menjelaskan dengan singkat bahwa bangunan pondok pesantren ini mulai didirikan oleh KH. Achmad sejak tahun 1978 yang sampai kini pembangunannya sudah mencapai 10 lantai, namun masih belum selesai. Targetnya disebutkan, 18 lantai. Saya memang melihat banyak dinding yang polesannya masih setengah jadi walau tidak terlihat ada yang bekerja.

Ditanya tentang arsitek bangunan, si pemandu kembali menjelaskan bahwa desainernya adalah KH Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh sendiri yang memberikan instruksi pengerjaan kepada para santri berdasarkan hasil istikharah. Artinya, kalau sinyal dari istikharah belum datang, pekerjaannya belum dilanjutkan. Sehingga kalau ditanya seperti apa bentuk bangunan ini nantinya, tidak ada yang bisa menjawab.

Sejujurnya, desain interior gedung ini memang unik, seperti perpaduan budaya timur tengah, dan Cina. Di sepanjang lorong yang kami lalui dindingnya penuh dengan ornamen-ornamen etnik campuran Arab, India dan Cina dengan corak warna yang aneka ragam. Kami berjalan dengan santai sambil menikmati desain interior lantai demi lantai sambil berjalan mengikuti santri pemandu.

Awalnya ibu saya yang berusia 79 tahun agak menolak untuk menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas, namun santri pemandu membujuk dengan santun agar ibu saya meyakinkan diri akan kemampuan menaiki anak tangga sambil “istighfar” dalam hati. Alhamdulillah, ibu pun mematuhinya dan mampu naik hingga ke lantai 6 sebelum akhirnya dipandu turun kembali melalui lorong-lorong yang berbeda. Mungkin karena memaklumi memandu orang tua, santri pemandu kami mempersilahkan kami beristirahat sejenak di salah satu lantai yang disebutkan sebagai ruangan penerimaan tamu Kiai Achmad.

turen-2

tipikal lorong di dalam gedung, dihiasi oleh ukiran dan kaligrafi.

tipikal lorong di dalam gedung, dihiasi oleh ukiran dan kaligrafi.

Di lantai berikutnya, saya lupa apakah lantai 5 atau 6, ada kolam renang kecil yang dulunya dibuat untuk tempat mandi putri Kiai Achmad semasa kecil. Kolam itu masih dirawat dan berisi air yang jernih. Kami sempat masuk ke salah satu ruang pertemuan yang konon bisa memuat 200 orang, terpajang sebuah jam antik yang indah ditengah aneka kaligrafi di dindingnya. Di beberapa ruangan terdapat kursi-kursi yang terbuat dari kayu jati dengan desain yang anggun dan unik. Ada lantai yang disini oleh akuarium ikan yang beraneka ragam seperti ikan koi, ikan emas dan lainnya.

Saya bertanya, kenapa ada akuarium disni? Dijawab singkat, bahwa akuarium ini dimaksudkan untuk membersihkan hati para santri serta siapapun yang masuk ke ruangan tersebut. Adanya kubah-kubah yang berhiaskan semacam motif berwarna-warni yang semarak. Ada pula lantai yang memiliki ornamen berupa pohon kurma buatan yang diberi lampu warna-warni yang terlihat indah ketika berkelap-kelip.

turen-5

Salah satu ruang pertemuan, ditengahnya terdapat jam antik.

turen-4

lampu hias antik di salah sagu ruangan.

Seusai tur singkat mengelilingi bangunan pondok pesantren walaupun hanya sampai lantai 6, kami rehat sejenak di salah satu kios makanan yang tampaknya dikelola oleh santri pondok pesantren. Saya hanya mampu menyiratkan rasa kagum akan kehadiran bangunan pondok pesantren ini yang dibangun oleh seorang Kiai berdasarkan hasil istikharah tanpa adanya pemahaman tentang arsitektur ataupun ilmu teknik sipil.

turen-6

istirahat sejenak di ruang tamu salah satu lantai.

turen-7

salah satu pendopo di luar gedung utama.

 Rasanya agak sulit diterima akal, namun itulah faktanya. Pembangunan gedung yang dimulai pada tahun 1978 dilakukan secara bertahap tanpa bantuan alat-alat berat dan modern. Pekerjaan itu semua dilakukan oleh para santri yang jumlahnya 250 orang dan beberapa penduduk di sekitar pondok pesantren. Material yang digunakan untuk membangun juga apa adanya. Diceritakan bahwa waktu itu hanya ada batu merah, sehingga batu merah itulah yang dipasang dengan adonan dari tanah liat (ledok).

Informasi tambahan yang saya baca di wikipedia, pembangunan masjid ini mulai dari bawah tanah, tepatnya di lantai tiga, ada tiang penyangga dari seluruh bangunan yang terbuat dari tanah liat. Satu tiang yang dibuat tanah liat itu yang menjadi roh atau kekuatan dari seluruh bangunan. Pembangunan dan perluasan pondok dilakukan seadanya hingga tahun 1992. Selama beberapa tahun pembangunan sempat terhenti, namun di tahun 1999 pembangunannya kembali dilanjutkan.

Maka ketika masyarakat menyebutkan bahwa bangunan di Turen ini sebagai sebagai masjid Tiban (dadakan) atau banyak juga yang menyebut sebagai masjid Jin, itu sesungguhnya tidak masuk akal. Saya pribadi hanya bingung sekaligus terkesima melihat kenyataan adanya bangunan yang memiliki desain unik (walaupun arsitektur etniknya tumpah tindih) dengan ornamen interior dari bahan-bahan mahal yang dibangun oleh orang-orang yang sama sekali tidak memiliki keahlian ilmu bangunan. Dan juga tidak ada yang bisa menjawab, dari mana dana pembangunan termasuk juga pembelian furniture antik semisal kursi meja marmer dari italia, jam antik, kursi kayu jati yang anggun serta ornamen impor lainnya. Perlu diketahui bahwa jalan masuk ke kompleks pondok pesantren hanya bisa dilalui oleh kendaraan biasa, bukan sekelas truk atau alat berat.

Ketika ditanya, para santri pondok pesantren hanya menyebutkan, itulah kebesaran Allah sehingga persoalan dana dan dari mana asalnya ornamen impor dan interior indah itu berasal, tidak usah dipusingkan. Subhanallah.

Ciputat, 28 Agustus 2013.

4 Comments

Filed under Travel

Rumah Kayu Unik di Kampung Pedagang Antik

Rumah kayu dilihat dari arah Nagari Sarik.

Rumah kayu yang satu ini menurut saya terbilang unik. Ya memang unik, karena penampilan rumah kayu bertingkat tiga ini jauh berbeda dengan rumah-rumah tinggal yang ada disekitarnya.  Atapnya memiliki kemiripan dengan bangunan tradisional Hindu. Lokasi tepatnya berada di Jorong Suntiang, Nagari Sarik, kabupaten Agam, SUMBAR yang  diapit oleh dua gunung, Merapi dan Singgalang.

Masyarakat setempat khususnya para pengendara ojek motor menandai keberadaan rumah ini dengan sebutan batu bagowong (batu berlubang). Pasalnya, disamping rumah kayu itu bercokol sebuah batu raksasa yang memiliki lubang ditengahnya yang dapat dimasuki kepala manusia.

Menurut si empunya, H. Ismail Johan yang juga dikenal sebagai pemilik Galeri 59 di kawasan Ciputat, Tangerang,  batu raksasa yang mempunyai lubang berdiameter sekitar 75 cm itu berasal dari sebuah sungai di daerah Sijunjung. Mengangkut batu raksasa itu ke lokasinya sekarang menurut Ismail merupakan perjuangan yang tidak mudah.

Membahas sebuah rumah hanya dari penampilan luar saja, tidaklah lengkap. Rumah mungil yang terbuat dari kayu ini terlihat lebih artistik jika kita melongok kedalamnya. Ismail yang memiliki darah penggemar antik dan kayu primitif ini tampaknya sengaja mendesain rumahnya sebagai tempat peristirahatan yang asri dan alami. Interior lantai dasar termasuk dapur yang dilengkapi dengan tempat perapian betul-betul membuat kita merasa masuk ke rumah masa lalu yang terdiri dari serba kayu. Namun keberadaan TV di lantai dasar dan lantai dua serta kulkas di dekat perapian itu menyadarkan kita bahwa rumah ini bukanlah rumah kayu “the seven dwarfs” di tengah hutan yang dimasuki Snow White.

Interior serba kayu di lantai dasar memberikan kesan kuat suasana di era tahun 1950 an. Adanya kursi-kursi kecil itu bisa membuat ingatan kita  melayang ke dongeng kurcaci dan Snow White.

Suasana dapur di lantai dasar yang dilengkapi dengan kayu perapian. Nuansanya nyaris 100% tradisional jika keberadaan kulkas ditiadakan.

Interior di lantai dua. Sebuah nampan dan baki kuningan yang terpajang diatas meja ceper rendah tampak mendominasi ruangan serba kayu ini.

Menginjak ke lantai dua kita akan menemui sebuah meja kayu ceper yang terhampar di tengah ruangan yang berlapiskan tikar anyaman. Ada lemari kaca dan beberapa asesori bernuansa jadul menghiasi ruangan tersebut. Dan aha, ini yang barangkali bisa mengusik kita, yaitu keberadaan sebuah TV Flat Panel dengan decoder multi-channelnya. Di lantai dua terdapat satu kamar yang bisa digunakan oleh tamu. Dari jendela di lantai ini kita bisa menikmati pemandangan indah kearah gunung Marapi dan disisi lainnya, ke gugusan Bukit Barisan.

Pemandangan menghadap ke gunung Marapi yang tampak dari jendela lantai dua.

 

 

 

 

Andaikan tidak ada TV di lantai dua ini, maka nuansa jaman baheula akan lebih tertanam di rumah kayu ini.

Dari lantai dua, menaiki tangga kayu kita bisa naik ke lantai tiga yang merupakan kamar tidur utama. Berbeda dengan kamar tidur di lantai dua yang memiliki pintu sebagaimana kamar tidur konvensional, di lantai tiga tidak ada kamar. Praktis keseluruhan lantai tiga itu merupakan kamar tidur. Sebuah kasur besar terbentang di pojok kamar persis dibawah jendela yang menghadap ke gunung Singgalang. Jika udara sedang cerah, kita akan menikmati pemandangan yang amat menyejukkan hati.

Ruang tidur utama yang terletak di lantai 3 betul-betul memberikan suasana yang damai dan udara sejuk, terutama jika jendela yang menghadap ke gunung Singgalang dibuka.

Itulah sedikit ulasan tentang rumah mungil bertingkat tiga yang keseluruhannya terbuat dari kayu kampeh, sejenis kayu keras khas  Sumatera, yang mirip dengan kayu ulin di Kalimatan.

Ciputat, 16 Desember 2012.

4 Comments

Filed under Culture, Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (Part-5 Tamat)

Hari Kelima: menuju Longji Ping An Village

Rabu, 27 Juni 2012, saya bangun pukul 6 pagi dan menikmati sejuknya suasana alam dan asrinya pemandangan dari jendela hotel Dong Village. Suasana terasa begitu damainya, ditengah gemericik air sungai yang mengalir dibawah hotel kami. Tetapi saya tidak bisa berlama-lama menikmati lukisan alam ciptaan-Nya ini karena harus segera berkemas untuk meneruskan perjalanan ke Longji PingAn Village. Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri untuk sarapan pagi di lobi (lebih tepat disebut basement) hotel. Kami pilih menu yang aman saja, yaitu roti bakar dan pancake berikut jus jeruk. Seusai santap pagi, saya dengan dibantu Mao (sopir) menurunkan koper-koper dari lantai 4 ke mobil dan menyelesaikan pembayaran hotel.

Suasana di sekitar hotel masih terlihat sepi ketika kami meninggalkan Hotel Dong Village sekitar pukul 8 pagi. Menurut perkiraan Mao perjalanan ke Longji yang termasuk dalam Longsheng County akan memakan waktu sekitar dua jam lebih. Perjalanan kami lagi-lagi diiringi oleh mendung dan hujan rintik-rintik hingga sedang. Hal ini memaksa kami terpaksa tidak bisa jauh-jauh dari mantel hujan dan payung. Pemandangan yang terlihat selama dalam perjalanan sangat mirip dengan pemandangan alam di sepanjang jalan raya Puncak, Jawa Barat yang dipenuhi dengan bukit-bukit hijau, kebun teh dan sungai.

Perjalanan kami melewati Sangjiang County, sebuah kota kecil yang memiliki sebuah department store yang memajang dua patung kerbau bertanduk di depan gedungnya. Karena kesulitan berkomunikasi dengan Mao, saya tidak tahu apa nama kota tersebut dan mengapa sampai memajang patung kerbau sebagai lambangnya. Dalam hati hanya berpikir, kok jadi mirip sama masyarakat Minangkabau yang meniru tanduk kerbau untuk rumah adatnya?

Department Store di Sangjiang County dengan dua patung kerbau di depannya.

Belakangan ketika saya tanyakan kepada Feng via email, dijelaskannya bahwa Sangjiang County dihuni oleh suku minoritas Dong yang dalam kepercayaannya menghormati kerbau (istilah mereka water buffalo). Kerbau diyakini sebagai Tuhan dimana nenek moyang mereka dulunya menyembah alam.

Kami akhirnya memasuki gerbang kompleks tourist center Longji yang sudah dipenuhi dengan bis-bis turis. Mao menghentikan kendaraan di tempat parkir dan meminta kami untuk tetap menunggu di mobil. Suasana sungguh ramai dengan para turis. Saya masih bertanya-tanya, bagaimana caranya untuk menuju ke desa Longji PingAn seperti yang diceritakan Feng dalam suasana hujan begini. Namun tidak lama kemudian Mao kembali dengan memegang beberapa lembar karcis ditangannya sambil tersenyum. Saya masih belum paham, maklumlah komunikasi kami hanya sebatas isyarat dan kode tangan saja. Mao lalu menjalankan mobil keluar dari areal tourist center tersebut, berbelok memasuki jalan kecil di sebelah kanan yang dipalang portal dengan penjaga. Ia segera menyerahkan karcis dan portal pun dibuka sehingga kami bisa masuk. Rupanya ini jalan masuk ke desa Longji yang diceritakan Feng kemaren. Oh iya, jalan yang kami susuri berada di sebelah kanan sungai yang terlihat cukup deras airnya, dan bukit-bukit di sebelah kanan. Kali ini perjalanan lebih mirip dengan suasana di lembah Anai Sumatera Barat.

