Sejarah Panjang Kampus UI: dari Pabrik Candu hingga Depok

Asal Mulanya Pabrik Candu di Salemba

Banyak yang tidak tahu bahwa candu yang melemahkan orang, telah lama dilegalisasi di Nusantara oleh pemerintah Hindia Belanda. Semasa Gubernur Jenderal Van Imhoff di tahun 1745 didirikan sebuah yayasan bernama Societeit van den Amphioen Handel. Yayasan ini khusus bergerak dalam perdagangan candu. Amphioen / amfioen dalam bahasa Belanda adalah candu.

Menurut artikel Mimbar Seputro tanggal 20 November 2003, pada akhir abad 19 di Batavia telah dibangun sebuah pabrik candu yang diridhoi pembuatannya oleh gubernemen untuk melayani kebutuhan candu Hindia Belanda. Soalnya monopoli candu memang memasukkan banyak uang  ke kocek gubernemen. Lokasi pabriknya berada di sebuah tanah “landgoed” – atau tanah besar / perkebunan, yang diberi nama pondok Struiswijk.

Menurut sejumlah literatur daerah tersebut dinamai Struiswijk, yang dapat diartikan kawasan Struis karena pemilik pertamanya adalah Abraham Struis, yang beristerikan seorang wanita kaya bernama Cornelia yang juga kerabat salah seorang anggota Raad van Indie dan juga tuan tanah, yaitu Hendrik de Moucheron. Tanah itu diwariskan kepada anaknya, Anna Struis yang menikah dengan Joan van Hoorn, yang belakangan menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Struiswijk kemudian dibeli oleh van Hoorn, dan sempat dijadikan sebagai tempat tinggal seniman Belanda Cornelis de Bruijn waktu melakukan perjalanan ke Indonesia di tahun 1705-1706.

Pada bulan Oktober 1707, van Hoorn membuat kebun percontohan untuk tanaman kopi. Lokasinya kira-kira berada di belakang kampus UI Salemba sekarang. Ia menulis dalam laporannya bahwa “Kopi Betawi adalah hasil kebun percontohan saya…” – rencananya akan dibuat undang-undang bahwa penduduk Hindia Belanda mesti menanam kopi dari kebun van Hoorn. Sayangnya kopi ini ternyata tidak cocok di tanam di Betawi karena kurang dingin hawanya.

Gagal menjadi Tuan Kopi, tanah yang luas itu mulai di oper-alih-milik. Penggalan tanah ini kemudian jatuh kepada Domine Kizenga seorang Pendeta Calvinis yang juga amat kaya raya dan memberi nama tanah barunya sebagai Tanah Padri.

Luas tanah ini makin lama makin menyusut dan pada akhir abad 18, yang disebut Struiswijk adalah Salemba sekarang.

Begitulah kisah awal kawasan Salemba dan di tahun 1901 Pemerintah Hindia Belanda membangun pabrik candu terbesar Indonesia di Struiswijk yang lokasinya di sekitar Fakultas Kedokteran UI sekarang. Lengkap dengan jalur kereta apinya untuk membawa berton-ton candu mentah dari pelabuhan ke pabrik tersebut.

Pabrik candu di Salemba

Pabrik candu di Salemba

Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah kecil “petite histoire” Indonesia, Volume 3, “pabrik candu Salemba ini diserahkan oleh Jepang kepada Pemerintah Indonesia pada bulan September 1945. Disana terdapat 24 ton opium mentah dan 1 ton opium yang sudah diolah (2 drum dari masing-masing 500 liter). Pemerintah kemudian mendirikan Djawatan Tjandoe dan Garam yang dikepalai oleh ambtenaar yang telah bekerja di Opium en Zoetregie zaman Belanda dan zaman Jepang, yakni R. Moekarto Notowidigdo (kelak menjadi Duta Besar RI di Washington tahun 1954 kemudian Menteri Luar Negeri dan Duta Besar di New Delhi).”


R
iwayat Awal Universitas Indonesia

Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Badan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI) didirikan di Jakarta. BPTRI memiliki tiga fakultas, yaitu Kedokteran dan Farmasi, Sastra, dan Hukum. Ketika tentara kolonial Belanda kembali menguasai Jakarta di akhir tahun 1945, BPTRI dipindahkan ke Klaten, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Pada tanggal 21 Juni 1946 NICA mendirikan sebuah Nood Universiteit atau Universitas Sementara di Jakarta.

Pada tanggal 21 Maret 1947, nama Nood Universiteit diganti menjadi Universiteit van Indonesie (UVI). Akhirnya, setelah Jakarta berhasil diambil alih kembali, pemerintah mengembalikan BPTRI ke Jakarta dan menggabungkannya dengan Universiteit van Indonesie, dan memberinya nama baru Universiteit Indonesia (UI).

Ir. R.M.P. Soerachman Tjokroadisoerjo, Presiden ke-1 UI

Ir. R.M.P. Soerachman Tjokroadisoerjo, Presiden ke-1 UI

UI secara resmi memulai kegiatannya pada tanggal 2 Februari 1950 setelah Ir. R.M.P. Soerachman Tjokroadisoerjo diangkat menjadi Presiden pertamanya.  Di masa itu kegiatan Universitas Indonesia tersebar di lima kota, yaitu:

  • UI Jakarta (Fakultas Kedokteran & Lembaga Pendidikan Jasmani, Fakultas Hukum & Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Sastra & Filsafat);
  • UI Bogor (Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan);
  • UI Bandung (Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik & Lembaga Pendidikan Guru Menggambar dan Fakultas Ilmu Pasti & Ilmu Alam);
  • UI Surabaya (Fakultas Kedokteran & Lembaga Kedokteran Gigi); dan
  • UI Makassar (Fakultas Ekonomi).

 

Gedung Geneeskundige Hogeschool di Salemba Raya no. 6 (tahun 1927), cikal bakal FKUI

Gedung Geneeskundige Hogeschool di Salemba Raya no. 6 (tahun 1927), cikal bakal FKUI

Di kemudian hari, tanggal 2 Februari 1950 dijadikan sebagai hari kelahiran Universiteit Indonesia. Pada tahun 1955, Undang-Undang No. 10 tentang pengubahan kata universiteit, universitet, dan universitit disahkan, sehingga sejak itu, Universiteit Indonesia secara resmi diubah namanya menjadi Universitas Indonesia. Kantor Presiden Universiteit Indonesia mula-mula berkedudukan di gedung Fakultas Kedokteran di Jl Salemba Raya no. 6 Jakarta.

Sementara itu bekas gudang candu (madat) dan garam di Salemba  diserahkan oleh Jepang ke pemerintah Indonesia setelah proklamasi pada tahun 1945. Gudang candu tersebut kemudian menjadi milik Departemen Keuangan (yang membawahi Djawatan Tjandoe dan Garam). Pada akhir tahun 1950 kompeks bangunan bekas pabrik candu yang lokasi persisnya di Jalan Salemba Raya 4 diserahkan oleh Pemerintah kepada Universitas Indonesia. Setelah direnovasi yang memakan waktu lebih kurang satu tahun, kantor Presiden Universitas Indonesia dipindahkan ke salah satu ruangan di kompleks gedung di Jalan Salemba Raya 4.

Sampai bulan April 1951 sebagian dari bangunan tersebut masih digunakan Djawatan Garam untuk membuat peti-peti dan karung bagor (Johannes, 1951). Ketika Sumitro Djojohadikusumo dipercaya untuk memangku jabatan sebagai Menteri Keuangan pada masa Kabinet Wilopo, ia berhasil meminta kepada pemerintah agar sebagian dari gedung candu yang belum diserahkan kepada UI, dijadikan gedung Fakultas Ekonomi. Permintaan Soemitro dikabulkan, sehingga sejak saat itu Fakultas Ekonomi mempunyai gedung, ruang kuliah serta ruang perpustakaan sendiri. (Cahyono Heru, dkk, 2000: 186). Sebelum itu tempat kuliah mahasiswa FEUI tersebar di beberapa tempat seperti di aula Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Jl. Tambak no. 2, di Gedung Adhuc Stat, J1. Taman Surapati No. 2 (sekarang gedung Bappenas), dan di Gedung Kesenian Pasar Baru.

Kampus UI Salemba 4 di sebelah utara berbatasan dengan Gang Kenari. Disana ada stasiun Kenari yang merupakan simpangan jalan kereta api yang memotong dan Cikini ke Salemba. Sekarang bekas stasiun itu menjadi Pasar Kenari. Di sebelah selatan berbatasan dengan Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo. Sementara di sebelah timur berbatasan dengan Jl. Salemba Raya dan di sebelah barat berbatasan dengan sungai Ciliwung. Komplek Salemba 6 menjadi satu kesatuan dengan Rumah Sakit Umum Pusat.

 

Universitas Indonesia di Ibukota Negara

Pada dasa warsa pertama, Universitas Indonesia tumbuh dan berkembang sangat cepat. Tahun 1954 Universitas Indonesia di Surabaya menjadi cikal bakal Universitas Airlangga, sedangkan UI di Makassar tumbuh menjadi Universitas Hasanuddin pada tahun 1956. Tiga tahun kemudian (tahun 1959) UI di Bandung berubah statusnya menjadi Institut Teknologi Bandung. Empat tahun kemudian (tahun 1963) UI di Bogor berkembang menjadi Institut Pertanian Bogor. Sejak tahun 1963 itu pulalah semua kegiatan Universitas Indonesia dijalankan di Ibukota Negara.

Pada tahun 1964 terjadi beberapa perubahan dan pembangunan di Salemba 4 dan Salemba 6. Di tahun 1964 tersebut UI membuka Fakultas Teknik (FTUI) sementara gedung dan fasilitas perkuliahan sudah sangat tidak memadai.  Kebetulan di salah satu areal di kompleks Salemba 4 ada tanah milik perusahaan Djawatan Kereta Api yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perkuliahan FTUI. Rektor UI dr. Sjarif Thajeb lalu mengurus pembebasan tanahnya dan menginstruksikan Ir. Roosseno, Ir. Sutami dan Ir. Slamet Bratanata, yang masing-masing bertindak selaku Dekan, Pembantu Dekan I bidang Pendidikan dan Pembantu Dekan II bidang Administrasi dan Keuangan FTUI untuk membangun gedung Fakultas Teknik di lokasi tersebut. Gedung Fakultas Teknik itu terletak di belakang kantor Pegadaian, berbatasan dengan Pasar Kenari.

Ke arah barat, kemudian dibangun percetakan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik dan laboratorium mesin yang merupakan bengkel Fakultas Teknik. Sementara tanah di sebelah selatannya, di bagian belakang dibebaskan pada masa Prof. Dr. Soemantri dan dilaksanakan oleh Drs. Mustain Zaini dan Ir. Diyan Sigit. Pembangunan FTUI, selain didukung oleh proyek Ir. Rooseno, juga dibantu oleh Ir. Sutami melalui Hutama Karya.

Di samping itu Fakultas Ekonomi juga membangun perpustakaan dan di Fakultas Teknik dibangun gedung Pascasarjana Studi Laser dan Opto-elektronika yang merupakan hasil kerjasama antara UI dan pemerintah Jepang. Pembangunan terus berjalan, pada tahun 1970-an di bagian barat – Fakultas Ekonomi dibangun gedung SEAMEO, yang merupakan gedung tropical medicine untuk Fakultas Kedokteran. Untuk keperluan penerbitan juga dibangun UI Press, yang merupakan sumbangan dari World Bank. Sumbangan dari World Bank untuk UI Press tidak hanya pembangunan gedung saja melainkan dilengkapi dengan sarananya (peralatan cetak).

Pembangunan di bagian depan Kampus UI Salemba 4, yang berbatasan dengan jalan masuk, dibangun Mesjid UI “Arief Rahman Hakim”, dan gedung Rektorat. Sementara di belakang Rektorat juga dibangun MIPA. Di Salemba 6, dibangun gedung untuk bagian Patologi, yang berbatasan dengan Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo.

Awalnya Mesjid Arief Rahman akan dibangun di “dalam” yaitu di halaman belakang Kampus UI Salemba, di gedung UI Press (sekarang). Mesjid UI, Arif Rahman Hakim adalah karya Ir. Ali Basyah yang memenangkan lomba desain mesjid yang diadakan oleh Ir. Diyan Sigit, selaku pimpinan proyek pembangunan Kampus UI Salemba, yang dibantu oleh Dipl. Ing. Suyudi.