Sekitar 15 menit kemudian kami melihat ada sejumlah perumahan kayu khas Cina di depan. Banyak bis-bis berhenti di tepi jalan yang tidak terlalu besar itu. Saya menduga-duga lagi, apa ini tujuan akhir kami. Selagi saya berpikir untuk bertanya kepada Mao (dalam bahasa isyarat), ia memberhentikan mobil dan meminta kami untuk turun. Waduh, hujan-hujan begini, pikir saya? Tapi apaboleh buat, bukankah tujuan kami kesini memang untuk jalan-jalan? Sambil memegangi payung masing-masing kami berjalan mengikuti arus para turis yang menuju ke seberang sungai melalui sebuah jembatan gantung. Ada papan peringatan dalam bahasa Inggris di ujung jembatan yang menyebutkan bahwa kapasitas ideal jembatan hanyalah 15 orang. Namun tampaknya tidak ada yang peduli karena saya lihat ada lebih dari 15 orang tengah berjalan diatas jembatan yang bergoyang-goyang.

foto bersama wanita Yao. Rambut panjangnya terlihat digelung menjadi sanggul.

foto dengan latar belakang jembatan gantung yang menghubungkan desa dengan jalan raya.

Tipikal rumah di Huangluo Yao Village

 

 

 

Setelah melihat literatur, saya baru tahu bahwa desa kecil ini adalah Huangluo Yao Village. Kelompok etnis Yao disini memiliki populasi 2,6 juta, dengan sejarah 2000 tahun. Etnis minoritas Yao adalah suku khas yang tinggal di daerah pegunungan bagian selatan Cina. Para wanitanya terkenal dengan pakaian tradisional yang berupa kostum merah muda bersulam dan anting-anting perak berat di telinganya. Namun, daya tarik terbesar Huangluo Yao Village adalah perempuan Yao dengan rambutnya yang panjang. Wanita Yao disebut dalam Guinness Book of World Records sebagai wanita dengan rambut terpanjang di dunia. Mereka ini hampir tidak pernah memotong rambutnya sejak mereka lahir, dan hanya membungkus rambut dengan disanggul pada bagian atas kepalanya. Sayang sekali kami tidak sempat untuk foto bersama para wanita Yao ini karena mereka tengah melakukan atraksi di dalam gedung pertemuan untuk rombongan turis yang datang. Jadi kami hanya berjalan menyusuri lorong-lorong perkampungan mereka sambil melihat pernik-pernik kerajinan tangan khas Yao. Usai melihat-lihat perkampungan kecil ini kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, Longji PingAn Village.

Singkat cerita, mobil kami pun memasuki areal areal parkir Longji PingAn Village di tengah hujan rintik-rintik. Kami segera turun dan membawa perlengkapan seperlunya untuk dibawa naik keatas bukit. Ya, sebelum berangkat di Yangshuo kami sudah diwanti-wanti oleh Feng bahwa untuk mencapai lokasi hotel, kita harus mendaki naik melalui jalan setapak sekitar 25 menit. Jadi sebaiknya pakaian ganti dan keperluan pribadi, dibawa pakai koper kecil atau backpack saja. Kami sudah menyiapkannya. Pakaian kami berdua sudah di-pack dalam travelling bag dan saya pun siap dengan backpack.

Namun begitu masuk ke gerbang Longji PingAn Village, isteri saya langsung geleng-geleng karena merasa tidak akan sanggup melalui jalan setapak yang lebih cocok disebut tangga naik menuju puncak bukit itu. Saya bingung juga. Lalu kasih isyarat ke Mao bahwa isteri saya tidak mungkin menaiki jalan setapak yang cukup terjal itu. Solusi untuk itu tampaknya ada. Saya lihat ada sejumlah tandu yang bisa disewa untuk membawa penumpang naik ke atas bukit. Saya pun meminta Mao untuk negosiasi ongkos tandu untuk mengangkut isteri saya. Akhirnya kita sepakat dengan harga 100 Yuan, namun sempat berdebat sedikit dengan kedua tukang tandu ketika travel bag isteri saya diikutkan keatas tandu.

Bersiap-siap untuk ditandu berikut travel bag

Jalan setapak menuju puncak bukit terlihat cukup padat dilalui oleh pengunjung, termasuk pengusung tandu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Begitulah, isteri saya di tandu oleh dua orang menaiki bukit, sementara Mao dan saya mengikuti di belakang. Melihat kenyataan bahwa jalan setapak menuju bukit memiliki kemiringan yang lumayan tajam, hati saya mulai ciut. Mampukah saya melaluinya selama 20-25 menit? Tapi melihat betapa gesitnya kedua pengangkut tandu itu mengangkut isteri saya termasuk travel bag seberat 7 kg, saya malu hati juga. Bukankah di tahun 2010 saya terbukti mampu menaiki 253 anak tangga ke puncak gunung Bromo walaupun dengan susah payah. Demikian pula di tahun 2011 saya pun berhasil menaiki lebih dari 700 anak tangga menuju puncak bukit Makam Papan Tinggi di Barus, Sumatera Utara.

Taksiran Feng tidak meleset. Saya berhasil mencapai lokasi di dekat hotel dalam waktu 25 menit sementara si tukang tandu beserta Mao sudah duluan sekitar 5 menit sebelumnya. Saat itu saya baru menyadari betapa indahnya alam di sekitar kami, khususnya pemandangan ke arah bawah bukit. Amboi, begitu rapih dan teraturnya piringan sawah yang berjenjang naik di sepanjang lereng berliku dari tepi sungai sampai ke puncak bukit. Rasa penat yang menerpa diri langsung lenyap tergantikan oleh kekaguman kepada Sang Maha Pencipta.

Rumah makan tempat kami santap siang dan makan malam di Longji PingAn Village.

Karena sudah waktunya untuk makan siang, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum masuk ke hotel. Santap siang itu terasa begitu nikmatnya dan ada bonus tambahan yang saya peroleh yaitu fasilitas Wi-Fi di rumah makan kecil itu sehingga bebas melanglang buana ke Internet. Sayangnya sejak dari Guilin saya tidak pernah berhasil mengakses facebook yang konon memang dicekal oleh pemerintah Cina.

Usai santap siang kami diajak Mao untuk check-in ke hotel Longji One yang ternyata hanya sekitar 50 meter dari rumah makan tadi. Hotelnya yang terletak di tepi tebing terbuat dari kayu dan terdiri dari 3 lantai. Kami sangat bersyukur diberikan kamar di lantai paling atas yang memiliki pemandangan sangat indah ke bawah bukit.

Siang itu ketika Mao mengajak untuk naik ke puncak yang disebut view point 2 yang memiliki pemandangan indah, kami menyambutnya dengan ragu-ragu karena kawatir tidak sanggup lagi menaiki anak tangga. Namun keraguan itu sekaligus dibarengi dengan rasa penasaran, masa sih jauh-jauh kesini hanya buat beristirahat di hotel? Alasan ini membuat kami akhirnya melangkah naik menuju lokasi yang dinamakan viewpoint 2. Pemandangan dari viewpoint 2 populer dengan sebutan “Seven Stars with the Moon”.

Indahnya pemandangan dari jendela kamar hotel Longji One di lantai 3.

Pemandangan ke sisi kanan kamar hotel Longji One.

Bersama ibu pemilik hotel Longji One

 

 

 

 

 

 

 

Mengapa disebut Dragon’s Backbone Rice terraces?

Longji Terraces, sering juga disebut Dragon’s Backbone Rice Terraces, Longji Rice Terraces adalah pemandangan yang menakjubkan hasil karya penduduk minoritas Zhuang. Teras padi ini usianya sudah lebih dari 300 tahun sejak 1200-an sampai 1600-an awal, selama Dinasti Yuan dan Qing, dan masih aktif dipelihara hingga kini. The Longji Terraces dibangun di lereng bukit dengan ketinggian teras yang bervariasi, antara 300 meter & 1100 meter dengan kemiringan antara 26 derajat dan 35 derajat. Kemiringan yang paling tajam mendekati 50 derajat. Meskipun ada banyak teras padi di pegunungan Cina Selatan, pemandangan seperti di Teras Padi Punggung Naga (Dragon’s Backbone Rice Terraces) ini termasuk langka.
Dragon’s Backbone Rice Terraces ini terlihat seperti rantai besar atau pita yang mengulir dari kaki ke puncak bukit. Struktur ini sungguh merupakan konstruksi persawahan yang terbaik untuk memanfaatkan sumber daya tanah langka tapi subur dan air di daerah pegunungan. Yang lebih kecil ibarat siput dan yang lebih besar terlihat seperti menara. Kita akan terpesona oleh teras sawah yang bertingkat-tingkat, dari jenjang bagian bawah hingga lapisan paling atas. Setiap jenjang teras itu ibarat dibatasi oleh garis lurus dengan rapihnya. Skalanya pun sangat besar. Itu sebabnya daerah ini disebut sebagai “The champion of the terrace world”.

Pemandangan di viewpoint 2

Indahnya pemandangan di viewpoint 2 yang dikenal dengan istilah “Seven Stars with Moon”

Tipikal rumah penduduk di Longji PingAn Village

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayang sekali cuaca masih belum mau bersahabat dengan kami sehingga ketika belum lama berada di lokasi viewpoint-2, kami ditimpa hujan yang lumayan lebat. Tapi isteri saya masih sempat difoto dengan pakaian tradisional suku Yao berikut mahkotanya yang sangat mirip dengan mahkota mempelai wanita Palembang. Karena hujan makin lebat dan hari sudah berangsur sore, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel Longji One karena kondisi fisik sudah tidak kuat untuk melangkah naik lagi ke viewpoint-1.

Kami menikmati santap malam di rumah makan yang sama dengan sewaktu makan siang karena tempatnya lumayan dekat dengan hotel. Lagi pula saya membutuhkan akses Wi-Fi nya.

Malam itu kami tertidur pulas setelah mengatur alarm untuk bangun pukul 5 pagi. Bukan apa-apa, soalnya besok kami harus segera meninggalkan hotel sebelum jam setengah tujuh pagi agar dapat mencapai Guilin International Airport pukul 9 pagi. Pesawat AirAsia yang kami booking akan take-off menuju Kuala Lumpur pukul 11:00.

Itulah keseluruhaan rekam jejak perjalanan kami yang singkat, melelahkan namun sangat berkesan di kota Guilin, Yangshuo, Dong Village dan Longji PingAn Village.

Ciputat, 22 Juli 2012.

6 Comments

Filed under Leisure, Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (Part-4)

Hari Keempat: Memasuki daerah terpencil tanpa tour guide

Tipikal jembatan di Cina yang kami lewati dalam perjalanan menuju Dong Village. Awalnya kami sangka inilah Wind and Rain Bridge, tapi ternyata bukan. Ini jembatan baru.

Selasa pagi, 26 Juni 2012 cuaca masih dihiasi oleh hujan rintik-rintik setelah kami menyelesaikan sarapan pagi di restoran hotel. Rencana pagi itu kami akan check-out dari Li River Retreat untuk melanjutkan perjalanan ke desa terpencil Dong (Dong Village) yang konon akan memakan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dengan mobil. Lumayan jauh memang. Dan karena jauhnya itulah, sejak awal Feng sudah mengatur bahwa kami akan bermalam di salah satu hotel di lokasi tersebut. Cukup semalam saja karena keesokan harinya akan berangkat lagi menuju target wisata kami terakhir, Longji Ping’An Village yang terkenal dengan ladang padinya bertingkat-tingkat dan tersusun sedemikian rapinya sehingga dijuluki “rice terraced.” Kami pun akan menginap pula di Longji untuk satu malam sebelum menyudahi perjalanan yang mengesankan ini.

Persis jam delapan pagi Feng sudah muncul di lobi hotel sesuai janjinya. Dia langsung mendatangi kami yang sedang siap-siap untuk check-out dan berkata,  “I want to talk to you.”  Kami yang masih duduk di restoran mempersilahkannya menempati kursi. Saya mulai menduga-duga, apa gerangan yang akan disampaikannya?

Aswil, my grand mother passed away last night,” katanya pelan.

Oops, saya terkejut. “I am sorry to hear that,” kata saya spontan.

Lalu Feng menjelaskan lebih lanjut bahwa upacara pemakaman butuh waktu sekitar 3 hari dan dia tidak mungkin untuk meninggalkan keluarga. Maklum ia masih tinggal serumah dengan  kedua orang tua dan neneknya itu.

Saya langsung maklum bahwa hal ini akan berdampak kepada program kami dan sejuta pertanyaan mulai berseliweran di dalam benak saya. Tetapi Feng yang seakan mampu membaca apa yang saya pikirkan, langsung menyelak, “don’t worry about your program although I can’t join you for the rest of the days. I have arranged everything and Mao (driver) will accompany you to Dong Village and Longji. He is familiar with those areas, so you are safe.”

But how can we communicate with him, since he can’t speak English at all?” tanya saya masih kawatir.

In case you need to talk to me, you can ask him to call me using his phone cell. Don’t use yours since it will be very expensive,” jawab Feng. “And I have written this instruction in Chinese characters on this paper,” lanjutnya lagi sambil menyodorkan selembar kertas.

Diatas kertas itu saya lihat Feng sudah menuliskan satu kalimat dalam bahasa Inggris, “I need to talk to Feng” dan disampingnya ada tulisan Cina nya untuk memberi tahu Mao (sopir) andaikata saya ingin mengontak Feng. Saya sebetulnya tidak nyaman, tapi kami dihadapkan pada pilihan  sulit harus segera diputuskan. Kalau mau membatalkan rencana perjalanan ke Ding Villaage dan Longji memang bisa saja, tapi harus mengecek lagi ke hotel kami saat ini (Li River Retreat) apakah kamar kami masih bisa dipertahankan. Kalau sudah di booking orang, mesti cari hotel lain dan … sisa dua hari di Yangshuo mau dihabiskan dimana lagi? Ini kota kecil yang kalau dijalani dengan mobil setengah hari, selesailah sudah.

Saya segera mengambil keputusan. “Okay Feng,” kata saya kemudian. “We’ll go to Dong Village and Longji, but please put additional  Chinese sentences on your paper,” pinta saya. Lalu saya tuliskan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris untuk diterjemahkan ke tulisan Cina.

We want to use toilet
we go to eat
We want to go back to the hotel
please accompany us to the village and longji rice terraced
we want to see Yao ladies washing hair
we will chacek-out hotel in Longji one Hotel by 6:30 am.”

Pukul 08:15 kami pun check-out dari hotel, berangkat ke Dong Minority Village bertiga dengan Mao, sang sopir yang selalu setia menemani kami selama ini.

Mampir di SPBU untuk ke toilet.

Perjalanan menuju Dong Village ternyata sangat nyaman karena infrastruktur jalan raya sudah bagus dan nyaman untuk dilewati, apalagi lalu-lintasnya boleh dikatakan cukup sepi. Dalam hati saya berpikir, apa tidak mubazir pemerintah Cina membuat jalan raya yang bagus dan lebar sementara utilisasinya masih rendah. Atau barangkali mereka justru telah berpikir jauh, dengan mempersiapkan infrastruktur jalan raya jauh-jauh hari di muka. Entahlah, cuma rasanya enggan saja kalau mencoba membandingkannya dengan cara berpikir orang Indonesia. Kami memang tidak menjumpai masalah sama sekali jika ingin buang hajat di tengah jalan karena di setiap pompa bensin di pinggir highway selalu ada toilet dan mini market.

Setelah memasuki kota Longsheng menjelang siang, kami mulai memasuki jalan raya yang lazim kita temui di jalan raya ke puncak kalau menuju Bandung. Pemandangan bukit nan  menghijau dengan kebun-kebuh teh dan sawah terhampar di sepanjang jalan menuju ke perkampungan Dong. Karena perut sudah mulai protes, saya mengeluarkan kertas sakti titipan Feng dan menunjukkan kalimat “we go to eat” berikut tulisan Cina-nya ke Mao yang sedang menyetir. Mao langsung paham dan manggut-manggut sambil menunjuk kearah depan. Maksudnya jelas, kita akan mencari restoran di depan sana.

Namun rupanya mencari restoran yang sesuai dengan keinginan tidaklah semudah itu. Pasalnya kami sedang berada di jalan raya sepi di luar kota. Jadi kiri kanan jalanan tidak ada apa-apa selain tebing bukit dan tanah kosong. Barulah sekitar 20 menit kemudian Mao menemukan satu rumah makan merangkap rumah di tepi jalan raya dan menghentikan mobil. Masih sepi, mungkin karena waktu saat itu masih menunjukkan pukul 11:40. Mao memberri isyarat dengan tangan agar kami menunggu di mobil, lalu dia turun untuk memasuki rumah makan. Sejenak kemudian dia keluar dan meminta kami turun dari mobil. Baguslah, tampaknya rumah makan ini sudah dibuka.

Kami memilih meja di samping jendela yang menghadap ke belakang, kearah sungai yang mengalir persis di belakang restoran. Kami adalah tamu yang pertama di pagi ini.

Daftar makanan yang disodorkan membuat saya bingung karena tidak ada tulisan latin dan bahasa Inggris. Saya memberi isyarat ke Mao bahwa saya tidak paham dengan menu itu. Mao langsung maklum dan berbicara sama wanita pemilik rumah makan. Tidak lama kemudian saya ditarik untuk masuk ke arah dapur dan ditunjukkan aneka sayuran yang ada di meja dapur. Aha, ini cara komunikasi yang primitif tapi cukup efektif. Saya langsung menunjuk-nunjuk kearah 2 macam sayur mentah yang ada diatas panci. Dengan isyarat tangan ibarat menghadapi orang bisu, kami berkomunikasi. Dari dapur saya diseret lagi untuk turun tangga ke lantai bawah. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa lagi ini? Oh, rupanya di lantai bawah ada pintu keluar menuju ke kolam ikan kecil. Si empunya rumah makan mengambil jaring untuk menangkap ikan berukuran sedang di kolam itu. Tertangkaplah seekor lele berukuran lumayan besar dan diperlihatkan ke saya. Pasti dia bertanya, apakah saya setuju dengan ikan ini? Saya jawab dengan anggukan sambil mengacungkan jempol. Saya tidak bertanya lagi berapa harganya dan bagaimana cara masak serta jenis bumbunya. Terlalu rumit sementara perut kami sudah keroncongan.

Yang membuat surprise, masakan pesanan kami terhidang dalam waktu yang relatif singkat. Ikan lele pilihan saya terlihat begitu menggiurkan dengan dimasak bumbu dan di-steam.  Padahal di Jakarta butuh waktu yang lumayan lama untuk menyajikan masakan seperti ini.

Dong Village Hotel

Sekitar pukul 14:20 kami tiba dengan selamat di perkampungan Dong yang terpencil itu. Awalnya saya tidak paham ketika Mao menghentikan mobil disamping sebuah rumah kayu bertingkat. Ternyata itulah hotel tempat kami bakal menginap yang mungkin lebih tepat disebut losmen.

Penginapan yang bernama Dong Village Hotel ini lokasinya jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, terletak di salah satu sisi jembatan tua “Wind and Rain Bridge” sebelum memasuk areal perkampungan Dong di Chengyang. Hotel yang terbuat dari kayu ini cukup nyaman dan ideal sebagai tempat peristirahatan. Apalagi kami beruntung memperoleh kamar di lantai 3 yang memiliki teras dengan pemandangan indah kearah sungai, jembatan dan sawah. Saya lama terpaku mengagumi asrinya keindahan alam. Itulah sedikit gambaran tentang hotel keluarga yang telah dioperasikan sejak tahun 1998 oleh anak muda bernama Michael Yang yang bisa berbahasa Inggris.

Mao melalui pemilik hotel meminta kami segera bersiap-siap untuk berjalan menuju perkampungan karena karena ada atraksi kultural yang akan dimulai pukul 15:00. Kami pun  meninggalkan hotel dengan berjalan kaki menuju areal perkampungan suku minoritas Dong.

Sekedar informasi, daerah ini berada di Liuzhou, provinsi Guangxi utara. Wilayah seluas 2454 kilometer persegi ini yang berbatasan dengan Guizhou di barat laut dan Hunan ke timur laut dihuni oleh sekitar 350.000 penduduk tradisional Dong. Chengyang, sekitar 20 km sebelah utara dari Sanjiang, menuju provinsi Hunan, terletak distrik Dong. Lokasi ini menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup populer bagi  turis backpackers.

Sanjiang County terkenal dengan desa-desa benteng yang dibangun oleh etnis minoritas Dong. Orang-orang Dong sejak dulu membangun jembatan-jembatan yang dilengkapi dengan teras-teras dan paviliun yang memberikan perlindungan khususnya saat hujan turun. Masyarakat setempat menyebut jenis jembatan ini dengan nama yang indah – ‘Wind and Rain Bridge’, jembatan angin dan hujan. Dari semuanya, Chengyang Wind and Rain Bridge adalah jembatan yang paling terkenal.

Old Chengyang Wind and Rain Bridge

Chengyang Wind and Rain Bridge yang juga disebut Yongji Bridge atau Panlong Bridge, melintasi Sungai Linxi di Sanjiang County. Dibangun pada tahun 1916, panjangnya 64,4 meter, lebar 3,4 meter dan tinggi 10,6 meter. Dibangun dengan kayu dan batu, permukaan jembatan dilapisi dengan papan kayu dan kedua sisinya diberi pagar. Di atas jembatan itu ada lima menara seperti kios dengan ‘tanduk’ dan atap yang menyerupai sayap burung mengepakkan.
Yang juga unik dengan jembatan ini, konstruksinya tidak menggunakan paku atau paku keling, melainkan menggunakan konsep pasak kayu. Meskipun usia jembatan ini sudah beberapa dekade, kondisinya masih terlihat kokoh.

Memandang keluar dari jembatan, kita akan terpukau oleh indahnya pemandangan di depan mata. Sungai Linxi berkelok-kelok di kejauhan, pohon teh pohon menghijau di pebukitan, petani lokal yang sedang bekerja di ladang, dan kincir air tua yang berputar sungguh membuat hati merasa teduh dan tenteram.

Pemandangan seperti ini sesungguhnya tidaklah aneh bagi kita, bangsa Indonesia. Negeri kita kaya dengan sumber daya alamnya (SDA) yang tidak kalah spektakulernya dengan Cina. Namun kesadaran bangsa kita untuk mengelola SDA dan memanfaatkannya untuk pariwisata masih jauh dari harapan. Itu saja kekurangan kita.

Tipikal rumah suku minoritas Dong

Bersama para penjual souvenir

karya seni tradisional

Alat musik tiup tradisional

Seni tradisional Dong

 

Masyarakat yang kami temui di perkampungan Dong ini, standar kehidupannya masih jauh dibawah rata-rata.Tetapi hampir di setiap sudut lorong kampung kami temui hasil-hasil kerajinan tangan penduduk setempat yang dijajakan kepada para turis yang datang. Mereka pekerja keras dan merupakan pedagang yang gigih. Isteri saya sampai kewalahan dikerubuti oleh ibu-ibu yang menjajakan dagangannya yang hanya seharga 5 Yuan.

Pemandangan dari kamar hotel ke sisi kiri

Pemandangan ke arah kanan kamar hotel

Malam itu kami melewatkan waktu dengan ngobrol di restoran hotel bersama beberapa tamu hotel yang semuanya berasal dari Eropa dan Australia dan rata-rata backpacker. Kami satu-satunya yang dari Asia.  Masakan di hotel lumayan juga, mungkin juga karena perut kami sedang lapar. Yang jelas, malam itu kami lalui dengan tidur pulas di tengah kesunyian alam dan gemericik air sungai yang mengalir alami.      (BERSAMBUNG …)

Leave a Comment

Filed under Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (Part-3)

Hari ketiga: Menyambangi pasar tradisional di desa terpencil, Banyan Tree dan Silver Cave

 

Menuju desa Fuli dengan boat memakan waktu 45 menit

Memasuki hari ketiga kami berharap matahari berkenan menampilkan sosoknya. Tetapi Tuhan belum mengabulkan permohonan kami, cuaca masih mendung dan hujan ringan masih membasahi bumi. Padahal acara kami adalah mengunjungi pasar tradisional di Fuli, sebuah desa di kawasan yang agar terisolir dibalik bukit.

Desa Fuli adalah sebuah desa kuno di dekat Yangshuo. Ia memiliki sejarah tua, lebih dari 1000 tahun usianya. Posisi desa ini unik. Tiga sisinya dikelilingi oleh pegunungan dan satu sisinya oleh Sungai Li. Fuli sejak dulu dan hingga kini digunakan sebagai salah dermaga Sungai Li. Pada zaman kuno, sebelum adanya jalan raya dan rel kereta api, Sungai Li adalah satu-satunya cara untuk menghubungkan Sungai Yangtze dan Sungai Pearl.

menjelang merapat ke dermaga desa tua Fuli

Untuk mencapai desa Fuli kami harus naik rakit bambu lagi selama 45 menit, begitu ujar Feng. Mengingat air sungai masih agak tinggi dan hujan masih turun, saya sebetulnya ingin membatalkan program ini. Tapi dilema juga karena keinginan untuk menyelusuri kampung pedalaman Cina tidak kalah kuatnya. Akhirnya kami pun berakit-rakit lagi ke hulu dengan harapan bersenang-senang kemudian. Syukurlah Allah masih berbaik hati kepada kami karena masa berlayar 45 menit dalam suasana sedikit tegang (karena melawan arus) bisa dilalui dengan selamat. Kami pun turun ke darat dan memulai tur di lorong desa Fuli. Menurut Feng, desa ini dikenal sebagai tempat diproduksinya “kipas kertas yang dilukis dengan tangan”. Ada banyak seniman yang pintar melukis kipas di kampung ini karena hampir semua orang di sini bisa melukis gambar dengan bagus. Rata-rata motif lukisan mereka adalah pemandangan alam  Guilin, daerah Yangshuo, bunga, burung dan ikan. Kipas kertas merupakan pendapatan utama dari penduduk desa Fuli karena produknya disalurkan ke kota-kota lain  di Cina.

Menyusuri desa Fuli di hari pasar

Lukisan dan kipas kertas di salah satu rumah produksi di desa Fuli

Foto bersama pemilik kipas terkenal di Fuli

 

 

 

 

 

 

Dari Fuli kami melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju Big Banyan Tree (pohon beringin) Yangshuo. Nah, ini dia tempat unik satu lagi yang hanya ada bisa ditemui di Yangshuo.

Berfoto dengan banyan tree di latar belakang

Foto dengan monyet di Banyan Tree

 

 

 

 

 

 

 

Alkisah big banyan tree yang termasuk jenis beringin ini awalnya ditanam semasa Dinasti Jin, dan memiliki sejarah lebih dari 1.300 tahun. Usia dan keindahan yang menjulang tinggi membuat pohon ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi jika datang ke Yangshuo. Yangshuo Big Banyan Tree terletak 7 kilometer dari pusat kota Yangshuo, dan pohon tua setinggi 17 meter ini berada dalam kompleks taman seluas lebih dari 1000 meter persegi. Masyarakat primitif di zaman kuno menganggap pohon itu sebagai Tuhan. Orang miskin memandang pohon sebagai dokter yang mampu menyembuhkan semua penyakit. Ada kepercayaan bahwa orang orang sakit yang menuliskan keinginan mereka untuk sembuh diatas selembar kertas merah dan ditempelkan ke pohon, maka keinginan mereka untuk sembuh akan terkabul.