Selain Salemba 4 dan Salemba 6, UI masih memiliki lahan di Jl. Pegangsaan Timur. Lahan tersebut digunakan untuk asrama mahasiswa, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Bagian Mikrobiologi FKUI. Sementara di seberang gedung bioskop Megaria, bekas kediaman Menteri Agama, H. Alamsyah Ratuprawiranegara, adalah tanah milik UI yang semula dihuni oleh pengajar-pengajar UI seperti Soetjipto, Kolibun, Enoch Markum dan Tjoe Siem. Kemudian tanah tersebut di-tukarguling (ruilslag) dengan 14 rumah untuk dosen di Tanah Tinggi, dan (7 rumah) di Tebet Barat, yang antara lain dihuni oleh Moela Marboen, dan Pandan Guritno. Sementara tanah UI yang lain yang juga ditukar guling adalah Gedung Perpustakaan Sosial Politik di Jl. Merdeka Selatan, ditukar dengan perumahan dosen yang ada di J1. Rawamangun Muka, yang antara lain didiami oleh Mundardjito, dan Royani pada tahun 1974.

Ketika Fakultas Sastra pindah dari Kampus Diponegoro ke Kampus Rawamangun pada tahun 1960, kampus itu antara lain telah dilengkapi dengan komplek perumahan dosen dan asrama mahasiswa yang dikenal dengan Daksinapati. Daksinapati adalah asrama mahasiswa pertama yang dibangun oleh pemerintah. Asrama tersebut dibangun pada akhir tahun 1952 atau awal tahun 1953. Kompleks Perumahan Dosen yang mula-mula dibangun yaitu yang berada di Jl. Rawamangun Muka, yang antara lain dihuni oleh Drs. Mustain Zaini, dr. Roekmono, Prof. Dr Harsja W, Bachtiar, Drs. Marsudi. Kemudian dibangun rumah flat yang juga berada di Jl. Rawamangun Muka, di samping asrama Daksinapati, yang antara lain ditempati oleh Koentjaraningrat, Leirissa, dan bahkan Fuad Hassan juga pernah tinggal di Flat tersebut.  Kompleks dosen yang lain berada di kampus UI Rawamangun, terletak di depan kampus IKIP. Kondisi kampus UI Rawamangun di tahun 1960-an masih tergolong sepi, belum ada angkutan umum yang menuju arah Rawamangun, yang ada hanyalah beca. Tidak jarang para mahasiswa datang ke kampus dengan cara menumpang atau istilah yang akrab di telinga pada waktu itu adalah liften pada mereka yang mempunyai mobil, tak terkecuali kendaraan dosen pun di tumpanginya.

Kampus Rawamangun di sebelah utara berbatasan dengan di Jl. Pemuda, sebelah selatan berbatasan dengan Jl. Rawamangun, di sebelah timur dibatasi oleh pemakaman umum, dan di sebelah baratnya berbatasan dengan Jl. Raya By Pass. Antara By Pass dan UI terdapat tanah UI dan pura. Pada tahun 1964 dibangun dua rumah dinas Rektor yaitu Rektor Universitas Indonesia dan Rektor IKIP. Keberadaan IKIP di Rawamangun, karena IKIP pada saat itu masih bagian dari UI. Kampus Fakultas Sastra UI berhadapan dengan IKIP.

Dalam perkembangannya kemudian dibangun FISIP, Fakultas Hukum dan Fakultas Psikologi. Pembangunan Fakultas Psikologi di tangani oleh Ir. Tato Slamet, baik desain maupun pekerjaannya.

Sampai tahun 1987 semua fakultas yang bernaung di bawah UI tersebar di tiga kampus: Kampus Salemba (FK, FE, FKG, FMIPA, FT, Fasilkom, dan FIK), Kampus Pegangsaan Timur (FKM), dan Kampus Rawamangun (FH, FS, FPsi, FISIP).

 

Pencarian Lahan Selama Dua Belas Tahun (1962 – 1974)

Presiden Soekarno (Bung Karno), salah seorang Proklamator dan Presiden Pertama Negara Republik Indonesia, merasa turut bertanggung jawab terhadap perkembangan Universitas Indonesia. Sebagai perguruan tinggi penyandang nama Bangsa, Universitas Indonesia sudah sewajibnya peka dan tanggap terhadap tuntutan masyarakat dengan cara menyebarkan dan menerapkan hasil ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dikembangkannya. UI juga dituntut untuk melaksanakan pendidikan sebaik-baiknya dengan jalan memberikan kesempatan menuntut ilmu yang seluas-luasnya kepada putra-putri Indonesia.
Prof. Mr. Dr. Soepomo, Presiden ke-2 UI

Prof. Mr. Dr. Soepomo,
Presiden ke-2 UI

Jika ditelusuri lebih jauh, sesungguhnya gagasan untuk membangun kampus Universitas Indonesia telah dikemukakan oleh Prof. Mr. Dr. R. Soepomo, Presiden ke-2 UI (1951-1954) dalam Pidato Dies Natalis UI yang diadakan di Fakultas Teknik UI, Bandung pada hari Sabtu tanggal 2 Februari 1952. Ia sangat merasakan kekurangan ruang kuliah di UI Jakarta, sehingga gedung-gedung Perhimpunan Sekolah Kristen (Jalan Diponegoro), Logegebouw Adhuc Stat (sekarang gedung BAPPENAS) di Taman Suropati, dan Gedung Kesenian (Pasar Baru) terpaksa digunakan untuk tempai perkuliahan. Selanjutnya ia mengemukakan, bahwa;

Untuk memperbaiki keadaan ini maka sebagian dari pabrik tjandu telah diubah mendjadi ruangan-ruangan kuliah, tempat penjelidikan kriminologi dan laboratorium Kimia fakultet Kedokteran di Djakarta. Ruangan-ruangan pada paberik tjandu ini hanja sebagai suatu djalan sementara untuk mengatasi kesukaran-kesukaran tersebut diatas. Kini telah dipertimbangkan sebuah rentjana untuk membangun suatu komplex gedung-gedung Universitet dengan perkampungan mahasiswa. Hendak dibangun gedung-gedung fakultet bersama rumah sakit akademis, perkampungan mahasiswa, perumahan untuk guru-guru besar dan lain-lain pegawai. Rentjana ini sekarang sedang diusahakan. Kami berharap dapat memadjukan rentjana ini selengkap-lengkapnja dalam beberapa tahun kepada Pemerintah. Te1ah ditaksir bahwa pendirian gedung-gedung tersebut akan memakan waktu 10 atau 15 tahun.” (Soepomo, 1952; 29.30).

Ketika Kolonel dr. Sjarif Thajeb menjadi Rektor ke-5 UI, Presiden Soekarno sudah memprediksi pengembangan Kampus UI, dan telah memikirkan rencana memindahkan Kampus UI Salemba dan Rawamangun ke lahan yang jauh lebih luas dan memenuhi segala persyaratan untuk membangun kampus universitas yang dapat dibanggakan. Pada waktu itu Bung Karno telah melihat bahwa untuk jangka panjang, Kampus UI di Salemba dan Rawamangun akan dirasakan sangat sempit dan sukar untuk dikembangkan, mengingat Kampus Salemba letaknya di tengah kota sehingga sukar dan mahal untuk dikembangkan, sedangkan Kampus Rawamangun merupakan daerah banjir.

Pemikiran untuk mencari lokasi yang lebih luas dimulai sejak dr. Sjarif Thayeb memimpin Universitas Indonesia pada tahun 1962. Pencarian lahan di lokasi yang layak untuk membangun Kampus UI terus dilanjutkan oleh Prof. Dr. Ir. R.M. Soemantri Brodjonegoro yang menjabat Rektor ke-6 UI dan oleh Prof. Dr. Mahar Mardjono, Rektor ke-7 UI. Ada delapan lahan di DKI Jakarta Raya dan Propinsi Jawa Barat yang disurvei kelayakannya untuk menjadi Kampus UI yang dapat dibanggakan.  Kedelapan lokasi tersebut adalah:

1)     CIPUTAT (Kabupaten Tangerang, Propinsi Jawa Barat, sekarang Propinsi Banten).

Pada tahun 1964 Bung Karno menunjuk daerah Ciputat (di sekitar Situ Gintung) untuk pembangunan Kampus UI dengan luas lahan kurang lebih 200 hektare. Penunjukan Ciputat ditetapkan setelah Bung Karno mengadakan perjalanan keliling Jakarta dengan menggunakan helikopter. Dalam perjalanannya ia sempat membuat foto Ciputat dari udara, yang kemudian pada tahun 1965 ditindaklanjuti dengan mengadakan aero survey di daerah tersebut.

Bung Karno pada Dies Natalis UI ke-XIV tahun 1964 di Tjiputat

Bung Karno pada Dies Natalis UI ke-XIV tahun 1964 di Tjiputat (foto: arsip UI)

 

Dari 200 hektare tanah di Ciputat yang sedianya direncanakan untuk Kampus UI itu, ternyata baru lebih kurang 8,5 hektare yang dapat dibebaskan, namun dalam kenyataannya hanya tersedia kurang lebih 6 hektare. Penyelesaian pernbebasan tanah di Kabupaten Tangerang, dilakukan oleh Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan, Drs. Marsudi Djojodipuro (FE-UI). Sementara pengamanan lahan diserahkan kepada Drs. Mustain Zaini (FE-UI).

 

Prasasti Tjiputat yang telah dipugar pada tahun 2003

Prasasti Tjiputat yang telah dipugar pada tahun 2003

Pada tanggal 28 September 1965, Bung Karno meletakkan batu pertama dan menandatangani prasasti pembangunan Kampus UI Ciputat di atas lahan seluas sekitar 6 hektare tersebut. Diatas prasasti itu terpahat tulisan “PJM Presiden Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Hadji Dr. Ir. Soekarno telah meletakkan batu pertama Kota Universitas Indonesia di Tjiputat”.

Penandatanganan prasasti tersebut bersamaan dengan penyelenggaraan  Wisuda sarjana dan penerimaan mahasiswa baru UI. Namun pembangunan kampus UI Ciputat tidak pernah terlaksana, karena dua hari setelah acara peletakan batu pertama tersebut, terjadilah peristiwa Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI). Sementara itu, mengingat sisa lahannya sangat terbatas, Soemantri Brodjonegoro merasa perlu untuk memikirkan kembali lokasi yang memadai untuk pembangunan Kampus UI. Lahan yang awalnya diperuntukkan bagi kampus Ul Ciputat kini telah menjadi Kompleks Perumahan Dosen UI.

2)     KALIBATA (DKI Jakarta Raya)

Pada awal tahun 1970-an Soemantri Brodjonegoro meminta agar Kampus UI di Salemba dan Rawamangun segera dipindahkan. Permintaan ini disambut baik oleh Diyan Sigit yang ketika itu tengah melihat dan menjajaki kemungkinan dibangunnya Kampus UI di bekas kebun karet milik pabrik sepatu PT Bata yang berlokasi di belakang Taman Makam Pahlawan. Lokasi ini menjadi pertimbangan karena derahnya luas, sarana transportasi umum mudah, karena lokasinya tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Kalibata. Hasil penjajakan itu kemudian disampaikan kepada pimpinan UI, yang langsung menyetujui dan membicarakan dengan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tentang kemungkinan membangun kampus baru Universitas Indonesia di atas lahan itu. Persetujuan lisan dari Gubernur DKI Jakarta direalisasikan dalam bentuk pengalokasian tanah seluas 120 hektare untuk UI. Namun lokasi kalibata tidak menjadi lokasi pilihan karena ada pemikiran baru dari Pimpinan Universitas Indonesia untuk menjajaki lokasi lain.

3)     PASAR MINGGU (DKI Jakarta Raya)

Langkah selanjutnya yang ditempuh adalah melakukan penjajakan kedaerah Pasar Minggu, di belakang Kebon Binatang Ragunan. Daerah yang disurvai merupakan daerah hijau yang luas, dekat Kali Ciliwung, dan tidak jauh dari stasiun kereta api. Pembangunan Kampus UI di lahan itu akan sangat menguntungkan. Di sebelah Timur, lahan itu berbatasan dengan Kali Ciliwung, di sebelah Barat berbatasan dengan Kebon Binatang, di sebelah Utara dan Selatan terbentang lahan hijau yang kosong. Dengan demikian pengembangan pembangunan Kampus UI ke arah Utara dan Selatan masih sangat dimungkinkan.

Bang Ali (sapaan akrab untuk Gubernur DKI Jaya, Ali Sadikin) menyetujui daerah Ragunan (Pasar Minggu) dijadikan kampus UI. Ia kemudian mengalokasikan tanah untuk pembangunan Kampus UI kurang lebih seluas 200 hektare.