Ada satu hal penting yang baru saya sadari tentang keunikan Banyan Tree Yangshuo yang tidak dijelaskan dalam brosur-brosur yang dibagikan kepada para turis. Kalau tidak dijelaskan oleh Feng, saya juga tidak akan tahu.

foto banyan tree dari dekat. Akar-akar yang “turun” dari atas terus menancap ke tanah dan berakar pula/

Seperti telah disampaikan, banyan tree sebetulnya masuk jenis beringin juga, tetapi agak berbeda dengan beringin yang biasa. Banyan tree ini tingginya sekitar 17 meter dan meliputi area seluas 1000 meter persegi. Pohon ini memiliki sejumlah akar cukup besar yang turun dari atas hingga menancap ke tanah sehingga tak obahnya ibarat sebuah batang pohon pula. Jadi kalau dilihat dari dekat, kita akan melihat bahwa banyan tree ini seolah-olah ditopang oleh banyak batang pohon kecil, namun semuanya menyatu diatas (bisa dilihat dari fotonya). Sungguh sebuah fenomena yang unik. Banyan tree di tepi sungai Jinbao ini dikatakan memiliki daun yang selalu hijau di segala musim dan batangnya belum pernah rubuh atau rusak.

Kami tidak bisa berlama-lama di taman yang indah ini karena perut sudah minta diisi. Feng sudah berencana akan membawa kami santap siang di Moon Hill Cafe, sebuah restoran di kami bukit yang dinamai Moon Hill tersebut. Moon Hill merupakan salah satu obyek turis juga khususnya bagi mereka yang menyenangi panjat tebing.

Usai makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Silver Cave (gua perak).

 

 

 

 

 

Gua Perak (Yinzi Cave) termasuk jenis gua Karst, lokasinya 18 km sebelah tenggara kota Yangshuo. Guilin memiliki banyak gua dan sebagian besar pemandangan di dalamnya hampir sama, tetapi Gua Perak adalah gua terbesar di Yangshuo dan bahkan di daerah administratif  Guilin. Luasnya meliputi 12 bukit sepanjang 2.000 meter yang untuk mengelilinginya bisa  memakan waktu satu setengah jam. Gua ini dinamai demikian  karena memiliki banyak stalaktit yang berkembang di periode geologi yang berbeda, mengandung kristal mineral yang berkilauan seperti jutaan perak dan berlian dalam gelap. Gua Perak dapat dikatakan terbagi atas tiga tingkatan, yaitu gua atas, aula besar dan gua bawah.

Kami masuk berbarengan dengan sejumlah rombongan turis yang datang dengan bis-bis besar yang membuat suasana agak crowded. Ketika berjalan menyusuri lorong di dalam gua yang ditata apik dengan suhu udara yang sejuk, kami hanya mampu bergumam dan memuji akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan pemandangan alam yang begitu mempesona. Bagian atas gua yang berwarna keperak-perakan sungguh membuat kami serasa terbawa ke dalam dunia es yang indah yang diliputi salju dan embun yang membeku. Gua ini sangat pantas disebut sebagai “gua perak”, karena sewaktu kami berjalan menyusuri tebing-tebing batu, warnanya mengkilap seperti perak. Ditambah dengan permainan lampu sorot warna warni, membuat suasana di dalam gua terseut menjadi semakin memukau. Ada yang mengomentari bahwa “silver cave adalah kombinasi dari puisi, filsafat dan estetika“. Dan banyak pula yang menyebutkan bahwa “Silver Cave ibarat negeri dongeng yang sekaligus sebagai gua yang terindah di daratan Cina.”

Semua pemandangan yang luar biasa itu  membuat perjalanan menyusuri Silver Cave selama satu setengah jam sebagai wisata gua yang tak terlupakan .  (bersambung …)

Leave a Comment

Filed under Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (part 2)

Hari kedua: tour menyusuri sungai Li yang melegenda

Indahnya pemandangan dari hotel Li River Retreat

Akumulasi dari kecapaian dan udara yang sejuk membuat kami malam itu tertidur pulas. Pagi harinya saya terbangun dengan perasaan dan badan yang lebih segar. Apalagi setelah duduk di beranda kamar yang menghadap ke sisi sungai dan bukit yang menghijau, terdengar derik suara jangkrik yang seolah merupakan lagu harmoni ditengah kesunyian pagi. Sekali-sekali terdengar lolongan entah lutung atau siamang di kejauhan sana, sungguh membuat kalbu ini menjadi tenteram. Suasana ini yang barangkali mampu mengilhami lahirnya karya-karya puitis para pujangga masa lalu.

Saya nyaris larut dalam suasana damai itu, namun segera sadar bahwa Feng akan menjemput kami pukul 9 pagi. Kami pun berbenah dan menikmati sarapan pagi di beranda luar hotel yang   dilatar belakangi bukit dan sungai Yulong sambil menunggu jemputan.

Teras hotel yang sangat nyaman untuk breakfast jika cuaca cerah

Rencana pagi itu adalah dermaga desa Xingping. Dari sana Feng akan mengajak kami melayari sungai Li kearah Yangdi dan kembali lagi ke Xingping. Perjalanan air ini diperkirakan akan memakan waktu satu setengah jam lebih.

Menurut literatur, Xingping yang juga dieja sebagai Xing Ping boleh disebut sebagai kota Yangshuo tempo dulu. Turis yang berdatangan ke Yangshuo dengan kapal pesiar (cruise) umumnya selalu singgah ke Xingping.  Padahal Xingping hanyalah sebuah desa kecil yang bisa kita kelilingi hanya dalam satu jam. Meskipun desa kecil, ia memiliki sejarah panjang yang  sudah mencapai 500 tahun. Disini banyak ditemui bangunan tradisional dari periode dinasti Qing dan Ming. Pasarnya tidak buka setiap hari, hanya ramai pada hari pasar, yaitu setiap 3 hari.

Problem yang kami hadapi lagi-lagi hujan, yang lumayan deras disertai angin, sehingga kami selain memakan ponco (jaket hujan), juga membentengi diri dengan payung-payung agar tidak terkena tampias. Saya mulai berpikir, bagaimana caranya untuk memotret pemandangan dalam cuaca seperti ini, apalagi gugusan bukit karst sudah diliputi kabut tebal. Saya hamper  putus asa karena obyek yang paling saya  incar justru bukit-bukit yang unik ini. Di sekeliling  kami sudah berseliweran banyak rakit dan kapal pesiar yang sebagian penumpangnya cukup nekad dengan memotret di tengah hujan sambil satu tangannya memegang payung. Arus sungai yang terlihat agak deras membuat motor tempel kami bekerja keras seperti meraung melawan arus, membuat hati saya agak was-was. Memang kita semua diwajibkan mengenakan pelampung, tapi persoalannya saya sama sekali tidak bisa berenang. Haiyya, ini dia pikiran setan yang selalu menakut-nakuti manusia. Saya mencoba menenangkan diri, apalagi ketika melihat Feng dan tukang perahu yang lagi-lagi wanita, wajahnya terlihat biasa saja. Hanya Feng terlihat seperti merasa bersalah karena tidak bisa mempertontonkan keindahan alam di sepanjang sungai Li dengan maksimal.  Beberapa kali kabut tebal yang menyelimuti gugusan bukit karst sempat menipis dan momen itu saya manfaatkan untuk mendokumentasikan keindahan alam ciptaan Nya. Namun itu juga yang menjadi penyebab terjadinya musibah kecil. Lensa kamera pocket kesayangan isteri saya tampaknya kemasukan cipratan hujan sehingga hasil fotonya menjadi blur, buram semua. Untungnya saya membawa dua tustel, tapi yang ini harus saya jaga benar, ngga mau konyol lagi.

menepi di delta menunggu hujan reda

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah hampir 2 jam terombang-ambing ditengah sungai dan sempat menunggu hujan reda  di delta kecil tengah sungai, kami selamat merapat kembali ke dermaga Xingping. Alhamdulillah, kami telah berhasil melewati perjalanan yang berkesan sekaligus beresiko  (waktu mau balik ke Jakarta, ketika check-in di Guilin airport kami bertemu dengan satu keluarga dari Makassar yang bercerita bahwa cruise yang ditumpanginya dari Guilin menuju Yangshuo diinstruksikan oleh otoritas pengawasan sungai untuk kembali ke Guilin karena arus sungai terlalu deras dan airnya pasang).

Dari dermaga Xingping kami diajak Feng berjalan kaki sekitar 15 menit menyusuri gang-gang kecil di perkampungan tradisional, yang lucunya diramaikan oleh bule. Pemandangan khas yang kami lihat hampir di setiap kedai di lorong perkampungan itu adalah sekelompok orang (pria dan wanita) yang bermain kartu dengan taruhan uang. Itu rupanya sudah merupakan tradisi disana.

di dermaga Xingping

lorong di kotra/desa tua Xingping

Kami akhirnya meninggalkan Xingping menuju downtown Yangshuo, West Street yang selalu diramaikan para turis. Dan memang sudah waktunya pula untuk makan siang.
Feng rupanya membawa kami ke restoran langganannya di West Street, terbukti dia disambut akrab sama para pelayannya. Kami memilih duduk di teras lantai 2 sehingga bisa bebas melihat keramaian di dibawah. Perasaan saya kembali melayang ke alam Kho Ping Hoo karena saya  merasa tak obahnya seperti seorang taihiap yang masuk ke rumah makan sambil menenteng sebatang pedang, disambut para pelayannya dengan mimik mengharapkan persenan beberapa tail perak sambil menyoja dalam-dalam. Hanya bedanya, yang saya tenteng adalah monopod tustel, bukanlah pokiam atau joan-pian. Makan di loteng (lantai 2) dijamin tidak akan diganggu oleh pengemis yang penuh tambalan di bahunya. Astaga, sudah begitu jauhnya pengaruh  dunia kang-ouw merasuk kedalam diri saya ini.
Singkat cerita, makan disini juga enak masakannya walau jenis menunya tetap sama, yaitu ikan dan green vegetable.

What next? Apalagi kalau bukan menyusuri West Street yang dipenuhi dengan toko, kios dan pedagang kaki lima yang begitu agresifnya memaksa kita membeli dagangannya. Saya menyerah kalau sudah begini, disamping tidak tertarik juga buat belanja pernik-pernik. Tapi sebaliknya  isteri saya ibarat memperoleh suntikan hormon, setiap ada sesuatu yang membuatnya tertarik langsung didekati. Alhasil bisa ditebak, kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam disana. Feng dari tadi sudah mengingatkan, hati-hati sama copet dan kalau mau beli sesuatu wajib hukumnya untuk menawar.

restoran yang kami masuki di West Street

Hard bargain?
No problemo.

Bersama gadis lokal di West Street

 

 

 

 

 

 

Saya cuma senyum-senyum menanggapi warningnya yang kedua, sebab soal menawar barang  isteri saya tidak perlu diajari. Terbukti Feng beberapa kali melongo ketika isteri saya berhasil menawar barang yang harganya bisa jauh dibawah estimasi yang disebut oleh Feng. Saya jadi ingat, dulu pernah ada yang bilang bahwa dalam berdagang, orang Cina hanya bisa dilawan sama orang Padang. Kenapa? Ya, karena sama-sama punya jiwa dagang. Ini analoginya sama seperti isitilah only a Ninja can defeat a Ninja.  Entahlah, tapi agaknya anggapan itu tidak 100% benar karena saya termasuk yang tidak suka Afgan (baca: sadis) dalam menawar.       (bersambung . . .)

8 Comments

Filed under Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (part 1)

Sekilas kota Guilin dan riwayatnya

Guilin ialah sebuah kota di Republik Rakyat Cina yang terletak di timur laut Kawasan Otonomi Guangxi Zhuang. Dari sensus di tahun 2004, kota ini berpenduduk 707.200 jiwa dan sejak lama menjadi daerah tujuan wisata. Terletak di bantaran Li River (Sungai Li), namanya berarti hutan Osmanthus fragrans (teh zaitun?), karena banyaknya tanaman ini di kota ini.

Begitu nama Guilin disebutkan, bagi mereka yang pernah mengunjunginya pasti akan terbayang keindahan alamnya. Padahal disamping lansekap karst yang menakjubkan di sekelilingnya, kota Guilin sesungguhnya memiliki sejarah panjang sejak 10.000 tahun yang silam. Di masa awal itu rakyat Zengpiyan masih menganut klan masyarakat matriarkat (matrilineal). Namun, Guilin belum terdengar sampai sekitar 214 SM ketika Kaisar pertama dari Dinasti Qin (221 SM-206 SM) mendirikan kota Guilin di wilayah tersebut. Pada saat yang sama, karena pembangunan Terusan Ling, Guilin menjadi salah satu pintu gerbang antara Dataran Tengah dan Daerah Lingnan (Guangdong saat ini, Guangxi dan bagian Hunan, Jiangxi). Kemudian, di tahun 111 M semasa Dinasti Han Timur (25-220), County Shian didirikan di Guilin. Sejak saat itu, Shian (Guilin) dianggap tempat yang strategis dan di masa Dinasti Tang (618-907), Shian diubah namanya menjadi Lingui County.

Karena kaya akan sumber daya alam dan posisi geografis yang menguntungkan, Guilin menjadi basis yang terkenal, baik untuk kaum revolusioner dan para panglima perang di era modern Cina. Terutama selama periode perang anti-Jepang, Guilin adalah pusat perlawanan budaya dengan sejumlah besar intelektual aktif. Di tahun 1921 Guilin menjadi salah satu markas besar Angkatan Darat Ekspedisi Utara dibawah pimpinan Dr. Sun Yat-sen. Dengan demikian, Guilin memiliki sejarah dan budaya yang seimbang dengan alamnya yang mengagumkan.

Karena Guilin telah lama terkenal akan pemandangan alamnya yang unik, tidaklah heran jika Guilin dianggap sebagai tempat yang paling indah di dunia dengan bukit-bukit Karst yang berbentuk spektakuler, gua-gua yang mengagumkan dan air sungainya yang jernih. Kita akan terkesan dan takjub oleh pemandangannya yang indah, dan mungkin akan bertanya-tanya bagaimana caranya Sang Maha Pencipta mewujudkan alam yang begitu indahnya bagi umat manusia.

Dari segi geografis, topografi Karst merupakan bentangan alam yang dibentuk oleh pelepasan lapisan atau lapisan batuan dasar laut, biasanya batuan karbonat seperti batu gamping atau dolomit (sumber: wikipedia). Cina Selatan merupakan daerah Karst yang utama di dunia, dan Guilin adalah yang paling khas karena merupakan sebuah teluk sejak beberapa ratus juta tahun yang lalu. Air laut asin terus melarutkan dan menyelimutinya dengan lapisan batu kapur yang perlahan-lahan menciptakan perbukitan Guilin yang unik di bawah air. Dalam pergerakan kerak bumi, laut berganti dengan tanah. Alam pun terus berkembang dan sekitar 70 juta tahun yang lalu, dengan bantuan unsur-unsur alam angin, hujan, dan sungai di atas dan di bawah tanah, terbentuklah puncak batu kapur yang terisolir dan gua stalagmit yang fantastis di Guilin.

Kawasan Guilin dialiri oleh banyak sungai yang jernih airnya, ibarat cermin yang merefleksikan gambaran perbukitan Karst yang indah. Sungai Li yang mengalir di wilayah tersebut dan menghubungkannya dengan kota kecil yang indah Yangshuo, adalah jiwa dari keindahan alam Guilin itu. Bahkan Han Yu, seorang penyair besar dinasti Tang (768-824) yang sangat terinspirasi ketika melayari Sungai Li dari Guilin, sampai menuliskan lirik terkenalnya “hembusan angin sungai seperti pita sutra hijau, sementara bukit-bukit seperti jepit rambut giok”. Pemerintah Cina saat ini pun tidak ketinggalan mempromosikan Guilin dengan menampilkan gambar gugusan bukit karst tersebut di uang kertas lembaran RMB 20 yang baru.

Mata uang RMB 20 dengan latar belakang pemandangan Sungai Li

 

Merencanakan kunjungan ke Guilin dan Yangshuo

Kunjungan saya dan isteri ke Guilin sesungguhnya bukan dari inisiatif kami sendiri, melainkan atas rekomendasi teman saya, Wahyu ketika ngopi bareng di Citos sekitar bulan September 2011. Saat itu Wahyu belum lama kembali dari liburan bersama keluarganya ke Guilin. Sejujurnya, ketika Wahyu menyebut “Guilin” saya tidak bereaksi apa-apa karena memang nama itu terasa asing bagi saya. Di benak saya, kota-kota di Cina yang sering saya dengar tidak lebih dari Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Shenzhen. Barulah setelah Wahyu yang tidak pernah lepas dari iPad nya menunjukkan foto-foto ketika berada di Guilin, mata saya jadi terbelalak. Ya Allah, ternyata keindahan di foto-foto itu sudah ada dalam imajinasi saya sejak lama, ketika masih jadi pecinta berat cerita-cerita silat Kho Ping Hoo. Yang langsung terbayang dalam imajinasi saya (ini gara-gara racun suhu Kho Ping Hoo) adalah kisah-kisah beliau tentang perjalanan para tayhiap berperahu melayari sungai Huang Ho yang kiri kanannya dipenuhi puncak gunung berkabut sementara ancaman bajak laut mengintai setiap saatnya.

Ketika menikmati keindahan Lembah Harau di Sumbar yang juga dipenuhi oleh bukit cadas pada akhir 2011, perasaan saya sudah ikut tenggelam ke alam imajinasinya Kho Ping Hoo. Tetapi foto-foto Guilin ini jauh lebih spektakuler, bahkan melebihi keindahan Halong Bay di Vietnam yang pernah dipakai untuk shooting film James Bond itu.

Saya langsung bertekad dalam hati, ini harus jadi target hunting saya berikutnya bilamana ada kesempatan berlibur. Sejak pertemuan dengan Wahyu, saya mulai rajin mencari informasi tentang Guilin dan Yangshuo dengan bantuan mbah Google. Oh iya, Wahyu menyebutkan bahwa ia sekeluarga menginap di kota kecil Yangshuo yang lokasinya sekitar 65 km dari Guilin Liangjiang International Airport.

Saya pun mulai menjual ide berlibur ke Guilin ke isteri, dengan menunjukkan beberapa foto keindahan alam disana. Isteri saya mungkin agak tertarik, tapi reaksinya belum seperti yang saya inginkan. Komentarnya pendek saja, “ya dijajaki dulu lah bagaimana cara perginya dan suasana disana.” Saya tahu yang dia maksudkan. Persoalan utamanya setiap kali berlibur hanya dua, faktor makanan dan kebersihan toilet. Ada faktor ketiga, yaitu perjalanan itu sendiri karena dia tidak suka (dan tidak kuat) berjalan kaki terlalu jauh. Belakangan saya baru tahu bahwa untuk mengunjungi Guilin tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta. Lokasi terdekat untuk terbang kesana adalah melalui Kuala Lumpur, dan pesawatnya hanya berangkat pagi hari, sekitar setengah tujuh pagi. Artinya, untuk kesana terpaksa transit dulu semalam di Kuala Lumpur.

Saya sebetulnya tidak terlalu suka perjalanan yang harus pakai transit atau transfer segala macam, tapi panggilan Guilin mampu mengalahkan keengganan itu. Begitulah, hanya berselang satu bulan setelah Wahyu mengompori saya tentang Guilin, di pertengahan Oktober 2011 saya sudah melakukan early booking penerbangan AirAsia ke Kuala Lumpur dan dilanjutkan ke Guilin untuk tanggal 22 Juni 2012 selama seminggu. Lumayan, artinya saya punya waktu sekitar 7 bulan untuk mempersiapkan perjalanan ini. Tidak mau tanggung-tanggung, segala informasi yang menyangkut trip ke Guilin saya korek dari Wahyu. Dimana hotel tempatnya menginap, siapa tour guide lokal yang disewanya serta lokasi apa saja yang menarik untuk didatangi, saya gali terus.

Saya pun mulai berkomunikasi dengan wanita yang bakal menjadi tour guide kami dan mendiskusikan obyek yang akan dikunjungi dalam 6 hari kunjungan ke Guilin dan sekitarnya. Karena saya menyebutkan ketertarikan akan budaya lokal dan keindahan alam, Feng (tour guide yang pernah memandu Wahyu) menawarkan sejumlah lokasi dan atraksi yang mungkin menarik bagi kami.

Ternyata Feng yang mengaku sudah berprofesi sebagai guide sejak 15 tahun yang lalu cukup profesional. Ia menawarkan detil agenda perjalanan berikut biaya yang terkait, seperti sewa mobil hingga tiket masuk lokasi wisata. Dalam agenda Feng, 3 hari pertama kami disarankan menginap di Yangshuo (sesuai dengan saran Wahyu). Hari ke-4 kami akan diajak ke perkampungan minoritas suku Dong (Dong Minority Ethnic) di Dong Village, sekitar 6 jam dengan mobil dan menginap disana. Keesokan harinya akan mengunjungi perkampungan etnis Zhuan di Longji Ping’An Village, sekitar 3 jam dari Dong Village dan menginap pula semalam disana. Esoknya harus meninggalkan Longji untuk langsung ke airport untuk kembali ke Kuala Lumpur dan terus ke Jakarta. Hotel di perkampungan Dong dan Longji Ping’An Village akan diatur oleh Feng.

Itulah agenda perjalanan yang akhirnya kami sepakati. Isteri saya pun setuju dengan agenda itu dengan mengingatkan kembali akan persyaratan yang disampaikannya tempohari. Berangkat ke Guilin dan Yangshuo Waktu berjalan begitu cepatnya sehingga tanpa disadari hari-H pun tiba. Sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang sedang saya tangani, tapi apa boleh buat perjalanan ke Guilin bagi saya menjadi skala prioritas untuk saat itu.

Perjalanan ke Guilin boleh dikatakan lancar-lancar saja, tidak ada hambatan yang berarti kecuali letih di perjalanan akibat kurang tidur akibat transit dan jalan kaki yang lumayan jauh di LCC Airport Kuala Lumpur. Pesawat kami mendarat di Guilin Liangjiang International Airport tgl 23 Juni 2012 jam 10:05, lebih awal 20 menit dari jadwal dan disambut oleh udara mendung serta hujan ringan.

Guilin Liangjiang International Airport

Feng sudah menanti di ruang penjemputan bersama Mao, sopir yang akan menemani kami selama kunjungan disana. Dari guratan wajahnya tersirat bahwa ia seorang wanita yang sudah terbiasa dengan kerasnya hidup di Cina. Kami dibawa menuju sedan KIA yang cukup mulus dibawah siraman hujan rintik-rintik, bertolak menuju Yangshuo yang disebutnya akan memakan waktu hampir 2 jam perjalanan untuk jarak sekitar 65 km.

Betul juga seperti informasi di Internet, rupanya Yangshuo ini boleh dibilang kota para turis yang dipenuhi dengan hotel dan rumah makan. Rada mirip dengan kota Bukittinggi lah. Karena hujan masih mengguyur, Feng merubah beberapa agenda perjalanan kami. Karena waktu makan siang sudah datang, kami diajak menangsal perut (mengisi perut, ini lagi-lagi istilah di cersil cina) terlebih dahulu. Lokasi yang dipilih adalah sebuah rumah makan sepi yang tidak terlalu besar, namun terletak di tepi sungai Yulong dan tidak jauh dari Dragon Bridge (jembatan naga) yang berusia lebih dari 400 tahun.

Ketika ngobrol sambil menunggu makanan disajikan, tahu-tahu Mao (sopir) datang dari arah dapur dengan menenteng sepiring potongan buah mirip bengkuang putih. Feng memaksa kami mencobanya. Tidak ada salahnya, tokh ini buah-buahan atau sayuran sehingga kami mencicipinya dengan bantuan toothpick. Ternyata enak, ini acar apa ya pikir saya? Tapi isteri saya punya pengetahuan kuliner yang jauh lebih baik. Katanya “ini acar lobak putih, memang sedap rasanya.” Mao terlihat sumringah waktu kami acungkan jempol buat pilihannya, maklum dia tidak paham bahasa Inggris sama sekali.

Sementara Feng sejak awal sudah saya informasikan agar makanan kami dijauhkan dari unsur “pork”. Menurutnya hal itu tidak jadi kendala karena begitu banyak pilihan makanan di Cina. Entah memang masakannya enak atau kami yang kelaparan, menu steam cattle fish (ikan lele) digabung dengan mixed vetegable terasa begitu nikmat.

Usai santap siang hujan gerimis masih turun. Kami lalu diajak mengunjungi Dragon Bridge, tokh tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah makan yang tidak sempat saya tanya namanya. Menurut ceritanya Dragon Bridge dirancang di awal Dinasti Ming, jauh di tahun 1412 yang silam dan merupakan salah satu jembatan terbesar di provinsi Guangxi dengan panjang sekitar 59 meter. Di bawah jembatan naga ini kita bisa menyewa rakit bambu (bamboo raft) untuk menyusuri sungai Yulong. Tapi karena permukaan air sungai sedang naik, tidak satupun rakit bambu yang boleh beroperasi. Sementara itu hujan masih turun sehingga kami tidak mau berbasah-basah disini, sehingga hanya mengambil beberapa snapshot foto dan kembali ke mobil.

Pemandangan dari bawah Dragon Bridge

Target kunjungan berikutnya adalah Shangri-La Guilin yang terletak 15 km sebelah utara dari Yangshuo dan 50 km selatan kota Guilin. Ini adalah taman alam yang dilengkapi dengan danau buatan yang asri. Tamannya tidak terlalu luas, begitu juga danaunya yang sangat hijau airnya. Di pinggir taman dan danau didirikan beberapa bangunan yang merupakan miniatur suku Dong dan Miao, dua suku minoritas yang sebagian besar bermukim di bagian utara Guilin. Hujan yang masih menggguyur ternyata pengunjungnya yang mayoritas warga Eropa, Australia dan turis lokal cukup membludak dan rela berhujan-hujan menunggu giliran naik ke motorboat beratap dengan kapasitas 12 orang dengan panduan seorang gadis di setiap motorboat.

Hujan tidak menghalangi niat pengunjung yang antri untuk naik boat mengelilingi danau buatan.

Menyusuri gua buatan di Shangri-La Guilin

Pemandangan di Shangri-La Guilin yang dikelilingi puncak-puncak karst.

Pemandangan di sekeliling danau buatan sungguh memukau karena dilatar belakangi oleh gugusan bukit-bukit karst yang unik. Sayang sekali kabut agak mengganggu keindahaan pemandangan alamnya dan matahari masih bersembunyi. Dari Shangri-la kami diantar ke hotel Li River Retreat yang letaknya agak terpencil keatas bukit yang sepi. Sempat ciut juga melihat kenyataan betapa terisolirnya hotel kami ini, apalagi waktu Feng menyarankan untuk makan malam di hotel saja karena pusat keramaian kota lumayan jauh kalau berjalan kaki sementara lampu jalan tidak ada serta langkanya taksi meter (tidak ada?).

Kami disambut dengan sangat ramah oleh Alf, si empunya hotel yang warga negara Australia dan beristerikan wanita asli Guilin. Alf sendiri turut membantu mengangkat dua koper kami yang cukup berat hingga ke lantai 3 (paling atas) dengan jendela menghadap ke arah gunung dan sungai. Asrinya suasana di luar yang diselingi oleh suara jangrik dan lolongan siamang di kejauhan, sungguh membuat saya berasa kerasan di kamar hotel. Artinya pilihan hotel saya tidak salah, dan saya harus berterima kasih sama Wahyu.

Hotel Li River Retreat tempat kami menginap di Yangshuo

Dalam jadwal semula seharusnya kami akan diajak menyaksikan pementasan, sebuah show diatas panggung dengan ketinggian hanya sedikit diatas permukaan air sungai Li dan dua belas pegunungan sebagai latar belakangnya. Para penonton akan duduk di panggung yang dirancang khusus. Show ini disutradarai oleh Zhang Yimou yang juga menyutradarai film terkenal “Hero.” Ada yang bilang bahwa kalau ke Yangshou tapi tidak menyaksikan acara ini, kunjungan itu belumlah sempurna. Tapi apa daya, hingga hari ketiga kami menginap di Yangshuo, acara pementasan akbar ini batal dilangsungkan karena air sungai Li sedang naik. Too bad, manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan.