Tanggal 15 Januari 1974 peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari) pecah. Di akhir bulan Januari 1974, Prof. Dr. Ali Wardhana (Menteri Keuangan, Kabinet Pembangunan I-III yang merangkap Dekan FE-UI) mengundang Prof. Mahar Mardjono (yang diangkat pada tanggal 5 Desember 1973 sebagai Rektor ke-7 UI menggantikan Prof. Soemantri Brodjonegoro) ke Ruang Dekan FE-UI di Salemba Raya 4, Jakarta. Dalam pembicaraan itu, Prof. Ali Wardhana menyampaikan pesan khusus dari pemerintah yang intinya UI harus membangun kampus baru di luar Jakarta. Prof. Dr. Widjojo Nitisastro, selaku Menteri Negara Ekonomi, Keuangan, dan Industri / Ketua BAPPENAS Kabinet Pembangunan pada saat itu diminta untuk merencanakan kepindahan tersebut dengan alasan keberadaan UI di Salemba sangat mengganggu jalannya pemerintahan. Ia juga mengharapkan agar kampus baru UI dapat dibangan di atas lahan seluas lebih kurang 600 ha sehingga kompleks perguruan tinggi itu dapat berbentuk suatu University Town, seperti yang telah dikemukakan Prof. Soepomo 23 tahun yang lalu. Selaku pimpinan UI, Prof. Mahar Mardjono menerima tawaran itu dengan satu pertanyaan: Dimana mendapatkan lahan luas yang memadai untuk digunakan sebagai kampus Ul?

Perjuangan Prof. Mahar Mardjono untuk mendapatkan lahan yang cocok untuk dijadikan kampus baru sangat berat dan panjang. Prof. Mahar Mardjono bersama dengan Drs. Mustain Zaini (Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan), Ir. Diyan Sigit, dan Ir. Tato Slamet mulai mencari lahan untuk kampus UI yang baru. Mencari lahan yang diidamkan ternyata tidaklah mudah, mereka kadangkala harus berjalan kaki untuk mencari lahan yang cocok. Lokasi berikutnya yang dijajaki adalah Semplak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

4)     SEMPLAK (Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

Lahan yang ditawarkan Pemerintah Daerah (Pemda) Jawa Barat adalah Semplak, tetapi Pimpinan UI menolaknya. Meskipun di daerah lokasi terdapat perkebunan karet, namun sarana yang ada tidak menunjang.

5)     DARMAGA (Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

Tawaran berikutnya adalah Darmaga (Bogor), yang menyarankan agar lokasi lahan Kampus UI digabung dengan lahan Kampus Institut Pertanian Bogor. UI sukar untuk menerima tawaran tersebut, karena Universitas penyandang nama Bangsa ini seyogyanya berdiri sendiri dan berkedudukan di wilayah Ibu Kota Negara.

6)     RUMPIN (Kabupaten Tangerang, Propinsi Jawa Barat sekarang Propinsi Banten)

Sebagai gantinya ditawarkan daerah ke arah Tangerang, yaitu Rumpin, karena lokasi itu rawan banjir dan sulit pencapaiannya, maka pimpinan UI menolak.

7)     CIBUBUR (DKI Jakarta Raya)

PEMDA DKI menawarkan daerah seluas kurang lebih 315 ha di Cibubur yang meliputi Bumi Perkemahan Pramuka, Kompleks Angkatan Darat, dan daerah bekas Lapangan Tembak. Namun Pimpinan UI tidak dapat menerima daerah itu karena lokasinya tidak memenuhi kriteria untuk pembangunan Kampus UI. Selain jarak dengan Bandara Udara Halim Perdanakusuma dekat, sehingga kemungkinan besar alat penelitian yang canggih dan peka akan terganggu (sound barrier), juga transportasi umum menuju ke lokasi kampus sulit.

8)     GUNUNG PUTRI (Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat)

Tawaran selanjutnya adalah Gunung Putri. Namun daerah ini sudah direncanakan untuk dikembangkan sebagai daerah industri. Dengan demikian persiapan ke arah itu sudah dilakukan seperti akan dibangun jalan bebas hambatan (highway). Kendala lain yang mengakibatkan pihak UI menolak tawaran itu adalah polusi udara dari Pabrik Semen Cibinong.

 

PILIHAN TERAKHIR:  DEPOK,  LAHAN  KAMPUS  DI  DUA PROPINSI

rektorat depok

Delapan lahan yang dijajaki untuk pembangunan Kampus UI selama dua belas tahun baik di Ibu Kota maupun di propinsi Jawa Barat tidak cocok untuk lokasi Kampus UI yang diidamkan. Pada awal tahun 1974 Diyan Sigit melakukan survei ke arah Selatan Ibu Kota, dengan alasan bahwa harga tanah di daerah Depok, Cibinong, dan Bogor masih relatif lebih murah jika dibandingkan dengan harga tanah di daerah DKI Jaya. Selain itu, penduduk di daerah selatan Ibu Kota tidak begitu padat, transportasi mudah, dan banyak perkebunan yang hak gunanya (HGU) hampir berakhir.

Lahan yang disurvei ini merupakan lokasi ke-9 dalam pencarian tanah untuk membangun Kampus UI. Lokasi lahan seluas lebih kurang 360 ha ini mencakup dua propinsi, yaitu tanah di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jaga Karsa (Kota Madya Jakarta Selatan, DKI Jaya) dan tanah yang berlokasi di tiga desa (Pondok Cina, Kukusan, dan Beji) yang berbatasan dengan Kelurahan Srengseng Sawah, dan secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Depok (Propinsi Jawa Barat). Lahan yang berlokasi di perbatasan dua propinsi ini, memenuhi segala persyaratan untuk membangun Kampus UI, karena selain sebagian lahannya masih terletak di wilayah Daerah Ibu Kota Jakarta Raya, juga mempunyai sejumlah potensi penunjang bagi pengembangan tridarma pendidikan tinggi.

Penjajakan awal yang dilakukan Diyan Sigit, adalah memasuki daerah tersebut melalui Stasiun Pondok Cina, ia melakukan serangkaian pengamatan termasuk keberadaan mata air. Dalam perjalanannya itu ia menemukan situ (sekarang menjadi danau dekat Gedung Balairung). Diyan Sigit terkesan dengan daerah yang ditemukannya dan kemudian ia membuat foto udara daerah yang ditemukannya. Daerah itu terekam sebagai daerah perkampungan, banyak pohon buah-buahan), perkebunan karet yang luas, dan ada rumah kuno milik penguasa perkebunan tersebut.

Lahan seluas 360 hektare ini memenuhi segala persyaratan untuk membangun dan mengembangkan Kampus UI, karena: (a) lahannya cukup luas; (b) sarana transportasi menuju lokasi kampus relatif mudah dengan kendaraan umum, ada stasiun kereta api (Stasiun Pondok Cina, kemudian dibangun Stasiun UI) yang dapat dicapai baik dari Jakarta Kota, Tanah Abang, Bekasi, maupun dari Bogor; (c) sarana air cukup baik; (d) jarak Salemba-Depok kurang lebih hanya 23 km, sehingga daerah ini masih dimungkinkan menjadi kota satelit Jakarta; (e) tidak ada masalah dengan lapangan terbang Halim Perdanakusuma dalam arti bahwa sound barrier tidak akan mengganggu alat peralatan penelitian yang canggih dan peka; dan (f) tanah tidak rata, ada kontur, dengan demikian jika ditangani dengan baik, tidak mungkin terancam banjir, bahkan dapat berfungsi untuk menciptakan suasana kampus yang segar, nyaman, indah dan kalau dibuat bendungan (Dam) akan rnerupakan danau-danau buatan yang dapat berfungsi sebagai tenaga air untuk listrik, dan rekreasi. Diyan Sigit kemudian menyampaikan dan mengusulkan hasil penjajakannya itu kepada Prof. Mahar Mardjono agar daerah tersebut dijadikan Kampus UI. Usul Diyan Sigit diterima baik oleh Prof. Mahar Mardjono dan kemudian Pimpinan Universitas menetapkan agar UI segera menjajaki kemungkinan untuk membangun Kampus UI di daerah perbatasan DKI Jaya dan Propinsi Jawa Barat itu.

Setelah menetapkan untuk membangun kampus di lahan tersebut diatas, UI segera menghubungi Gubernur DKI Jaya, Ali Sadikin dan Gubernur Jawa Barat, Solihin G.P. Ali Sadikin tidak berkeberatan dan membantu sepenuhnya untuk melepas sebagian tanahnya guna pembangunan kampus UI. Namun Solihin G.P. belum dapat memutuskannya sehingga terjadi beberapa kali pembicaraan yang cukup alot dengan melibatkan wakil-wakil dari Direktorat Jenderal Cipta Karya (Departemen Pekerjaan Umum), Pemerintah Daerah Bogor, Bappeda Jawa Barat dan Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Barat. Negosiasi yang dilakukan berbulan-bulan itu tidak mencapai kesepakatan sehingga permasalahannya disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri dan Ketua Bappenas kepada Presiden Soeharto.

Sebagai realisasinya, keluarlah Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 187 tahun 1974; Nomor: Kep-1390/MK/IV/9/1974; Nomor: 0233/P/1974 tentang Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Kampus Baru Universitas Indonesia yang dikeluarkan pada tanggal 23 September 1974.

Namun lahan seluas 360 ha bagi rencana pembangunan kampus tidak dapat dipenuhi, karena pihak Jawa Barat telah memberikan ijin kepada Pertamina untuk menanam pipa gas di bagian selatan desa-desa Kukusan dan Pondok Cina, sehingga lahan yang tersisa hanya kurang lebih 315 hektare.

Proses selanjutnya seperti pembebasan lahan, perencanaan, perancangan hingga pembangunan fisik kampus baru UI di Depok memakan waktu beberapa tahun sebelum akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 5 September 1987 ketika Rektor UI dijabat oleh Prof. Dr. Sujudi.

Foto bersama setelah Peresmian Kampus UI Depok, 5 September 1987. Tampak dalam foto dari kiri ke kanan, Prof. dr. Mahar Mardjono, Prof. Dr. Fuad Hasan, Letjen (Purn) dr. Sjarif Thajeb Ph.D,  Rektor UI Prof. Dr. Sujudi.

Foto bersama setelah Peresmian Kampus UI Depok, 5 September 1987. Tampak dalam foto dari kiri ke kanan, Prof. dr. Mahar Mardjono, Prof. Dr. Fuad Hasan, Letjen (Purn) dr. Sjarif Thajeb Ph.D, Rektor UI Prof. Dr. Sujudi. (Dok. foto pribadi Desiree Z.)

Dalam pidatonya, Prof. Dr. Sujudi menyatakan hingga tahun 1984, UI menempati kampus yang luasnya 15 hektar, terletak di Salemba, Pegangsaan Timur dan Rawamangun. Saat itu sudah ada 12 Fakultas dengan 48 program studi dan 7 program diploma. Luas kampus Depok 315 hektar dimana sebagian wilayah kampus berada di wilayah Jakarta (75 hektar). Bangunan untuk gedung-gedung berada di wilayah Depok. Untuk mencitrakan identitas ke-indonesia-an, bentuk bangunan tiap-tiap fakultas disesuaikan dengan arsitektur rumah-rumah di seluruh Nusantara, seperti rumah penduduk asli Kalimantan, Baduy/Kanekes, Jawa Barat, Jawa Tengah dan lain-lain. Lahan kampus seluas 138 hektar diperuntukkan bagi hutan kota untuk penghijauan dan penghasil udara yang bersih. Gubernur Jawa Barat Yogie S. Memet yang juga mewakili Gubernur DKI Jakarta dalam pidatonya menyatakan Daerah Botabek di Jawa Barat dipersiapkan untuk menjadi penyangga perkembangan pembangunan yang terjadi di Ibukota, termasuk pembangunan kampus baru UI di Depok. Untuk mengantisipasinya telah ada kerjasama antara pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi DKI Jakarta. Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan mewakili warga UI menyatakan terima kasih secara khusus kepada Presiden RI dengan peresmian Kampus Baru UI Depok.

(disusun oleh Aswil Nazir, 2 Februari 2014)

 

Sumber informasi:

  1. Buku “Kampus Universitas Indonesia”
  2. Wawancara Ir. Diyan Sigit (23 Des 2013, 6 Jan 2014, 14 Jan 2014)
  3. http://mimbarsaputro.wordpress.com/tag/salemba/
  4. http://tentang-sejarah.blogspot.com/2011/03/potret-sejarah-universitas-indonesia.html
  5. Milis Sahabat Museum 28 Februari 2007 topik: Gouverneur Generaal van Netherlandsch Indie Part XVI oleh Hatmanto SN
  6. http://staff.blog.ui.ac.id/rani/2011/09/14/melihat-kembali-peresmian-kampus-depok/
  7. Sejarah kecil “petite histoire” Indonesia, Volume 3, 2004, Rosihan Anwar
  8. Foto-foto dari arsip Rektorat UI dan dokumentasi pribadi.

3 Comments

Filed under History

Nostalgia Kegiatan Mahasiswa Non-Politis di FTUI 1978-1980

Bernostalgia seputar kegiatan kemahasiswaan ketika kuliah memang selalu menarik bagi saya. Menarik karena di masa-masa itu kreasi anak muda umumnya bisa tampil secara apa adanya tanpa adanya motif atau agenda lainnya di belakang.

Awal keterlibatan saya dalam organisasi kemahasiswaan secara formal dimulai dari IML (Ikatan Mahasiswa Listrik) periode 1977- 1978, mendampingi sang ketua, Nanang Djoewari dimana saya dipercaya sebagai Sekretaris Umum IML.

Entah gara-gara jam kuliah yang banyak bolong-bolongnya, atau jarak antara tempat tinggal saya dan kampus hanya sejauh 5 menit jalan kaki, saya sehari-hari praktis lebih banyak nongkrong di kampus. Kebetulan pada jaman tersebut cukup banyak teman-teman yang ngendon di kampus, nginap di ruang senat atau ruang BPM, sehingga kampus menjadi rumah kedua bagi mereka.

Jadi lumrah saja  jika di malam hari sering terjadi diskusi ringan sesama mahasiswa aktivis di kampus Salemba dengan topik A sampai Z. Terkadang dari diskusi semacam inilah keluar ide-ide bantal kreatif (istilah yang diberikan kepada ide yang timbul ketika seseorang sedang tidur-tiduran beralaskan bantal).

Ide bantal yang kami jalankan dan ternyata diteruskan oleh pengurus IML periode berikutnya setidaknya ada dua kegiatan.

Yang pertama adalah penerbitan buletin mahasiswa Media Elektro. Mengingat betapa pentingnya peran media komunikasi bagi kalangan mahasiswa, IML memprakarsai terbitnya buletin yang dinamai Media Elektro setebal 20 halaman dengan bentuk stensilan.

Membidani dan menjamin kontinuitas penerbitan buletin amatiran ini ternyata tidak mudah. Untungnya saya sudah pernah menangani buletin sejenis ini ketika di bangku SMA, jadi setidaknya cukup paham mengenai tantangan apa yang bakal dihadapi.

Saya bersama 2 rekan lainnya saat itu dikenal sebagai trio A (Aswil – Aswin – Adil) diminta untuk mengelola penerbitan buletin Media Elektro selama kepengurusan IML nya Nanang dan kami memberikan komitmen bahwa buletin itu akan terbit minimal setiap 2 bulan. Nyatanya kami berhasil menerbitkan buletin lebih dari 6 kali dalam kurun waktu 1 tahun.

Itu semua bisa terlaksana dengan kerja keras yang terus menerus. Bayangkan, penanganan buletin kami lakukan secara maraton. Sejak dari mencari dana, mengumpulkan naskah, menyusunnya, mengetik naskah ke master kertas stensil, melakukan koreksi, memproduksi dgn memutar mesin stensil, menjilid dan mendistribusikannya, kami lakukan bertiga. Kalau dipikir, kekompakan kami dalam masa-masa tersebut sungguh indah, padahal semuanya dilakukan tanpa ada imbalan sama sekali.

Masalah utama yang sering dihadapi adalah kendala dana (ini memang  khasnya mahasiswa), sehingga kami harus memeras otak untuk menyiasatinya supaya buletin ME bisa tetap tampil keren. Kebetulan orang tua sdr. Adil Rostian (almarhum) memiliki percetakan (yang mencetak majalah Vista dan Dewi), sehingga kami menumpang cetak gratis untuk cover buletin Media Elektro yang disingkat ME. Sementara untuk mengetik naskah, kami lakukan dengan dua mesin tik IBM selectric (satu mesin tik milik FKUI dan satu lagi mesin tik IBM bekas yang dibeli oleh IML). Jangan salah, pada masa itu memiliki mesin tik IBM selectric ini sudah hebat. Persoalan naskah juga tidak kalah krusialnya. Saya harus bergerilya “mengemis” kesediaan teman-teman yang diperkirakan punya hobi menulis untuk memberikan kontribusinya.

Personal approach memegang peran penting disini. Disini saya menemui kenyataan bahwa sesungguhnya banyak mahasiswa elektro FTUI yang punya bakat dalam menulis. Terkadang saya menodong teman-teman dengan menyodorkan tulisan dari majalah Popular Electronics untuk diterjemahkan. Nanti saya hanya tinggal mengetik ulang naskah terjemahannya ke sheet stensil.

 

Saya masih ingat beberapa nama yang agak rutin memberikan kontribusi tulisannya untuk ME seperti rekan Shariev (berupa cerpen remaja), Toto S (dengan nama samaran Bagong Sakuple), Nasir Advani (artikel terjemahan), Idaman Winahyusidi (berupa artikel elektronik praktis).

Penerbitan buletin ME memang masih dilanjutkan oleh kepengurusan IME (Ikatan Mahasiswa Elektro sebagai pengganti nama Ikatan Mahasiswa Listrik) tahun-tahun berikutnya, namun tidak rutin dan akhirnya berhenti total karena konon terkendala oleh berbagai faktor.

Padahal, aktivitas ini sebetulnya sangat bermanfaat untuk melatih kemampuan jurnalistik seorang mahasiswa.  Bagi saya pribadi, pengalaman membidani Media Elektro berkelanjutan dengan keterlibatan saya sebagai redaksi majalah TEKNIKA dibawah SM-FTUI yang sempat mendapat ijin terbit dan dijual di toko buku Gunung Agung.

Di dunia kerja, saya terjerumus lagi mengurusi majalah komunikasi IBM Indonesia yang diedarkan kepada para pelanggannya. Ketika saya dipercaya mengurus Ikatan Alumni Elektro di tahun 1999 hingga 2003, saya menerbitkan buletin dwi bulanan Buletin Alumni Elektro yang berkelanjutan dengan Buletin Alumni FTUI di tahun 2004-2008.

Kegiatan lain pengurus IML yang menjadi tradisi bagi kepengurusan selanjutnya adalah penyelenggaraan Turnamen Bridge Listrik Cup di tahun 1978.

Terinspirasi oleh banyaknya rekan-rekan mahasiswa yang kecanduan main bridge di kantin kampus, muncullah ide untuk mengadakan turnamen bridge bagi mahasiswa.

Awalnya turnamen ini akan dinamai Arismunandar Cup, sesuai dengan nama Ketua Jurusan Listrik saat itu, Prof. Dr. Ir. A. Arismunandar. Namun ketika Nanang dan saya menghadap beliau dengan didampingi sdr. Widhoyoko (eks ketua IML periode sebelumnya) untuk mengutarakan ide ini, beliau menolak keras karena dapat diartikan sebagai bentuk kultus individu.

Akhirnya digunakanlah nama Turnamen Bridge Listrik Cup IML-FTUI dengan ketua panitianya sdr. Taufik Chandra (mahasiswa elektro angkatan 1976) yang dalam kepengurusan IML duduk di biro olah raga.

Turnamen bridge ini boleh dikatakan sukses besar untuk kategori kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa karena didukung oleh GABSI, sponsor utama rokok Dunhill dan banyaknya peserta dari luar UI.

 

Karena animo terhadap bridge begitu tingginya di kalangan mahasiswa dan mencari dukungan sponsor relatif mudah, maka jadilah Turnamen Bridge Listrik Cup sebagai program tahunan dari Ikatan Mahasiswa Listrik dan belakangan berganti nama menjadi Turnamen Bridge Elektro Cup (TBEC).

Seingat saya, kegiatan TBEC masih berlanjut hingga tahun 2005 sementara sdr. Nanang dan saya hingga detik ini belum bisa bermain bridge.

Kegiatan TBEC diatas secara tidak langsung menginsipirasi para pecinta bridge di lingkungan FTUI dan UI untuk membentuk sebuah klub bridge dengan nama GABRIAL-UI (Gabungan Bridge Alumni UI) di tahun 2002 dimotori oleh beberapa alumni FTUI seperti misalnya Hubaya Tamsil (alm), Hamdion Nizar, Widi Pancono dan Tommy Suhendra.

Ide spontan lainnya yang menjadi kenyataan dan berlangsung sukses adalah kegiatan LOMBA BURUNG BERKICAU Senat Mahasiswa FTUI.

Ditengah maraknya aksi demo menentang NKK/BKK di tahun 1979, muncul ide spontan yang dilontarkan oleh salah satu aktivis mahasiswa, Peter Sumariyoto. Ceritanya Peter ingin mengambil simpati dari para pecinta burung yang diyakini populasinya cukup banyak, termasuk sejumlah pejabat tinggi militer. Mumpung kuliah lagi tidak menentu di kala itu, ide tersebut langsung dijalankan.

Saya sedikitpun tidak paham mengenai perburungan. Tapi rasanya PeDe saja mendampingi Peter mengunjungi Pasar Burung Pramuka, berkenalan dengan tokoh-tokoh disana.

Komunitas burung ternyata memang lumayan besar. Kami memperoleh dukungan mereka yang setuju untuk diadakan lomba burung berkicau di areal kampus FTUI Salemba.

Maka dibentuklah panitia kecil dibawah Senat Mahasiswa FTUI dengan diketuai Peter Sumariyoto didampingi sdr. Alan Marino dan saya sebagai Wakil Ketua. Untuk menjaring peserta lomba, kami dibantu oleh sdr. Djodi Wuryantoro (aktivis Psikologi UI yang juga penyiar Radio Prambors – kini telah amarhum) untuk mengkampanyekan acara tersebut dengan bincang-bincang on-air. Jenis burung yang akan dipertandingkan keindahan suaranya antara lain adalah burung cucakrawa, wambi dan poksay. Penjurian kita serahkan sepenuhnya kepada para pakarnya dan kami dari Senat Mahasiswa FTUI hanya fokus kepada penyelenggaraan, tempat serta  pengadaan hadiah / trophy.

Kini kalau diingat-ingat kembali, saya harus akui bahwa mencari dukungan untuk kegiatan lomba burung berkicau jauh lebih gampang daripada sponsorship untuk kegiatan seminar ilmiah. Panitia ketika itu berhasil memperoleh trophy dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Wakil Presiden RI), Mayjen Norman Sasono (Pangdam Jaya) dan Mayjen Anton Soedjarwo (Kapolda Metro Jaya). Padahal waktu itu mahasiswa sedang bersitegang dengan aparat keamanan gara-gara kegiatan penolakan NKK/BKK yang dicanangkan Mendikbud.

Acara lomba burung berkicau yang diselenggarakan di kampus FTUI Salemba 4 pada hari Minggu itu boleh dibilang sukses karena diikuti oleh ratusan peserta dari Jakarta dan daerah. Ramainya suara aneka burung sungguh kontras dengan suasana sehari-hari di kampus Salemba yang bising oleh kendaraan dan mahasiswa.

Acara Lomba Burung Berkicau ini tampaknya merupakan kegiatan yang pertama dan sekaligus yang terakhir yang pernah diadakan di kampus UI Salemba.

Ciputat, 29 Desember 2013.

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Catatan Tercecer: Usulan Bung Karno tentang Kota Universitas Indonesia di Tjiputat

prasasti2

Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lokasi kampus UI pernah diwacanakan   untuk pindah dari Salemba. Konon ide dan pemikiran itu datangnya dari Bung Karno yang sempat meninjau bakal lokasi kompleks Universitas Indonesia itu dari helikopter, yaitu daerah Ciputat (saat ini menjadi kompleks perumahan dosen UI Ciputat, bagian dari kota Tangerang Selatan, Banten).