Sebagai gantinya, kami diajak menonton atraksi Cormorant Fishing yang akan dimulai pukul 19:30. Sebetulnya saya kurang tertarik dengan urusan pancing memancing, namun sayang juga kalau hanya berdiam di kamar hotel. Untuk itu kami akan dijemput sopir di hotel jam 7 malam menuju dermaga kecil untuk naik boat bersama 10 orang wisatawan Jerman yang akan turut menyaksikan atraksi ini. Karena Feng tidak ikut, kami agak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan Mao, sang sopir. Tapi dengan bantuan isyarat tangan kami paham bahwa Mao akan menitipkan kami ke pemilik kapal yang akan membawa kami menyusuri sungai Li berlayar sejajar dengan rakit bambu si Nelayan dengan burung dandangnya (cormorant birds).

Sungai Li di malam hari gelap gulita dan kapal kami juga tidak punya lampu. Bagaimana bisa melihat atraksi penangkapan ikan, pikir saya dalam hati. Tapi kegundahan itu segera terjawab ketika motorboat kami mendekati dan berlayar sejajar dengan sebuah rakit bambu yang dikemudikan sang nelayan yang diatasnya bertengger beberapa ekor burung besar mirip itik.

Begitu kami mendekat, si Nelayan langsung menyalakan lampu sorot yang terpajang di atas rakit bambunya, mengarah ke depan. 6 ekor burung yang semula saya kira itik, mulai terjun ke sungai, berenang mendahului rakit sang Nelayan. Lalu satu persatu burung tersebut menyelam hingga lenyap selama beberapa puluh detik, sebelum naik lagi ke permukaan air. Beberapa ekor diantaranya terlihat menelan ikan di paruhnya. Tapi si Nelayan dengan sigapnya menggaet burung dengan tongkat panjangnya, lalu menangkap dan memencet lehernya sehingga paruh burung itu terbuka dan ikan yang ditelannya terloncat keluar secara utuh, masuk ke keranjang yang sudah disiapkan. Kemudian burung itu dilepaskannya lagi dan melanjutkan perburuan ikan.

burung dandang mencari ikan dibawah lampu sorot

burung dandang yang baru muncul sehabis menyelam

 

 

 

 

 

 

Sungguh sebuah ide menangkap ikan yang kreatif dan pasti burung-burung sudah terlatih semua. Kegiatan ini berlangsung sekitar 45 menit dimana di akhir atraksi si nelayan menepi dan menurunkan keranjang yang berisi ikan hasil tangkapannya. Kami juga merapat dan diberikan kesempatan untuk melihat dari dekat ikan dan burung dandang yang pintar itu. Ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, kita diminta menaruh uang tips di keranjang sang nelayan. Sedangkan untuk mengikuti atraksi ini setiap orang harus bayar RMB 50 buat pemilik kapal yang kami tumpangi. Win-win solution bagi pemilik kapal turis dan si nelayan.

Karena merasa penasaran soal cormorant fishing ini, belakangan saya surfing di Internet. Apa sih rahasianya sehingga ikan itu nyangkut di leher burung dandang itu sekalipun ukurannya tidak terlalu besar. Inilah nikmatnya hidup di era informasi. Jawabannya langsung saya peroleh. Cormorant fishing adalah suatu tradisi memancing ikan dengan bantuan burung dandang yang terlatih. Hal ini sudah menjadi tradisi lama nelayan Cina (khususnya Guilin) dan Jepang (Gifu) sejak tahun 960 Masehi. Untuk mengontrol burung, para nelayan mengikatkan tali di dekat pangkal tenggorokan burung. Hal ini untuk mencegah burung-burung itu menelan ikan yang lebih besar, yang berada di tenggorokannya. Tetapi mereka masih bisa menelan ikan kecil. Ketika burung dandang telah menangkap ikan agak besar dan tersangkut di tenggorokannya, nelayan menarik burung itu keatas perahu dan memencet lehernya supaya ikan yang tersangkut di lehernya dapat dimuntahkan ke keranjang.

Hari pertama boleh dikatakan berjalan dengan memuaskan walau kami tidak bisa menyaksikan pementasan cahaya di sungai Li. Kami pun kembali ke hotel dengan perasaan lega.  (bersambung …)

6 Comments

Filed under Travel

Kota Barus: Kisah Pilu Bandar Niaga Internasional Masa Lalu

Bulan Juni 2009 saya tergerak untuk membeli majalah eramuslim digest (edisi koleksi 9) yang bertemakan THE UNTOLD STORY di sebuah toko buku kecil. Salah satu artikelnya yang berjudul “Barus dan Pembalseman Mumi Firaun” membuat saya terheran-heran, karena ternyata di negeri tercinta ini ada sebuah kota kecil yang memiliki sejarah masa lalu yang hebat.

Disitu dikisahkan secara ringkas namun lugas, bahwa kota kecil Barus yang berada di pesisir Barat Propinsi Sumatera Utara itu, diantara kota Singkil dan Sibolga dulunya sangat terkenal. Sesuai dengan namanya, kota Barus merupakan penghasil kapur wewangian yang populer dengan nama kapur barus yang berkualitas tinggi. Konon kota Barus merupakan satu-satunya kota di Nusantara yang pernah dicatat berbagai literatur sejak awal Masehi dalam bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia dan Cina.

Lebih jauh artikel itu menyebutkan bahwa Claudius Ptolomeus, seorang ahli geografi, astronom yang juga Gubernur Yunani di abad ke-2 Masehi membuat peta yang mencantumkan nama Barousai, sebagai bandar niaga di pesisir Barat Sumatera yang menghasilkan wewangian dari sejenis kapur. Bahkan diceritakan pula bahwa kapur wangi yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dimanfaatkan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun sebelum Masehi.

Karena begitu pentingnya Barus, maka sejak lama sekali dalam dunia dagang dikenal nama-nama baros, balus, pansur, fansur, pansuri (dari desa Pansur sedikit di utara Barus), kalasaputra (dari kata Kalasan, daerah penghasil kapur barus antara kota Barus dan sungai Chenendang), karpura-dwipa, barousai (oleh Ptolomeus), warusaka dan lain-lain.
Prof. Kern pernah menulis bahwa kota “P’o-lu-chi” yang dimaksud I Tsing di abad ke-7, tidak lain adalah Barus. Begitu pula kerajaan “Ho-lo-tan” dalam tulisan-tulisan Cina, mungkin yang dimaksud adalah Kalasan, daerah penghasil kapur barus yang disebut diatas.
Penjelajah terkenal Marcopolo menjejakkan kakinya di bandar perniagaan Barus pada tahun 1292 M, sementara sejarawan muslim ternama, Ibnu Batutah mengunjungi Barus pada tahun 1345 M.
Berdasarkan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 Masehi atau 48 Hijriah. Ini memperkuat data bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era tersebut.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 625 M – hanya berselang 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab – telah ada kampung kecil yang dihuni pemeluk Islam di sebuah pesisir pantai Barat Sumatera. Kampung ini berada dalam kekuasaan wilayah kerajaan Budha Sriwijaya. Disebutkan pula bahwa di daerah ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan pernikahan. Namun belum ada kesepakatan diantara sejarawan muslim, apakah Barus merupakan lokasi pertama masuknya Islam di Nusantara. Pandangan itu setidaknya mengemuka dalam seminar “Masuknya Islam di Nusantara” yang diselenggarakan di Medan pada tahun 1963. Dalam seminar itu Dada Meuraksa, sejarawan lokal, berkeyakinan bahwa Islam masuk ke Barus pada awal tahun Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin diatas.

Batu nisan itu menginformasikan bahwa Syekh Rukunuddin wafat dalam usia 100 tahun, 2 bulan, dan 22 hari pada tahun hamim aatu hijaratun Nabi. Tetapi pandangan Dada Meuraksa itu disangkal oleh ulama terkenal Sumut, HM Arsyad Thalib Lubis yang menganggap bahwa bukti nisan tidak dapat dijadikan dasar penentuan. Perbedaan pendapat itu berlangsung hingga belasan tahun lamanya. Baru pada tahun 1978 sejumlah arkeolog dipimpin oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar daerah Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog dari Universitas Airlangga itu meyakini Islam sudah masuk sejak tahun I Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat Dada Meuraksa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya.
Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter lebih, diatas permukaan laut, menurut ustad Djamaluddin Batubara usianya lebih tua dari makam Syekh Rukunuddin, sekitar era 10 tahun pertama dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Menurut beliau, Syekh Mahmud adalah penyebar Islam pertama di Barus, sedangkan 43 ulama lainnya merupakan pengikut dan murid-muridnya.

Mengutip KOMPAS (Akhir Perjalanan Sejarah Barus, 1 April 2005), Daniel Perret dan kawan-kawannya dari Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO) Perancis bekerja sama dengan peneliti Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) melakukan penggalian arkeologi di Lobu Tua (4 km kearah Barat dari Barus). Temuan mereka membuktikan bahwa pada abad IX-XII perkampungan multietnis dari suku Tamil, China, Arab, Aceh, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya juga telah ada di sana. Perkampungan tersebut dikabarkan sangat makmur mengingat banyaknya barang-barang berkualitas tinggi yang ditemukan.

Pada tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931 Prof Dr K A Nilakanta Sastri dari Universitas Madras, India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 Masehi di zaman pemerintahan Raja Cola yang menguasai wilayah Tamil, India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku Tamil sebanyak 1.500 orang di desa Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan lainnya.
Namun, Lobu Tua yang merupakan kawasan multietnis di Barus ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya pada awal abad ke-12 sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi.
Setelah ditinggalkan oleh komunitas multietnis tersebut, Barus kemudian dihuni oleh orang-orang Batak yang datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah penghancuran Lobu Tua.
Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak sebenarnya masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa tersebut. Penjelajah Portugis Tome Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan yang ramai dan makmur.
“Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dst. Di Sumatera namanya Baros (Barus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” demikian catatan Pires.

Tahun 1550, Belanda berhasil merebut hegemoni perdagangan di daerah Barus. Dan pada tahun 1618, VOC, kongsi dagang Belanda, mendapatkan hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan Mesir.
Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Dan sepak terjang Belanda juga mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus sehingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus sehingga banyak korban tewas. Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa kemudian ditangkap Belanda, lalu diasingkan ke Singkil, Aceh.
Perlawanan rakyat terhadap Belanda dilanjutkan di bawah pimpinan Panglima Saidi Marah. Gubernur Jenderal Belanda di Batavia kemudian mengirim perwira andalannya, Letnan Kolonel Johan Jacob Roeps, ke Barus. Pada tahun 1840, Letkol Roeps berhasil ditewaskan pasukan Saidi Marah, yang bergabung dengan pasukan Aceh dan pasukan Raja Sisingamangaraja dari wilayah utara Barus Raya.

Namun, pamor Barus sudah telanjur menurun karena saat Barus diselimuti konflik, para pedagang beralih ke pelabuhan Sunda Kelapa, Surabaya, dan Makassar. Sementara, pedagang-pedagang dari Inggris memilih mengangkut hasil bumi dari pelabuhan Sibolga.
Barus semakin tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan abad ke-17. Kerajaan baru tersebut membangun pelabuhan yang lebih strategis untuk jalur perdagangan, yaitu di pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka.
Pesatnya teknologi pembuatan kapur barus sintetis di Eropa juga dianggap sebagai salah satu faktor memudarnya Barus dalam peta perdagangan dunia. Pada awal abad ke-18, Barus benar-benar tenggelam dan menjadi pelabuhan sunyi yang terpencil.
Kehancuran Barus kian jelas ketika pada tanggal 29 Desember 1948, kota ini dibumihanguskan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia karena Belanda yang telah menguasai Sibolga dikabarkan akan segera menuju Barus.

Panggilan dari Barus

Ketika saya memperoleh kesempatan untuk berkunjung ke Barus atas undangan sesepuh Barus, Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA, tentu saja tawaran ini saya sambut dengan sangat gembira.
Ini betul-betul merupakan kesempatan emas untuk melihat sendiri bagaimana kondisi kota kecil
yang sempat menjadi emporium di masa lalu.

Begitulah, pada tanggal 30 Oktober 2011 saya yang belum sempat beristirahat setelah kembali dari Papua dan diikuti dengan meninggalnya adik kandung saya, harus berangkat lagi ke Barus melalui Medan dengan didampingi oleh M. Dachyar, anak Prof. Dachnel yang saya kenal baik
sejak kecil.

Kami memasuki Barus melalui jalur Sibolga, setelah terbang dengan Wings Air dari Medan ke Sibolga selama 35 menit. Bandar udaranya begitu sederhana, dinamakan bandara Dr. Ferdinand Lumbantobing yang terletak di desa Pinang Sori, sekitar 30 km dari kota Sibolga.
Di bandara, kami sudah ditunggu oleh pak Rivai, staf STKIP Barus yang diutus oleh Prof. Dachnel.
Pemandangan yang terlihat dalam perjalanan dari airport menuju Sibolga dan Barus seakan mengkonfirmasi saya bahwa lokasi ini memang telah luput dari perhatian pemerintah. Kondisi jalan banyak yang rusak, amat kontras dengan apa yang saya lihat di kota-kota propinsi lain seperti Aceh dan Sumbar.

Karena ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Tapanuli Tengah, Dachyar bertindak sebagai tour guide dengan memperkenalkan beberapa tempat yang kami lewati. Kami singgah sebentar di pantai Pandan yang menjadi areal wisata warga Sibolga, lalu santap siang di Rumah Makan Pak Nas yang terkenal itu. Kami berdua memang sudah kelaparan karena di bandara Soekarno-Hatta tidak sempat sarapan pagi. Kombinasi antara lapar dan lezatnya lauk, sungguh membuat makan siang kami begitu nikmat.

Pantai Binasi, Barus.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Barus dengan mengambil jalur di sepanjang pantai, sehingga kami bisa menikmati keindahan dam keasrian pantai Binasi yang berpasir putih di kecamatan Sorkam. Alangkah kontrasnya jika dibandingkan dengan kondisi pantai Ancol di Jakarta.
Akhirnya kami memasuki kota Barus ditengah guyuran hujan menjelang pukul empat sore dan langsung menuju kediaman keluarga Prof. Dachnel. Saya yang kelelahan sempat kawatir, apakah kondisi fisik saya cukup fit untuk melakukan pendakian ke makam Papan Tinggi esok hari. Seolah dapat membaca jalan pikiran saya, pak Dachnel diam-diam telah meminta seorang tukang urut untuk datang pada malam harinya khusus untuk memijat saya dan Dachyar.
Malam itu kami tidur lelap sekali.

Mendaki Makam Papan Tinggi
Pagi hari saya terbangun dengan kondisi badan masih pegal, namun sudah lebih fit dibandingkan kemaren. Udara pagi di Barus ternyata cukup sejuk walaupun lokasinya tidak jauh dari tepi pantai.
Setelah sarapan pagi saya dan Dachyar berangkat menuju ke Makam Papan Tinggi di desa Pananggahan dengan membonceng dua sepeda motor yang dikendarai Eros dan Bambang, warga setempat.
Uniknya, mayoritas penduduk desa di desa Pananggahan justru masyarakat non-Muslim. Menjelang sampai ke lokasi kami melihat banyak babi peliharaan warga berkeliaran di pekarangan rumah-rumah.

Akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Saya agak terperangah melihat anak tangga yang seolah tiada habisnya menuju keatas bukit. Ternyata istilah makam Papan Tinggi bukan sekedar bualan belaka. Menurut penuturan Prof. Dachnel, anak tangga yang mengular ini dibuat ketika Raja Inal Siregar (alm.) menjadi Gubernur Sumut. Sebelum itu, mereka yang ingin menuju ke makam harus merangkak keatas, seperti yang dilakukan oleh Prof. Dachnel semasa kecilnya. Sungguh sulit untuk membayangkan hal ini.
Saya melihat ke sekeliling. Suasananya begitu teduh dan hening yang diselingi bunyi jangkrik di lingkungan pepohonan karet dan tanaman penduduk.

Awalnya saya berniat untuk mencoba menghitung jumlah anak tangga menuju Makam Papan Tinggi yang oleh salah satu literatur disebutkan sebanyak 744 anak tangga. Tetapi saya menyerah, tidak sanggup. Bukan apa-apa, saya pada akhirnya sudah repot sendiri mengurus pernapasan selama mendaki. Pada tempat-tempat tertentu ada tempat perhentian yang bisa digunakan untuk beristirahat. Di beberapa tempat perhentian sudah dibuatkan tempat duduk menggunakan semen yang kerjakan oleh Eros dan Bambang atas instruksi Prof. Dachnel. Menurut Eros, bangku-bangku itu sengaja buru-buru dikerjakan satu minggu sebelum kedatangan kami supaya bisa digunakan sebagai tempat beristirahat.

Ada satu peristiwa yang aneh terjadi sewaktu Eros, Bambang dan dua tukang lainnya tengah asyik mengerjakan bangku untuk istirahat itu. Tahu-tahu mereka berempat mendengar suara halus menyapa “Assalamu’alaikum” sementara tidak ada siapapun di sekitar tempat itu. Mereka berempat akhirnya berpikir bahwa mungkin itu merupakan salam dari penghuni makam, dan meneruskan pekerjaannya.
Saya setidaknya memerlukan 5 kali beristirahat dengan duduk dan mengatur napas sebelum akhirnya berhasil melihat pagar makam dengan kombinasi warna hijau dan biru. Kepenatan yang melanda seakan sirna begitu sampai diatas. Pemandangan kearah lautan lepas maupun ke bukit-bukit sekitar makam begitu mempesona. Ternyata kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai lokasi makam.

Makam Syekh Mahmud sepanjang 7 meter lebih.

Alhamdulillah, saya bisa ziarah ke makam aulia yang didalam sejumlah literatur disebutkan sebagai makam Syekh Mahmud, penyebar agama Islam pertama di Barus. Makam tersebut diperkirakan panjangnya sekitar tujuh meter lebih dengan batu nisan besar setinggi 1,5 meter.
Sulit untuk membayangkan bagaimana batu nisan bertulisan Persia dan Arab yang terbuat dari batu cadas dengan berat ratusan kilogram itu bisa diangkut sampai di ketinggian ini.

Kompleks Makam Mahligai.

Singkat cerita, kami pun tidak lupa mengunjungi makam Mahligai yang berlokasi di desa Dakka, hanya beberapa kilometer dari makam Papan Tinggi. Makam seluas 1,5 hektar itu berisikan sekitar 215 makam dengan batu nisan yang besar dan kecil yang ditandai dengan ukiran bergaya Arab. Disinilah tempat dimakamkannya Syekh Rukunuddin (wafat 48 Hijiriah).

Riwayat Barus, Kini dan Harapan Masa Depan
Melihat kondisi kota Barus saat ini sungguh membuat kita prihatin.
Bagaimana tidak? Kota yang di masa lalu terkenal sebagai penghasil Kapur Barus dan rempah-rempah yang diperdagangkan sampai ke Arab dan Persia kini seperti diterlantarkan. Kota kecamatan ini tidak memiliki tempat penginapan yang memadai, tidak ada apotik dan hanya ada satu mesin ATM (di kantor cabang BRI). Jangan tanya soal convenience store seperti Alfa Mart, Indomaret atau fast food. Kami sempat kesulitan ketika ingin membeli Coca Cola kaleng di Barus.

Tidak heran jika Prof. Dr. Dachnel Kamars, MA sebagai sesepuh yang dituakan di Barus saat ini merasa sangat prihatin akan kemunduran kota Barus. Itulah yang membuat beliau terpanggil untuk kembali untuk membangun kampung halamannya , sementara mayoritas warga Barus pergi merantau ke kota-kota besar. Beliau memulainya dengan satu aktivitas yang paling mendasar, yaitu pendidikan dengan membuka Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Barus yang kini memiliki 600 mahasiswa. SDM memang merupakan isu yang paling krusial bukan hanya di Barus, tapi juga di daerah-daerah lainnya.

Seperti diutarakan oleh KOMPAS, Barus yang berjarak sekitar 414 km dari kota Medan tampaknya memang telah terlupakan. Pemerintah lebih tertarik mengembangkan perdagangan di kawasan pantai timur Sumatera, khususnya di sekitar Selat Malaka, dengan pusatnya di Batam dan Medan. Dominasi pembangunan pantai timur ini bisa dilihat pengiriman hasil bumi dari pedalaman pantai barat Sumatera yang harus melalui jalur darat untuk kemudian dibawa dengan kapal dari pelabuhan Belawan, Medan. Sedangkan untuk melayani arus perdagangan skala lokal di kawasan pantai barat Sumatera, pemerintah lebih tertarik mengembangkan pelabuhan yang lebih baru seperti Singkil di utara dan Sibolga di selatan. Kehebatan Barus sebagai bandar internasional benar-benar dilupakan. Kini, Barus tak lebih dari kota kecamatan lain di daerah pinggiran yang hampir-hampir tak tersentuh roda pembangunan. Sebagian besar warganya meninggalkan desa, mencari pekerjaan atau pendidikan di luar daerah.

Barus terkenal sebagai penghasil ikan kering (teri).

Coklat, salah satu produksi Barus.

Apakah Barus bisa bangkit kembali sebagai salah satu kota dan bandar niaga kelas internasional sebagaimana masa lalunya, itu sangat tergantung kepada keseriusan pemerintah pusat, pemerintah setempat serta warga Barus dalam mengelola dan memberdayakan potensi sumber daya alam dan wisatanya yang melimpah itu. Semoga saja!

Aswil Nazir (9 November 2011)

DAFTAR PUSTAKA

  • Eramuslim digest, edisi koleksi no. 9, 2009
  • Akhir Sejarah Perjalanan Barus, KOMPAS, 1 April 2005
  • Barus, pintu masuk Islam pertama di Indonesia, WASPADA ONLINE, 7 Agustus 2011 (http://www.waspada.co.id)
  • Rusli Amran, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Bab I bagian 4, Kota Barus dan Kebudayaan Asal India Selatan, 1981.
  • Claude Guillot, Daniel Perret, Atika Suri Fanani (Translator), Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Barus: Seribu Tahun Yang Lalu, KPG, 2008

Leave a Comment

Filed under History, Travel

Pesona Oslo: dari Museum hingga Ekeberg Restauranten

Mengunjungi kota Oslo menjelang musim dingin mungkin bukan pilihan utama bagi sebagian besar turis. Namun karena kesempatan yang memungkinan untuk berkunjung hanya di akhir musim rontok, perjalanan ini tetap kami lakukan.

Ketika saya dan isteri menginjakkan kaki di bandara internasional Oslo pada siang hari, tgl 5 November lalu untuk kunjungan selama 5 hari atas undangan ibu Esti Andayani, Dubes RI untuk Norway, saya sadar bahwa waktu yang efektif untuk menikmati keindahan kota ini hanyalah 3 hari.

Pemandangan dari teras lantai 3 Wisma Duta. Tampak dalam gambar, Color Line Cruise yang melayani rute Norwegia - Denmark - Jerman tengah mendekati dermaga Bygdøy.

Kota kecil yang memikat

Kesan pertama saya terhadap Oslo adalah indah dan sepi. Ya, tentu saja sepi karena penduduknya relatif sedikit, sekitar 586.000 jiwa saja, sementara penduduk kota Jakarta diperkirakan mendekati angka 10 juta. Walaupun kami berkunjung pada saat bunga dan daun-daun banyak yang sudah berguguran, masih tetap terlihat indahnya pemandangan alam Oslo yang terkenal dengan fjord-nya.

Obyek pertama yang kami kunjungi keesokan harinya adalah beberapa museum yang lokasinya bisa dicapai hanya dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit. Namun karena suhu saat itu cukup dingin (sekitar 3-5 derajat Celcius), kami berangkat ke museum dengan kendaraan ditemani oleh ibu sepuh (ibunda ibu Esti) yang walaupun sudah berusia 83 tahun, masih terlihat enerjik, dan ibu Ani (sekretaris bu Esti).

Setidaknya ada empat museum yang lokasinya berdekatan, yaitu FRAM Museum, Kon-Tiki Museum, Viking Ship Museum dan Norwegian Maritime Museum. Namun kami lebih fokus kepada tiga museum yang pertama.

Seperti halnya negara-negara maju lainnya di Eropa, perhatian pemerintah dan masyarakatnya terhadap pelestarian budaya dan sejarah memang jauh lebih baik dibandingkan negara berkembang seperti Indonesia. Disamping itu tampaknya pemerintah Norwegia paham betul akan keunggulan yang mereka miliki sebagai negara yang memiliki banyak fjord dan sejarah kemaritiman bangsa Viking, leluhur Skandinavia. Jadi bisa dipahami jika keempat museum diatas berorientasi kepada kemaritiman.

Kapal Gjoa seberat 45 ton yang berhasil diboyong dari San Fransisco kembali ke Oslo pada tahun 1972 kini berada di Fram Museum.

Melihat pajangan rakit Kon-Tiki nya Thor Heyerdahl serta kapal Gjoa seberat 45 ton yang digunakan Roald Amundsen untuk berlayar melalui jalur Barat Laut menuju Amerika (San Fransisco) dari 1903 hingga 1906 (selama 3,5 tahun), saya cuma bisa terdiam. Betapa tidak? Demi untuk melestarikan prestasi anak bangsanya, pemerintah Norwegia dengan tidak kenal lelah berupaya agar kapal Gjoa bisa diboyong keluar dari San Fransisco. Upaya ini membuahkan hasil, sehingga Gjoa akhirnya bisa dibawa pulang ke Oslo pada tahun 1972 dengan menggunakan kapal barang Star Billabong. Kapal Gjoa kini dipajang dengan megahnya di FRAM Museum.

Demikian pula dengan Viking Ship Museum, penuh dengan artefak dan temuan kuno lainnya yang berasal dari abad Viking. Museum Viking lainnya juga ada di Roskilde, Denmark, tapi saya belum dapat kesempatan untuk mengunjunginya.

Sekilas tentang Abad Viking

Kita sering mendengar dan melihat di film-film bahwa Viking dikenal sebagai bangsa saudagar, ksatria, dan perompak yng menguasai Eropa dari abad ke-8 hingga ke-11. Inilah periode abad Viking menurut catatan sejarah Skandinavia yang meliputi Denmark, Norwegia, dan Swedia.

Temuan kapal Oseberg yang telah direkonstruksi di Viking Ship Museum, Oslo.

Temuan kapal Oseberg yang telah direkonstruksi di Viking Ship Museum, Oslo.Pada 1904 telah ditemukan kapal panjang Viking, Oseberg, di tenggara daerah Vestfold, Norwegia. Ini adalah penemuan terbesar saat itu. Kapal sepanjang 19,5 meter yang diperkirakan dikubur pada 834 Masehi merupakan salah satu primadona Viking Ship Museum, Oslo setelah mengalami proses rekonstruksi selama 15 minggu yang melelahkan.

Sebelumnya, pada 1880 telah pula ditemukan kapal Viking sepanjang sekitar 24 meter di tempat yang berbeda. Di tempat ini, pada 1928, dikuburkan kembali pula tulang belulang manusia yangditemukan berbarengan dengan penggalian kapal itu. Kapal yang diperkirakan dikubur pada 900 Masehi ini juga bisa kita temui di Viking Ship Museum.

Dua mayat itu, yang satu diyakini berusia 60-an tahun, yang satu lagi berusia 30-an tahun. Dua mayat inilah yang digali pertama kali selama proyek penggalian kapal itu. Pada 1948, dua mayat ini dikubur kembali dengan peti aluminium di dalam peti mati batu seberat lima ton. Harapannya, di kemudian hari, metode keilmuan dapat membuka rahasia dua fosil ini. Peti ini kemudian dibawa kembali ke Viking Ship Museum untuk diteliti lebih jauh. Dugaan pertama, perempuan yang tua adalah Ratu Viking, Aasa, dan yang muda adalah anaknya. Dugaan lainnya, yang muda adalah budak yang mati bersama majikannya. Pada tanggal 10 September 2007, para arkeolog membongkar kembali kuburan Viking untuk mengambil kembali dua mayat yang diduga sebagai ratu dan pangeran– yang dikubur 1.173 tahun silam.