Menurut penuturan Ir. Diyan Sigit (arsitek, salah seorang tokoh yang membidani kelahiran FTUI) dan referensi dari buku Memoar Ayatrohaedi “65-67 catatan Acak-acakan dan cacatan Apa Adanya,” Pustaka Jaya, Januari 2011, tanggal 28 September di awal tahun enampuluhan, dianggap sebagai Hari Sarjana. Penamaan Hari Sarjana ini dimulai dengan hari Wisuda UI yang pertama, yaitu di tanggal 28 September 1960 dengan bertempat di Istana Olahraga Senayan. Di tahun-tahun sebelumnya wisuda diselenggarakan oleh fakultas masing-masing di UI.

Dengan demikan sejak tahun 1960 Hari Sarjana UI dilangsungkan pada tanggal 28 September dan tempatnya selalu berpindah-pindah.

Untuk tahun 1965 Hari Sarjana UI yang ke-6 diselenggarakan di tepi danau Situ Gintung, Ciputat, sebuah lahan yang diusulkan oleh Presiden Soekarno untuk dijadikan kompleks  Kampus UI. Ketika itu jalan aksesnya sebagian besar masih merupakan jalan tanah milik perkebunan. Pak Diyan Sigit yang ditunjuk menjadi Ketua Panitia Hari Wisuda UI di tahun itu mengerahkan mahasiswa fakultas teknik angkatan pertama (1964) untuk membantu pelaksanaannya dan memilih  aneka buah-buahan dan sayuran sebagai dekorasinya. Konon dekorasi buah-buahan ini begitu diminati oleh tamu-tamu diplomatilk yang hadir dan ada yang bahkan dibawa pulang sebagai buah tangan.

Presiden Soekarno turut menghadiri Hari Sarjana tersebut sekaligus meresmikan lokasi di tepi danau Situ Gintung Ciputat itu sebagai cikal bakal kampus Universitas Indonesia kedepannya. Namun kita semua tahu bahwa wacana ini tidak terwujud karena hanya berselang dua hari setelah peringatan Hari Sarjana, meletus Peristiwa G-30 S PKI yang berujung dengan jatuhnya pemerintahan Soekarno.

Belakangan lahan yang dipilih oleh Presiden Soekarno tersebut dianggap kurang luas, sehingga kampus UI tidak jadi dipindahkan ke Ciputat. Namun sebagian dari lahan itu dijadikan sebagai perumahan dosen yang hingga kini ditempati oleh sekitar 100 keluarga dosen UI dari berbagai fakultas. Sebagian lainnya sudah berpindah tangan, termasuk digunakan sebagai kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Ciputat.

Saksi bisu peristiwa peresmian kompleks Ciputat oleh Bung Karno di tahun 1965 dapat kita temui dari Prasasti yang terpajang di halaman kompleks perumahan dosen UI Ciputat. Diatas prasasti tersebut terpahat tulisan bahwa “PJM Presiden Pemimpin Besar Revolusi Indonesia Hadji Dr. Ir. Soekarno telah meletakkan batu pertama Kota Universitas Indonesia di Tjiputat”.

Ciputat, 28 Desember 2013.

Leave a Comment

Filed under History

Mengenang dokter Abdul Halim, Perdana Menteri RI Terakhir Yang Dilupakan

disajikan oleh: Aswil Nazir

 Sebagai makalah dalam SEMINAR NASIONAL WIMI (Wahana Intelektual Minang Indonesia), di DPR RI pada tgl 9 Oktober 2013 dengan  TEMA: “ Apakah Mr. Assaat dan dr. Abdul Halim Pahlawan Nasional untuk Jogjakarta atau Sumatera Barat?

dr. Abdul Halim

Figur dokter Abdul Halim yang dilahirkan di Bukittinggi, 27 Desember 1911 tidak banyak dikenal oleh generasi muda sekarang, apa perannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.

Abdul Halim yang merupakan anak tunggal dari pasangan Achmad St. Mangkoeto dan Hj. Darama, seperti disebutkan oleh wartawan senior Rosihan Anwar, memang tidak memiliki daya tarik dan pesona seperti Bung Karno, tidak punya ketenaran dan reputasi kemantapan seperti Bung Hatta. Dia cuma dokter spesialis penyakit telinga, hidung dan tenggorokan (THT) yang karena situasi dan panggilan perjuangan kemerdekaan terlontar ke gelanggang politik dan berperan di situ secara menentukan.

Ketika berusia 7 tahun, ia diajak oleh Abdullah [sepupu ibunya] yang pada masa itu menjadi salah satu pimpinan Bataafsche Petroleum Maatscappij (BPM – kini dikenal sebagai Pertamina) untuk ikut ke Jakarta guna memperoleh pendidikan yang lebih baik. Lalu Halim mengikuti jenjang pendidikan HIS, MULO dan AMS B serta Geneeskundige Hoge School (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta.

Semasa hayatnya, Abdul Halim terlibat dalam berbagai kegiatan, dari kancah politik, pendidikan, sosial hingga olah raga.

Halim adalah Perdana Menteri RI di Yogyakarta pada periode Januari 1950 – September 1950. Ia merupakan Menteri Pertahanan RI yang pertama untuk NKRI (September 1950 dalam kabinet Natsir).

Halim juga memiliki andil besar dalam upaya menjemput Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Tengah, bersama dr. Leimena dan Moh. Natsir.

Dalam bidang profesinya sebagai dokter, Abdul Halim pernah menjadi Direktur RSUP (kini RSCM) dari Juli 1951 hingga Juli 1961, lalu sebagai Inspektur Jenderal RSUP hingga wafatnya pada 4 Juli 1987.

Dalam bidang sosial, Halim yang memiliki hobi bermain sepakbola pada tahun 1927 turut membidani lahirnya Voetbalbond Indonesia Jakarta (V I J) yang belakangan dinamai Persija, dan pernah menjadi Ketua Persija selama beberapa tahun.

Di tahun 1928 Halim turut serta mendirikan Indonesische National Padvinders Organisatie (INPO). Dan sebagai pemimpin INPO, turut mempersatukan diri dengan Kepanduan Sumatera dan Pandu Kebangsaan (eks Jong Java) menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) pada tahun 1932. Pada tahun 1951-1955 ia menjadi Wakil Ketua / Ketua Komite Olympiade Indonesia (KOI).

Halim ditunjuk menjadi Ketua Yayasan nasional IKADA yang membangun Stadion Ikada beserta gedung olah raganya di lapangan Merdeka.

Pada tahun 1952 Halim memimpin rombongan Indonesia untuk pertama kalinya mengikuti Olympiade di Helsinki.

 

KIPRAH DI DUNIA POLITIK

Menjadi Perdana Menteri bukanlah sesuatu yang pernah diimpikan oleh dr. A. Halim. Beliau yang aktif di Badan Pekerja KNIP ketika itu tengah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta setelah pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Berencana kembali ke profesinya sebagai dokter ahli THT, bekerja di rumah sakit umum pusat. Tapi apa mau dikata. Rupa-rupanya antara Masyumi dan PNI, dua partai terbesar pada waktu itu, tidak terdapat kata sepakat, siapa dari mereka yang akan menjadi Perdana Menteri. Sedangkan soal Pejabat Presiden tidak menjadi masalah, sebab Mr. Assaat sebelum menjadi pejabat itu adalah Ketua Badan Pekerja dan Ketua KNIP. Presiden Sukarno ke Jakarta, dan Mr. Assaat menjabat Presiden R.I. di Yogyakarta.

Lain persoalannya dengan Perdana Menteri. Pada suatu ketika Halim didatangi oleh Natsir dan almarhum Mangunsarkoro. Mereka datang tidak bersama-sama. Bung Natsir menawarkan, “Masyumi bisa menerima Bung Halim menjadi Perdana Menteri. Kita tidak bisa mengajukan personalia yang bisa diterima PNI. Sebaliknya kita juga tidak bisa menerima orang PNI. Mereka mempunyai calon tapi kita tidak bisa terima.”

Ketika itu ditengarai ada semacam rivalry antara PNI dan Masyumi. Karena tidak ada persesuaian dengan Masyumi, akhirnya PNI dapat menerima figur dr. Halim yang non partisan.

Pada awalnya Halim masih menolak. Tapi kemudian datang Djohan Sjahroezah (menantu H. Agus Salim, masih famili Sjahrir) di kamar Halim di Hotel Merdeka Yogya, sambil membawa surat dari Sjahrir. “Halim mesti terima ini,” demikian isi surat dari Sjahrir. Lalu ada tambahan kalimat “Bung, kalau berjuang jangan kepalang tanggung.” Belakangan datang lagi Natsir bersama Prawoto. Prawoto akan diangkat menjadi Ketua Badan Pekerja KNIP, menggantikan Mr. Assaat yang telah diangkat menjadi Acting Presiden RI.

Oleh karena mereka tetap mendesak, akhirnya Halim menerima tawaran sebagai formatur kabinet. Padahal pada waktu itu sentimen terhadap KMB dengan RIS-nya itu sangat besar di Yogya dan dr. Halim termasuk yang berpidato di Sitihinggil.
Baginya, bentuk negara itu bukanlah merupakan hal yang prinsipil. “Yang terpenting adalah, untuk apa kita mencapai kemerdekaan, buat apa membentuk negara, jika tidak menaikkan kehidupan rakyat. That is the most important thing. Kalau itu disebut federasi OK, disebut persatuan OK,”demikian ujar dr. Halim. Itu sebabnya Kabinet Halim mencantumkan pembentukan negara kesatuan sebagai program pertamanya.

Dibawah ini adalah beberapa catatan tentang peran Abdul Halim di bidang politik seperti yang diungkapkan oleh Rosihan Anwar di harian Kompas beberapa hari setelah beliau wafat pada tanggal 4 Juli 1987.

Abdul Halim merupakan anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) 1945-1950, sebuah badan legislatif yang dalam masa revolusi bersenjata, karena belum bisa diselenggarakan pemilihan umum, berfungsi sebagai DPR dan MPR. Tetapi sudah barang tentu dengan sikap dan tanggung jawab yang jauh lebih substansial sifatnya, dengan nuansa revolusioner.

Tanggal 25 November 1945 – sebelas hari setelah Sutan Sjahrir yang sebelum itu Ketua Badan Pekerja KNIP menjadi Perdana Menteri RI – berlangsung rapat pleno KNIP di jalan Diponegoro, Jakarta, di gedung sekolah PSKD I sekarang. Saya hadir sebagai wartawan harian Merdeka. Saya saksikan serangan yang dilancarkan dalam sidang oleh bekas menteri yang digeser oleh kabinet Sjahrir, yaitu Abikusno Tjokrosuyoso dan Iwa Kusuma Sumantri. Mereka tidak menerima kebijakan Presiden Soekarno yang setuju dengan usulan Badan Pekerja KNIP, yaitu mengadakan kabinet parlementer yang bertanggung jawab kepada KNIP dan mengganti Kabinet Soekarno dengan Kabinet Sjahrir.

Juga Chaerul Saleh melancarkan serangan terhadap orang-orang dari Perhimpunan Indonesia (PI) yang baru kembali dari Belanda dan terus diangkat menjadi anggota KNIP. Kendati kritik-kritik tersebut, sidang akhirnya mengambil keputusan memberikan kepercayaan kepada Kabinat Sjahrir. Pada sidang itu saya melihat kebolehan Halim dalam melakukan lobi bersama Soebadio Sastrosatomo dan Soepeno sehingga akhirnya Kabinet Sjahrir mendapat mosi kepercayaan KNIP. Memang, Halim pada masa itu menjadi trouble shooter Perdana Menteri Sjahrir. Ia diberi tugas menyelesaikan masalah-masalah sulit.

Dalam buku mengenang Sjahrir (Penerbit Gramedia, 1980) dapat dibaca kisah berikut. Bulan Desember 1945, Halim mengusahakan dibukanya kembali kereta api ke Bekasi setelah Bekasi diduduki tentara Inggris. Bulan September 1946, Halim menemui Kolonel Alex Kawilarang di luar Bogor untuk mengembalikan serdadu-serdadu Sekutu yang telah melarikan diri ke pihak Republik kepada pasukan induk mereka atas permintaan komandan tentara Inggris.

Setelah itu Halim diangkat oleh PM Sjahrir sebagai Komisaris RI untuk Kota Jakarta dengan tugas sangat luas, diantaranya mempertahankan nilai Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) di Jakarta yang praktis telah dikuasai oleh NICA, dan mengkoordinasikan beberapa kementerian RI yang sebagian masih berada di Jakarta. Terus Halim dibawa serta dalam sebuah pesawat terbang dari Bukittinggi ke Singapura, tanpa paspor, dengan isi muatan candu dan kini untuk dijual agar memperoleh devisa guna membiayai perwakilan-perwakilan RI di luar negeri.

Pendek kata, dokter THT itu melaksanakan sesuatu misi yang tidak mungkin untuk ukuran zaman itu. Halim menyelesaikan tugas dengan baik.

Pelantikan dr. Abdul Halim sebagai Perdana Menteri RI oleh Mr. Assaat disaksikan oleh Sukarno, Presiden RIS.

Pelantikan dr. Abdul Halim sebagai Perdana Menteri RI oleh Mr. Assaat disaksikan oleh Sukarno, Presiden RIS.

Foto Mr. Assaat (kiri), Halim (tengah), Bung Karno (kanan) (Jogyakarta, 1950)

Foto Mr. Assaat (kiri), Halim (tengah), Bung Karno (kanan)
(Jogyakarta, 1950)

Dr. Halim juga terkenal sebagai figur yang tidak suka dengan protokoler, dan itu terungkap dari apa yang dikisahkannya kepada JR. Chaniago (alm), penyunting buku Diantara hempasan dan benturan berikut ini.

T: Apa masih ada kenangan lain?

J: Banyak yang bisa saya katakan, umpamanya pada tanggal 1 Mei saya diminta berpidato oleh buruh. Saya sudah siap ke Gedung Merdeka. Ketika saya datang semua berdiri. Saya rasa saya punya poster sendiri. Kemudian saya ejek, saya kira saya dapat kehormatan yang tidak benar. Saudara-­saudara boleh berdiri, jika Presiden atau Pejabat Presiden yang datang, bukan untuk seorang Perdana Menteri. Oooo gerr, semuanya. Jadi saya koreksi. Sekali, saya dengan tujuh menteri kabinet pergi ke Semarang. Waktu itu masih banyak pemeriksaan di jalan. Sayapun ditahan, diperiksa oleh tentara.

T : Apakah mereka tidak tahu yang berada di mobil adalah Perdana Menteri.

J: Tidak. Malah ngamuk-ngamuk di belakang. Saya diam saja. Saya dipanggil.
Masuk [ruangan penjagaan]. Saya memperkenalkan diri. Mereka takut setengah mati. Saya tidak pakai mobil dinas. Terus marah-marah. “Kenapa tidak ada pengawal.” Saya bilang, mesti memang mesti, tapi negeri telah aman, buat apa pengawal. ”Wah, kita tidak tahu pak, saya ini diperintahkan semua mesti diperiksa,” [kata mereka]. Akhirnya kami berangkat. Dua belas orang berdiri (sambil memberi contoh hormat senjata pada pejabat tinggi negara), saya lihat saja semua sambil tertawa.
Satu lagi. Saya mesti mengadakan pidato di RRI pada hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1954. Saya setir mobil sendiri. Mobilnya adalah mobil pribadi saya, yaitu Plymouth 1945, Sedangkan mobil dinas saya adalah merk Buick dengan nomor polisi AB-2. Polisinya semua sudah ke depan gedung begitu, untuk menunggu saya. Ketika mau masuk pekarangan saya lihat banyak serdadu gitu ya, saya masuk RRI dari belakang. Kalau Perdana Menteri pidato kan mesti pakai lagu Indonesia Raya. Ketika lagu Indonesia Raya selesai, polisi naik dari depan gedung, tanya, “apa Perdana Menteri sudah di dalam.” Wah ramai, keki deh mereka semuanya. Maksud saya, saya ingin mengurangi apa itu, oh formalitas.

T: Protokoler

J: Protokoler. Sebelum menyudahi anekdot saya ingin cerita lagi bahwa saya mesti jemput Menteri Pertahanan RIS Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Maguwo. Saya tidak pakai mobil AB-2. Saya menyetir sendiri. Di Gondolayu saya ditahan. Mesti minta izin dulu di CPM. Minta izin mau ke Maguwo. Mereka tanya, “siapa nama.” Tulis toh. “Pekerjaan”. Perdana Menteri Republik Indonesia, (sambil mencontohkan hormat militer) terdengar teriakan, “hormaaat”. Saya pergi. Dia senang, tidak apa-apa. Perdana Menteri tidak boleh ditahan. Jadi banyak pulalah yang lucu-lucu buat saya. (diam lagi). Satu kali saya jalan jalan sendiri di Malioboro. Saya tidak mau pakai pengawal-pengawal segala. Saya selalu pakai sepatu sandal dan kebetulan rusak. Sepanjang jalan ada beberapa tukang sepatu. “Bung, tolong perbaiki ini,” kata saya kepada seorang tukang sepatu. Setelah selesai saya tanya, berapa. Dia mau bilang, tapi melirik dulu pada saya. Tukang sepatu bilang, “bapak, Perdana Menteri,” Saya bilang, sekarang dr. Halim. Nah ini uangnya. “Tidak,” katanya,, “tidak usah bayar.”

Satu lagi yang agak lucu, untuk menunjukkan bagaimana kadang-kadang Bung Karno itu, Nehru mau datang ke Yogya. Saya Perdana Menteri. Perdana Menteri India itu mau speak di Badan Pekerja.

Sebelum Nehru datang dengan Bung Kamo, Ki Hadjar Dewantoro dapat kawat dan Sekneg, dari Mr. Gafar Pringgodigdo, minta supaya rakyat di perjalanan antara Maguwo dan Gedung Negara, meminta kepada Bung Karno untuk pidato. Hendaknya didaulat.

Ki Hadjar Dewantoro kasih lihat kawat itu pada saya. Wah ini bagaimana, Ki Hadjar. “Terserah dik Halim,” katanya. Saya bilang tidak bisa. “Dan memang tidak bisa,” katanya.

Bung Karno mau memperlihatkan pada Nehru bahwa dia sangat populer. Padahal caranya tidak benar.

Tolak itu, kita tidak mau. Saya kasih saudara satu fakta, itulah Bung Karno yang suka show. Demikianlah.

Ketika menjabat Perdana Menteri Republik Indonesia di Yogyakarta, Halim bersama dengan Mohammad Natsir, anggota parlemen di Jakarta, berjuang untuk membubarkan RIS dan mengembalikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan hal itu tercapai. Setelah RIS bubar, pada Agustus 1950 naiklah Kabinet Natsir dan Halim menjadi Menteri Pertahanan. Jabatan ini tidak lama dipegangnya. Dia mengundurkan diri dari dunia politik. Dia kembali kepada profesinya. Dia pernah menjadi Direktur RSCM. Dia kembali kepada hobinya, seperti sepak bola, dan di hari tuanya ke olahraga bulu  tangkis. Kendati sudah memakai kereta roda, dia masih getol khusus pergi menyaksikan bintang badminton Verawati Fajrin, berlatih.

PENUTUP

Dr. Abdul Halim menganggap dirinya a loner (non partisan) walaupun banyak yang menyebutnya sebagai trouble shooter Sjahrir. Aktivitasnya yang colourful, dari sektor pendidikan, sosial hingga politik di pentas nasional membuat Halim menjadi sosok pejuang yang unik.

Karena dibesarkan di luar kampung halamannya, masyarakat Sumatera Barat hampir tidak mengenal sosok dokter Abdul Halim. Pergaulannya yang luas membuat Halim memiliki wawasan nasional, tidak berorientasi kedaerahan. Diantara sahabat karibnya antara lain adalah Soebadio dan Hamengku Buwono IX.

Hingga akhir hayatnya, dokter Halim tidak berkeluarga. Di tahun-tahun terakhir kehidupannya, seringkali dokter Halim memilih untuk nyepi di Yogya, berhari raya Idufitri  bersama sahabatnya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Jadi tidak heranlah jika banyak warga Sumbar yang tidak mengenal sosok Abdul Halim yang berprofesi dokter. Sebagian masyarakat malah lebih kenal dengan figur K.H. Abdul Halim, pahlawan nasional semasa agresi Belanda yang berasal dari daerah Jawa Barat.

Dokter Halim yang menganggap dirinya a loner meninggal dunia di RSCM Jakarta pada tanggal 4 Juli 1987 dan  dimakamkan di TPU Tanah Kusir, dikomentari oleh Rosihan Anwar di harian Kompas:

Biodata dr. Halim tidak tercantum dalam buku Apa & Siapa terbitan majalah Tempo, tidak dalam Ensiklopedi Indonesia yang diedit oleh Hasan Sadhily (1980) tidak juga dalam Who’s Who in Indonesia yang disusun oleh wartawan Jerman Roeder (1971). Jelas, dr Halim sudah menjadi orang yang dilupakan. Tetapi teman-temannya pasti mengingatnya, dan telinga saya terdengar lagi lagu Al Johnson, bintang film Holywood tahun 1935 yang berbunyi  Remember the forgotten man.

Jakarta, 9 Oktober 2013

Sumber Pustaka:

  • Buku Diantara Hempasan dan Benturan, kenang-kenangan dr. Abdul Halim 1942-1950 terbitan Arsip Nasional RI, Jakarta, 1981.
  • Artikel Abdul Halim, PM Yang Dilupakan dalam buku Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia jilid 6, Rosihan Anwar, Kompas, 2012.
  • Catatan pribadi keluarga

 

 

2 Comments

Filed under dr. Abdul Halim, History

Masjid di Turen, Malang Yang Penuh Misteri

turen-1

Ketika tahu bahwa saya akan berkunjung ke Malang, seorang teman memberikan saran agar saya menyempatkan diri untuk singgah ke masjid Tiban di Turen, sedikit di luar kora Malang.

Awalnya saya tidak terlalu menanggapi, hanya bertanya dengan enteng, “apaan tuh masjid Tiban?”
“Itu masjid yang konon diyakini masyarakat dibuat oleh jin, makanya dinamai masjid Tiban (masjid yang muncul ‘dadakan’),” jawab teman saya.

Saya mulai tertarik, karena biasanya teman yang satu ini tidak suka bercanda dan berbohong. Tapi tetap saja anggapan mengenai jin yang membangun masjid di era modern saat ini agak sulit masuk di akal. Namun hal ini justru membangkitkan minat saya untuk mendatangi masjid yang disebutnya.

Maka ketika urusan pribadi saya sudah selesai di hari Sabtu siang, 24 Agustus yang lalu, saya tanya ke sopir rental apakah dia tahu lokasi masjid Tiban di Turen. Dia spontan jawab, “tahu pak. Saya beberapa kali mengantarkan tamu kesana.”

Kebetulan isteri dan ibu saya juga ikutan ke Malang dan mereka berdua yang penasaran mendengar cerita sepotong soal masjid yang dibangun jin ini, antusias untuk ikut.

Perjalanan menuju Turen yang hanya sekitar 25 km di luar kota Malang ternyata memakan waktu yang lebih lama dari dugaan saya, hampir satu jam. Lokasi persisnya berada di jalan Wahd Hasyim, Gang Anyar, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Singkat cerita, setelah melalui jalan kecil yang cukup mulus namun ramai, kami pun memasuki gang kecil yang hanya muat untuk satu kendaraan. Di kanan kirinya ada kios-kios penjual buah dan makanan. Rupanya itu adalah jalan masuk menuju kompleks masjid. Jalan itu berakhir di pintu gerbang tinggi besar yang terbuat dari keramik biru putih yang dihiasi kaligrafi.

Saya mulai terkesan, karena membuat gerbang sebesar itu dengan tulisan kaligrafi bukan pekerjaan yang mudah. Diatas pintu gerbang terpampang tulisan besar “Selamat Datang – Pondok Pesantren Syalafiyah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir.”

turenOh ya, masyarakat setempat lebih mengenal kompleks ini sebagai Pondok Pesantren yang didalamnya terdapat masjid yang menghebohkan ini. Kendaraan yang memasuki kompleks langsung dipandu menuju areal parkir yang cukup luas oleh petugas yang ternyata adalah santri pondok pesantren.

Melihat banyaknya kendaraan yang parkir dan iringan mobil yang ada di belakang kami, saya percaya bahwa masjid di Turen ini pasti sudah jadi ikon wisata di Malang. Sopir kami menyebutkan bahwa di hari Minggu para tamu harus memarkirkan mobilnya di luar kompleks saking ramainya pengunjung dan harus berjalan kaki masuk. Begitu turun dari kendaraan, kami diminta untuk mendaftarkan diri ke loket informasi di bangunan khusus bernuansa oranye, sekaligus meminta karcis mobil untuk keluar kompleks. Tanpa karcis, kendaraan tidak diijinkan untuk keluar dari kompleks pesantren.

Di loket pendaftaraan saya hanya ditanyakan nama, kota asal dan berapa jumlah anggota rombongan. Tidak ada bayaran tiket masuk atau semacamnya. Selesai mendaftar, kami mulai celingukan kiri kanan. Bingung, karena terlihat ada banyak pintu masuk.