Saat ini Viking Ship Museum memamerkan tiga kapal Viking, yaitu Oseberg, Gokstad, dan Tune, tiga kapal Viking terbaik yang telah ditemukan di Norwegia. Kapal ini dilengkapi dengan warisan berharga berupa kereta, kuda, tekstil yang dipergunakan di abad Viking. Sementara di kuburan Viking tak hanya ditemukan perhiasan, senjata, dan peralatan kapal, tetapi juga peralatan dan barang-barang rumah tangga. Kesemuanya ini bisa dilihat di Viking Ship Museum dengan tiket masuk sebesar 60 Krone (sekitar Rp 90.000)

Vigeland Sculpture Park yang unik

MONOLITH setinggi 14 meter yang menampilkan tumpukan figur 121 manusia.

Salah satu obyek yang kami datangi atas rekomendasi bu Ani adalah Vigeland Park. Menurut literatur, taman ini dibuat oleh pemahat brilian, Gustav Vigeland yang mengawali karyanya dengan mendirikan studio disana dari tahun 1924 hingga meninggal di tahun 1943. Studio ini baru dibuka sebagai museum untuk umum pada tahun 1947. Taman Vigeland seluas 40 acre ini memang unik, karena memamerkan lebih dari 200 patung yang seluruhnya nudis (telanjang) dengan berbagai tema, figur dan posisi. Sebagai orang yang awam dengan seni patung, saya jelas bingung melihatnya. Ada patung lelaki yang memegang banyak bayi dengan tangan dan kakinya, seorang ibu yang menggendong anaknya, pasangan manusia dengan aneka posisi (mungkin ini kurang layak ditonton anak-anak), patung anak yang menampilkan ekspresi marah (dikenal sebagai Angry Baby atau The Little Hot Head) hingga patung Monolith setinggi 14 meter yang menampilkan tumpukan 121 figur manusia. Sayangnya kami datang bukan di musim semi, sehingga tidak bisa menikmati keindahan bunga dan asrinya pepohonan di sekitar taman tersebut.

Patung "Angry Boy" atau "The Little Hot Head" di Vigeland Park

Farewell dinner di bukit Ekeberg

Pada malam terakhir kunjungan di Oslo, bu Esti mengajak kami untuk mencicipi makan malam yang berbeda dengan menu Indonesia yang biasa kami nikmati di Wisma Duta. Dalam perjalanan ke restoran, bu Esti menyodorkan selembar kertas printout komputer untuk saya baca. Isinya hanya beberapa paragraf, hasil searching dari Google tentang latar belakang restoran yang dituju. Namanya Ekebergrestauranten yang tempatnya di atas bukit Ekeberg, sekitar 10 menit berkendaraan dari pusat kota Oslo.

Dalam catatan itu disebutkan bahwa Ekebergrestauranten mulai dibangun tahun 1916 oleh Tiedemanns Tobakksfabrikk, seorang produsen produk tembakau.

Di tahun 1927, arsitek Lars Backer memenangkan kompetisi untuk merancang bangunan Ekebergrestauranten yang baru. Dua tahun setelah kompetisi, pada tahun 1929, bangunan itu selesai direnovasi untuk menyenangkan seluruh penduduk Oslo. Konon rumornya orang-orang Oslo rela berdiri dalam antrian panjang pada tahun 1930-an untuk menikmati minuman al fresco pertama mereka di bukit di atas Bjørvika (tempat berdirinya Opera House Oslo yang baru). Yang menarik, sejumlah arsitek dan pengunjung lain juga berdatangan dari luar Oslo untuk melihat gedung yang unik ini.

Menjelang akhir tahun sembilan puluhan, Restoran Ekeberg ditutup dan sempat terbengkalai, sampai Kristen Ringnes dan Eiendomsspar membeli tempat itu dan melakukan renovasi besar-besaran. Dengan dibantu oleh pakar restoran Bjørn Tore Furset mereka telah menciptakan sebuah bangunan modern yang tetap mempertahankan semua fitur klasiknya. Gedung baru ini terdiri dari beberapa restoran, bar/lounge, fasilitas konferensi dan pertemuan, perjamuan dan suite pernikahan dan beranda dengan pemandangan yang indah di lantai kedua.

Menu yang disuguhkan di restoran dengan spesialisasi seafood ini sebetulnya tidak terlalu banyak. Dan sebagai tamu, saya dan isteri sepenuhnya meminta rekomendasi ibu Esti, apa yang sebaiknya dinikmati sebagai main coursenya. Walaupun daftar menunya terdiri dalam dua bahasa, Norsk dan English, tetap saja membutuhkan waktu untuk memilih. Untungnya dalam acara makan malam itu ada ibu Risa, teman baik isteri saya yang sudah lama berdomisili di Oslo. Beliaulah yang membantu menjelaskan apa yang dimaksud dengan beberapa menu yang kurang kami pahami. Saya akhirnya memutuskan untuk mencicipi Monkfish sebagai menu utama, sesuai dengan anjuran bu Esti.

Bukan karena apa-apa, tapi karena rasa penasaran saja, Ini ikan apa sih, kenapa pake embel-embel “Monk” (rahib)? Penjelasan di daftar menu cuma menyebutkan bahwa Monk Fish ini diramu dengan zuccini brandade, chanterelles (sejenis jamur) dan saus anggur merah. Rasa penasaran itu segera terjawab setelah kunyahan pertama, berupa kekaguman akan empuk dan lezatnya daging ikan dengan rasa yang sulit dijelaskan.

Monkfish, salah satu menu andalan di restoran Ekeberg.

Tetapi tunggu dulu, suapan pertama yang menimbulkan rasa lezat ini dalam beberapa puluh detik disusul oleh rasa lain, sebuah sinyal yang sudah tidak asing bagi saya. Alergi. Ups, ternyata Monkfish ini memberikan reaksi yang nyaris sama dengan reaksi yang saya rasakan kalau memakan udang dan kepiting. Padahal selama ini kalau saya menikmati ikan laut, tidak ada reaksi yang membuat gatal. Untungnya saya selalu siap untuk mengantisipasi situasi seperti ini jika melakukan perjalanan jauh. Tanpa setahu siapapun saya mengeluarkan kapsul Incidal (anti histamin) dari kantong dan menelannya dengan diam-diam. Kalau isteri saya kasih tahu, bisa-bisa saya disuruh stop menikmati ikan lezat yang mahal itu. Soalnya gara-gara makan udang dan kepiting saya sudah tiga kali masuk Emergency Room rumah sakit di tiga kota untuk disuntik anti histamin. Tapi kali ini sungguh saya masih beruntung karena kapsul incidal cukup ampuh mencegah alergi yang timbul, sehingga saya bisa terus menikmati santap malam yang elegan itu.

Foto bersama seusai santap malam di Ekeberg dengan latar belakang kota Oslo.

Sekembalinya dari Oslo, karena masih penasaran, saya coba search di Google dengan

Bentuk asli Monk Fish (Head Fish)

memasukkan keyword Monkfish, ingin tahu jenis apa ikan tersebut. Hasil dari Google membuat saya terkejut, terutama setelah melihat foto ikan tersebut. Ternyata apa yang saya santap di malam itu termasuk jenis ikan monster. Monkfish yang juga disebut Head Fish atau Devilfish banyak ditemui di laut Atlantik utara, Maroko sampai ke Norwegia dan juga di Laut Hitam. Panjangnya bisa mencapai 2 meter dan beratnya bisa mencapai 50 kg. Di Jerman disebut dengan nama Seeteufel (iblis laut). Orang Spanyol menyebutnya Rape, sementara di Italy disebut coda di rospo.Tidak percuma kalau nama Tore Aspas, Chef dari Ekebergrestauranten ini begitu terkenal di Norwegia.

Terbukti bahwa Tore Aspas pada 6 November 2010 (dua hari sebelum kami santap malam di Ekeberg) berada di Jakarta untuk membantu Borobudur Executive Chef, Eduard Betz dalam acara Norwegian Seafood Extravaganza Dinner di Hotel Borobudur. Acara tersebut kabarnya dihadiri oleh Menlu Norwegia dan Marie Pangestu, Menteri Perdagangan Indonesia.

Pemandangan ke arah Opera House dari atas Mini Cruise.Perjalanan singkat kami di Oslo yang ditutup dengan santap malam di restoran Ekeberg memang belum bisa menjelajahi semua pelosok kota tersebut, termasuk areal Holmenkollen, tempat ski yang terbesar dan terpanjang di dunia. Namun demikian, kami berdua telah terpuaskan oleh sejumlah obyek wisata disana walaupun tidak maksimal karena terkendala oleh iklim yang kurang bersahabat, dibawah 5 derajat Celcius.

Semoga masih ada kesempatan lain untuk menjelajahi negeri Skandinavia ini di musim panas.

Ciputat, 20 November 2010.

(bahan rujukan: Wikipedia, Republika, buku panduan museum Viking dan Fram, situs ekebergrestauranten dan www.norway.or.id)

Leave a Comment

Filed under Leisure, Travel

Mengunjungi Museum Kon-Tiki: Perwujudan sebuah angan-angan di masa kecil

Nama Kon-Tiki sudah tidak asing buat saya sejak duduk di bangku kelas 3 SMP di tahun 1970. Saya yang mulai getol membaca buku cerita, dipinjami teman sebuah buku yang menceritakan sebuah ekspedisi ‘heroik’ Kon-Tiki (di tahun 1947 ) mengarungi Samudra Pacific dari Callao, Peru menuju Pulau Tuamotu di Polynesia dengan menggunakan rakit dari kayu balsa. Belakangan saya baru tahu asal-usul nama Kon-Tiki ini yang diambil dari nama dewa matahari suku Inca. Pimpinan ekspedisi, Thor Heyerdahl menyebutkan bahwa dalam legenda Inca ada dewa matahari bernama Con-Tici Viracocha yang merupakan kepala suku tertinggi dari orang-orang berkulit kuning di Peru. Nama asli Viracocha adalah Kon-Tiki atau Illa-Tiki, yang berarti Sun-Fire-Tiki atau Tiki.

Entah kenapa, bagi saya ekspedisi Kon-Tiki itu menimbulkan rasa kagum yang begitu melekat dalam ingatan. Malah terbersit keinginan untuk melihat sendiri, seperti apa bentuknya rakit yang mampu mengarungi Samudra Pasifik sejauh 8000 km tersebut. Namun saya yang bersekolah di kota Padang pada saat itu amat sadar bahwa keinginan itu lebih berupa angan-angan yang hampir mustahil untuk diwujudkan. Maka tinggallah kekaguman dan hasrat itu disimpan dalam hati.

Tapi Kon-Tiki bukanlah satu-satunya hal yang saya khayalkan. Satu angan-angan lagi yang sempat terbawa ke alam mimpi, adalah gua stalaktit dan stalagmit “Luray Cavern” di Shenandoah Valley, Virginia, USA. Semasa di SMP saya termasuk rajin mengirimkan surat atau kartu pos ke “tourism departement” di sejumlah negara bagian Amerika untuk meminta brosur-brosur obyek pariwisata mereka. Awalnya hanya ‘nice try’, syukur-syukur ada jawaban. Tetapi ternyata setelah lewat 2-3 bulan, saya mulai menerima kiriman paket pos berisikan brosur, booklet dan peta dari obyek-obyek pariwisata dari beberapa negara bagian tersebut. Dari sekian banyak leaflet itu, foto-foto tentang Luray Cavern di Virginia yang paling berkesan bagi saya sehingga brosurnya saya simpan secara terpisah. Namun dengan berjalannya waktu, kedua angan-angan diatas akhirnya sirna dan terlupakan.

14 tahun kemudian, di tahun 1984, saya mendapat tugas kantor untuk melakukan internship di kota Gaithersburg, Maryland, USA selama 2 bulan. Biasanya ketika weekend saya bersama beberapa teman dari negara lain berkeliling ke tempat rekreasi di luar kota untuk refreshing. Pada suatu weekend ada teman yang mengusulkan untuk berkunjung ke Virginia yang katanya ada gua stalaktit dan stalagmit. Hati saya langsung berdetak, wah … jangan-jangan ini gua yang pernah saya lihat foto-fotonya tempo dulu. Dan benar saja, begitu melihat brosurnya saya langsung bilang ke teman-teman, ‘ini dia gua yang saya favoritkan semasa kecil dulu’. Saya hampir tidak bisa percaya bahwa pada akhirnya bisa juga melihat dan masuk kedalam gua stalaktit stalagmit yang sudah terlupakan selama 14 tahun lamanya.

Beberapa bulan yang lalu ketika isteri saya diundang untuk mengunjungi Oslo oleh ibu Esti Andayani, seniornya semasa kuliah dulu yang kini menjadi Dubes di Norwegia, saya masih belum punya gambaran, apa saja tempat-tempat menarik yang perlu dikunjungi. Maka saya pun mengakses situs resmi kota Oslo untuk melihat tempat-tempat yang mungkin bisa dikunjungi. Ketika melihat bahwa Kon-Tiki Museum berada di Oslo, saya jadi ‘speechless’ dan tentu saja girang. Betapa tidak, sesuatu yang pernah diangan-angankan semasa kecil, tampaknya akan menjadi kenyataan. Begitulah, akhirnya pada tanggal 6 November 2010 saya berhasil menginjakkan kaki di Kon-Tiki Museum dan tentu saja tidak lupa untuk berfoto di depan rakit fenomenal tersebut.

Saya tidak tahu, apakah dua hal diatas (kunjungan ke Luray Cavern dan Kon-Tiki Museum) ada hubungannya dengan “the universal law of attraction” yang menyebutkan bahwa “manusia adalah magnet, dan setiap detil peristiwa yang dialaminya datang atas daya-tarik (undangan) nya sendiri”.

Yang jelas, saya bersyukur kepada Allah Swt yang telah memperjalankan saya melihat kebesaran-Nya.

Ciputat, 19 November 2010.

Rakit yang terbuat dari kayu balsa

Bagian belakang rakit Kon-tiki


3 Comments

Filed under Leisure, Travel