Ditengah kebingungan, tahu-tahu kami ditegur oleh seorang pemuda berpeci dengan seragam hitam. Rupanya ia santri yang tengah bertugas. Mungkin dia paham bahwa kami merasa asing dengan lokasi, sehingga dia menawarkan diri untuk memandu kami. Pucuk dicinta ulam tiba, kami dengan senang hati mengikuti pemuda tersebut.

Begitu masuk ke bangunan utama, kami diminta melepas sepatu untuk ditenteng menyusuri jalan masuk berupa lorong yang agak mendaki dengan dinding yang dihiasi aneka ornamen, ukiran dan kaligrafi. Pemandu kami menjelaskan dengan singkat bahwa bangunan pondok pesantren ini mulai didirikan oleh KH. Achmad sejak tahun 1978 yang sampai kini pembangunannya sudah mencapai 10 lantai, namun masih belum selesai. Targetnya disebutkan, 18 lantai. Saya memang melihat banyak dinding yang polesannya masih setengah jadi walau tidak terlihat ada yang bekerja.

Ditanya tentang arsitek bangunan, si pemandu kembali menjelaskan bahwa desainernya adalah KH Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh sendiri yang memberikan instruksi pengerjaan kepada para santri berdasarkan hasil istikharah. Artinya, kalau sinyal dari istikharah belum datang, pekerjaannya belum dilanjutkan. Sehingga kalau ditanya seperti apa bentuk bangunan ini nantinya, tidak ada yang bisa menjawab.

Sejujurnya, desain interior gedung ini memang unik, seperti perpaduan budaya timur tengah, dan Cina. Di sepanjang lorong yang kami lalui dindingnya penuh dengan ornamen-ornamen etnik campuran Arab, India dan Cina dengan corak warna yang aneka ragam. Kami berjalan dengan santai sambil menikmati desain interior lantai demi lantai sambil berjalan mengikuti santri pemandu.

Awalnya ibu saya yang berusia 79 tahun agak menolak untuk menaiki tangga untuk menuju ke lantai atas, namun santri pemandu membujuk dengan santun agar ibu saya meyakinkan diri akan kemampuan menaiki anak tangga sambil “istighfar” dalam hati. Alhamdulillah, ibu pun mematuhinya dan mampu naik hingga ke lantai 6 sebelum akhirnya dipandu turun kembali melalui lorong-lorong yang berbeda. Mungkin karena memaklumi memandu orang tua, santri pemandu kami mempersilahkan kami beristirahat sejenak di salah satu lantai yang disebutkan sebagai ruangan penerimaan tamu Kiai Achmad.

turen-2

tipikal lorong di dalam gedung, dihiasi oleh ukiran dan kaligrafi.

tipikal lorong di dalam gedung, dihiasi oleh ukiran dan kaligrafi.

Di lantai berikutnya, saya lupa apakah lantai 5 atau 6, ada kolam renang kecil yang dulunya dibuat untuk tempat mandi putri Kiai Achmad semasa kecil. Kolam itu masih dirawat dan berisi air yang jernih. Kami sempat masuk ke salah satu ruang pertemuan yang konon bisa memuat 200 orang, terpajang sebuah jam antik yang indah ditengah aneka kaligrafi di dindingnya. Di beberapa ruangan terdapat kursi-kursi yang terbuat dari kayu jati dengan desain yang anggun dan unik. Ada lantai yang disini oleh akuarium ikan yang beraneka ragam seperti ikan koi, ikan emas dan lainnya.

Saya bertanya, kenapa ada akuarium disni? Dijawab singkat, bahwa akuarium ini dimaksudkan untuk membersihkan hati para santri serta siapapun yang masuk ke ruangan tersebut. Adanya kubah-kubah yang berhiaskan semacam motif berwarna-warni yang semarak. Ada pula lantai yang memiliki ornamen berupa pohon kurma buatan yang diberi lampu warna-warni yang terlihat indah ketika berkelap-kelip.

turen-5

Salah satu ruang pertemuan, ditengahnya terdapat jam antik.

turen-4

lampu hias antik di salah sagu ruangan.

Seusai tur singkat mengelilingi bangunan pondok pesantren walaupun hanya sampai lantai 6, kami rehat sejenak di salah satu kios makanan yang tampaknya dikelola oleh santri pondok pesantren. Saya hanya mampu menyiratkan rasa kagum akan kehadiran bangunan pondok pesantren ini yang dibangun oleh seorang Kiai berdasarkan hasil istikharah tanpa adanya pemahaman tentang arsitektur ataupun ilmu teknik sipil.

turen-6

istirahat sejenak di ruang tamu salah satu lantai.

turen-7

salah satu pendopo di luar gedung utama.

 Rasanya agak sulit diterima akal, namun itulah faktanya. Pembangunan gedung yang dimulai pada tahun 1978 dilakukan secara bertahap tanpa bantuan alat-alat berat dan modern. Pekerjaan itu semua dilakukan oleh para santri yang jumlahnya 250 orang dan beberapa penduduk di sekitar pondok pesantren. Material yang digunakan untuk membangun juga apa adanya. Diceritakan bahwa waktu itu hanya ada batu merah, sehingga batu merah itulah yang dipasang dengan adonan dari tanah liat (ledok).

Informasi tambahan yang saya baca di wikipedia, pembangunan masjid ini mulai dari bawah tanah, tepatnya di lantai tiga, ada tiang penyangga dari seluruh bangunan yang terbuat dari tanah liat. Satu tiang yang dibuat tanah liat itu yang menjadi roh atau kekuatan dari seluruh bangunan. Pembangunan dan perluasan pondok dilakukan seadanya hingga tahun 1992. Selama beberapa tahun pembangunan sempat terhenti, namun di tahun 1999 pembangunannya kembali dilanjutkan.

Maka ketika masyarakat menyebutkan bahwa bangunan di Turen ini sebagai sebagai masjid Tiban (dadakan) atau banyak juga yang menyebut sebagai masjid Jin, itu sesungguhnya tidak masuk akal. Saya pribadi hanya bingung sekaligus terkesima melihat kenyataan adanya bangunan yang memiliki desain unik (walaupun arsitektur etniknya tumpah tindih) dengan ornamen interior dari bahan-bahan mahal yang dibangun oleh orang-orang yang sama sekali tidak memiliki keahlian ilmu bangunan. Dan juga tidak ada yang bisa menjawab, dari mana dana pembangunan termasuk juga pembelian furniture antik semisal kursi meja marmer dari italia, jam antik, kursi kayu jati yang anggun serta ornamen impor lainnya. Perlu diketahui bahwa jalan masuk ke kompleks pondok pesantren hanya bisa dilalui oleh kendaraan biasa, bukan sekelas truk atau alat berat.

Ketika ditanya, para santri pondok pesantren hanya menyebutkan, itulah kebesaran Allah sehingga persoalan dana dan dari mana asalnya ornamen impor dan interior indah itu berasal, tidak usah dipusingkan. Subhanallah.

Ciputat, 28 Agustus 2013.

3 Comments

Filed under Travel

Menyoal Kegeraman dan Kekesalan Presiden SBY

sby marahBerita yang terpampang di headline di dua surat kabar terkemuka pagi ini cukup menarik perhatian saya. Topiknya soal kerusuhan di LP Tanjung Gusta, Medan.

Coba simak kalimat preambule berita tersebut. “Kelambatan jajaran pemerintah dalam menjelaskan insiden kerusuhan di lembaga pemasyarakatan Tanjung Gusta, Medan, mengundang kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden menilai, jajaran pemerintah seharusnya cepat merespons masalah itu dan menjelaskan kepada publik. Lebih dari itu, Presiden juga menegaskan, negara harus memenuhi hak dasar narapidana.”

Presiden marah lagi ya? Bukankah kemarahan, kekesalan atau kegeraman Presiden terhadap aparatnya merupakan hal yang lazim dan biasa kita dengar selama ini? Jika anda menganggap statement ini mengada-ada, coba saja cari di google dengan kata kunci “Presiden SBY geram” atau “Presiden SBY kesal. “ Anda akan terperangah akan melihat hasilnya.

Bicara soal marah-marah, geram atau gertak terhadap anak buah tampaknya tidak sepenuhnya  menyelesaikan persoalan. Sekitar 30 tahun yang lalu kolumnis Mahbub Djunaidi (alm.) pernah menulis, “Sekali waktu gertakan itu memadai, tapi lama kelamaan bikin orang terheran-heran, apa tidak ada yang lebih penting daripada gertak-menggertak. Apalagi jika gertak itu sudah menjadi rutin, orang akan mengalami kesulitan menjadi takut. Dan orang pun menjadi lelah lantaran was-was atau curiga yang tak berujung pangkal, yang pada akhirnya menganggapnya beban batin yang sama sekali tidak perlu. Apa manfaat memandang dunia lewat kacamata hitam, padahal sang surya selalu siap dengan anugerahnya yang percuma? Apa bagusnya melihat keadaan orang lebih mudah diajak merasa takut daripada diajak hormat? Demi selamat dan demi asap dapur, setiap orang siap menobatkan diri jadi penyanjung dan si manis mulut, tersenyum-senyum tanpa sebab musabab yang jelas, jadi hipokrit dan kompromis, menyembunyikan sikap pribadi jauh di pantai, khawatir diketahui orang kecuali dirinya sendiri.”

Tampaknya apa yang terjadi di jajaran pemerintah pusat, khususnya di lingkungan kepresidenan, tidak jauh dari ilustrasi diatas. Entah setan mana yang melarang, belakangan ini sudah jarang kita dengar komentar atau keputusan penting yang dikeluarkan oleh menteri yang notabene merupakan pembantu utama Presiden. Ada yang menduga bahwa para Menteri menghindar untuk memberikan pendapat atau arahan untuk urusan yang krusial karena takut dimarahi Presiden yang terkadang mempunyai pemikiran lain. Dan dalam kenyatannya, Presiden beberapa kali memang memberikan pernyataan ke publik yang justru bertentangan dengan pernyataan bawahannya. Nah, jadi repot bukan?

Kembali kepada topik, mari kita kutip sejumlah berita di media cetak dan elektronik yang berhubungan dengan kekesalan dan kegeraman Presiden SBY dalam dua tahun terakhir ini. Mari kita doakan semoga gangguan emosi ini tidak mengganggu kesehatan dan kearifan beliau dalam memimpin bangsa kita yang begitu majemuk.

==================================================

25 Juli 2012 SBY Geram dengan Menterinya. Pernyataan presiden bahwa ada kongkalikong di antara eksekutif dan legislatif dalam berbuat korupsi merupakan wujud kegeraman SBY pada para menteri.

Melalui pernyataannya Presiden menilai para menteri tidak becus membenahi kinerja birokrasi di kementrian mereka masing-masing. Alhasil banyak uang negara melayang ke kantong oknum di kementrian.

4 Agustus 2012 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku geram saat mengetahui masih terjadinya praktik pungutan liar di jalur transportasi. Maka dari itu, Presiden menegaskan bahwa pungli tidak diperbolehkan, serta pemberantasan pungli merupakan tanggung jawab semua pihak.

6 Agustus 2012 SBY Geram Ada Impor Ilegal Daging Sapi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima informasi dari Menteri Pertanian adanya dugaan impor ilegal daging sapi. Presiden menginstruksi kepolisian turut menginvestigasi dugaan tersebut.

”Yang ilegal-ilegal harus kita berantas. Lakukan investigasi. Jangan hanya pertanian, tapi juga kepolisian, perdagangan, semua,” kata Yudhoyono dalam konferensi pers usai memimpin rapat koordinasi bidang pertanian di Kementrian Pertanian, Jakarta, Senin, 6 Agustus 2012.

7 Agustus 2012 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak dapat menyembunyikan rasageramnya atas banyaknya Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang bermasalah di seluruh Tanah Air. IUP itu umumnya dikeluarkan oleh para bupati, yang di era reformasi, diberi wewenang menerbitkannya,

“Ribuan IUP bermasalah. Era desentralisasi dan era reformasi memang mempunyai ekses. Bupati mengeluarkan izin dengan mudah. Kadang ganti bupati ganti izin. Dan ini tidak boleh terjadi. Akan kita tertibkan,” kata Presiden, dalam jumpa pers seusai ia memimpin rapat kabinet terbatas yang dilangsungkan di kantor pusat Pertamina, Jakarta, hari ini (7/8/2012).

17 Sep 2012 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya bersuara mengenai maraknya peredaran film yang menghina Islam dan Nabi Muhammad SAW “Innoncence of Muslims” saat memberikan pengarahan pada Munas Alim Ulama dan Nahdlatul Ulama, di Cirebon.

Presiden mengaku geram karena peredaran film tersebut merupakan bentuk penistaan dan pelecehan agama.

“Saya sudah menyampaikan ketidaksenangan dan kecaman saya, atas diedarkannya film yang menghina Nabi Muhammad itu,” ujarnya di Cirebon, hari ini (17/9).

11 Desember 2012  Presiden SBY Geram Empat Gubernur Mangkir Rapat. Di awal pidatonya, SBY mengetahui bahwa ada beberapa gubernur yang tidak hadir di Istana Negara dan malah diwakilkan oleh wakil gubernurnya. ”Saya minta Menteri Dalam Negeri untuk menertibkan kehadiran pejabat dalam acara yang penting ini. Kalau sakit, bisa diterima. Tapi kalau ada acara di provinsinya dan kemudian tidak datang, saya tidak bisa terima,” ujarnya, hari ini.

SBY mengatakan pejabat pemerintahan haruslah tertib. Apalagi agenda di Istana hari ini mengenai DIPA. ”Biasakan tertib kita, saling hormat menghormati karena semua bertanggung jawab kepada rakyat. Ini urusan pembangunan, urusan anggaran. Sesuatu yang sangat penting,” ujarnya dengan nada tegas.

12 Desember 2012 Presiden SBY geram karena masih banyaknya hambatan-hambatan bisnis di Indonesia, khususnya di sektor birokrasi di pemerintahan pusat atau daerah. Ini membuat ekonomi Indonesia sulit bersaing.

“Masih banyak hambatan (bisnis). Harusnya (izin) seminggu jadi 3 bulan, harusnya 3 bulan jadi setahun. Ada orang yang kebahagiannya bikin sulit orang. Ini terjadi di berbagai daerah di negeri ini, baik di pusat maupun daerah. Mau minta izin ini dia minta ini, mau minta izin ini dia minta itu. Bagaimana kita bisa bersaing,” kata SBY.

Hal ini disampaikan SBY dalam acara seminar ekonomi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Stone Hotel, Legian, Bali, Rabu (12/12/2012).

4 Januari 2013 SBY KE PASAR IKAN: Presiden Geram Nelayan Tak Kenal KUR. Emosi Presiden SBY sempat naik ketika salah satu nelayan di Tanjung Pasir mengaku belum tahu mengenai program Kredit Usaha Rakyat.

Pernyataan nelayan tersebut dikemukakan dalam tanya jawab antara SBY dengan para pemimpin kampung nelayan di Tanjung Pasir Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tanggerang, Jumat (4/1).

21 Januari 2013  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta para menteri dan pejabat negara lainnya menyerahkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi di kantor Kementerian Keuangan siang ini, Kamis 21 Januari 2013.

Dalam kesempatan itu, SBY mengungkapkan kegeramannya atas beredarnya salinan SPT pajak miliknya di media massa beberapa waktu lalu. Padahal, dokumen itu adalah rahasia negara yang dilindungi undang-undang. Presiden pun merasa dicemarkan nama baiknya.

“Saya telah menjadi korban sebuah media massa yang mengesankan saya tidak memenuhi kewajiban saya sebagai wajib pajak,” kata dia. 

13 Feb 2013 SBY Geram Istana Dituding Bocorkan Sprindik Anas. Presiden SBY dilaporkan tidak nyaman dengan beredarnya isu sprindik soal status Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum sebagai tersangka, dibocorkan pihak lingkaran istana.

“Presiden merasa tidak nyaman dan perlu memberikan atensi yang serius,” kata Juru bicara presiden, Julian Aldrin Pasha sambil membacakan pernyataan resmi SBY, Rabu (13/2).

23 Feb 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat geram atas peristiwa penyerangan kelompok bersenjata di Papua yang menyebabkan gugurnya 8 prajurit TNI dan 4 warga sipil, hari Kamis lalu. Bahkan, SBY yang tengah melakukan kegiatan turun ke bawah (turba) di wilayah Jawa Tengah mempercepat jadwal kepulangannya ke Jakarta.

Setiba di Jakarta, SBY langsung memimpin rapat kabinet terbatas bidang politik, hukum, dan keamanan untuk membahas langkah-langkah mengatasi situasi krisis di Papua. Usai menggelar rapat selama dua jam, Menkopolhukam Djoko Suyanto menegaskan tidak ada perubahan status apapun di Papua. Penegasan ini menutup semua kemungkinan akan ditetapkannya status Papua menjadi daerah operasi militer (DOM).

17 February 2013 Geram, SBY Tagih Janji Lapindo 800 Milyar. Kewajiban Rp 800 miliar yang sudah dijanjikan untuk menyelesaikan masalah ganti rugi kepada warga Sidoarjo yang kehilangan tempat tinggal karena pemukiman mereka terendam banjir oleh Lapindo Brantas diminta untuk segera dipenuhi. Hal ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat membuka Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta pada Kamis (14/2/2013) lalu. Presiden mengatakan telah menerima laporan bahwa Lapindo belum menyelesaikan kewajibannya.

“Rp 800 miliar belum diselesaikan, sampaikan kepada Lapindo. Kalau janji ditepati, kalau main-main dengan rakyat, dosanya dunia akhirat. Sampaikan.”katanya.

16 Maret 2013 Meroketnya harga bawang putih ternyata membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) geram. Pada kesempatan rapat kabinet terbatas, Presiden mengungkapkan kekecewaannya terhadap kinerja jajaran menteri-menteri bidang ekonomi. 

SBY tidak segan mengakui bahwa dia memarahi anak buahnya karena kurang sigap merespons gejolak harga bawang putih yang beberapa hari terakhir mencekik masyarakat.

“Saya memang marah kemarin karena bawang merah dan putih ini berhari-hari kurang cepat, kurang konklusif, kurang nyata,” ujar SBY saat berbincang dengan forum Pemred di kantor presiden, Jumat (15/3).

2 April 2013 Rentetan konflik kekerasan yang terus terjadi di tanah air, tampaknya, mulai membikin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) geram. Yang terkini kerusuhan pilwali yang terjadi di Palopo, Sulawesi Selatan.  

Presiden RI keenam itu mengungkapkan, baru-baru ini dirinya mengeluarkan Inpres No. 2/2013 sebagai upaya mengatasi gangguan keamanan nasional.

Bahkan terkait inpres ini, SBY secara khusus memanggil tiga gubernur untuk membahas wilayah rawan konflik. Ketiganya adalah Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Gubernur Sulawesi Tengah Longky Djanggola, dan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. pada 18 Februari 2013 .

17 April 2013 Insiden mundurnya jadwal pelaksanaan ujian nasional (UN) SMA membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono geram. Kemarin (16/4), begitu tiba dari kunjungan kerja di Karawang, SBY langsung memanggil Men­dikbud Mohammad Nuh beserta Kapolri dan Panglima TNI ke Istana. SBY kembali menegaskan instruksinya untuk segera melakukan investigasi mendalam terkait insiden keterlambatan tersebut sekaligus memastikan distribusi naskah UN di 11 provinsi berjalan lancar. 

10 Juni 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono geram dengan program tayangan televis asing. Pasalnya, program TV tersebut menayangkan  penggundulan hutan di Indonesia (deforestasi).

Lebih lanjut SBY mengatakan, saat dirinya melihat tayangan televisi asing, dia terkejut menonton tayangan yang menayangkan penggundulan hutan di Indonesia. “Sekitar pukul 03.30 WIB tadi pagi saya terbangun dan kemudian saya melihat siaran TV asing inisialnya A. Saya lihat liputannya panjang yang kira-kira temanya adalah deforestasi yang ada di Indonesia,” ujarnya.

7 Juli 2013 Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) geramdengan beberapa komentar di media sosial, terkait konvensi calon presiden (capres) Partai Demokrat.

“Malam ini, kapasitas saya sebagai pimpinan Partai Demokrat, saya akan menyampaikan pengumuman dan penjelasan berkaitan dengan konvensi capres tahun 2014 dari Partai Demokrat,” kata SBY saat jumpa pers di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (7/7/2013).

Sebenarnya, sambung SBY, pengumuman dan penjelasan konvensi Calon Presiden tahun 2014 dari Partai Demokrat, akan dilakukan tiga minggu mendatang.

“Tetapi kami mengikuti dinamika di ruang publik, termasuk di media massa terlebih di media sosial, isu tentang rencana konvensi Capres PD ini telah mengalami bias, dan distorsi. Misalnya, muncul suara seolah-olah konvensi ini hanya isapan jempol, tidak sungguh-sungguh, hanya pencitraan, dan lain-lain,” tegas SBY.

13 Juli 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) geram dengan lambatnya respons dan telatnya laporan anak buahnya terkait kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta, Medan Sumatera Utara.

Presiden mengaku malah mengetahui pertama kali berita kerusuhan di Lapas kelas 1 Medan itu dari media massa. Bukan dari pejabat terkait.

“Soal Lapas Medan, saya justru tahu lebih dulu dari media massa. Sejumlah televisi internasional sudah meliputnya. Dibanding informasi yang saya dapat dari sistem,” tegas SBY dalam pengantarnya saat Rapat Terbatas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (13/7/2013).

13 Juli 2013 (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku tidak sabardengan upaya para menterinya untuk mengatasi melambungnya harga daging sapi di pasaran menjelang perayaan Idul Fitri dan meminta agar dalam beberapa hari mendatang telah ada perubahan.

“Saya kira instruksi saya sudah sangat jelas, wapres juga sangat jelas, Menko Perekonomian juga sudah memimpin beberapa pertemuan, tapi implementasinya lama, terus terang saya tidak sabar, sama dengan tidak sabarnya rakyat,” kata Presiden di Jakarta, Sabtu.

Ciputat, 14 Juli 2013.

1 Comment

Filed under Behavior / human being

Sosok Pemimpin

pemimpin

Kolumnis kondang di tahun 70-80 an Mahbub Djunaidi (almarhum) dalam artikelnya tentang “pendidikan politik” menyarankan kita untuk mengajak anak ke Kebun Binatang jika sudah duduk di kelas 5 atau 6 sekolah dasar. Lalu begitu masuk, segara bisikkan di kupingnya, “Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, bukan?” Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia.”

Sungguh sebuah metoda pembelajaran yang tidak biasa, dan memang begitulah gaya Mahbub yang doyan nyeleneh menurut saya.

Lebih lanjut disarankan agar kita mengajak si anak untuk berhenti barang setengah jam di depan kandang monyet dan katakanlah, “Kamu lihat monyet yang paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan menjadi pemimpin itu, bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tetapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah mengenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan.”

Ya, itulah pemimpin ala monyet dalam versinya Mahbub. Tapi sesungguhnya definisi pemimpin manusia tidaklah seabsurd itu.  Mari kita bahas secara singkat saja.

Pemimpin sejatinya adalah orang yang melakukan atau menjalankan roda kepemimpinan, dimana kepemimpinan itu sendiri adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukannya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan sehingga ia dapat berperan dalam  memberikan pengajaran atau instruksi.

Pempimpin sejati dalam kacamata umat Islam tentu saja tidak ada yang lebih sempurna dibandingkan dengan sosok Rasulullah SAW, yang memiliki sifat sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Sidiq berarti memiliki integritas, amanah berarti dapat bergerak bersama dan menjalankan tugasnya serta dapat dipercaya, fathonah berarti cerdas sehingga dapat mengarahkan apa yang ia pimpin, dan tabligh adalah pemimpin dapat menyampaikan visinya dengan baik.

Pemimpin itu tentunya juga harus dapat menjadi teladan bagi yang kaum dipimpinnya. Seorang pemimpin yang baik tidak akan memikirkan manfaat atau keuntungan pribadi apa yang dia peroleh dari apa yang ia pimpin. Pemimpin adalah figur yang teguh dalam mengemban amanah, baik itu ringan maupun amat berat, sebuah tanggung jawab yang tidak akan pernah dibebankan kepada orang lemah yang tidak mampu memikulnya. Seorang pemimpin yang sedari awal telah menyiapkan banyak perbekalan, jasad dan ruhiyah yang kuat, sosok yang amanah, ilmu yang dalam, jiwa kader yang kokoh, lingkungan manusia terbaik yang akan terus saling menyokong dan bekerja sama, serta tujuan, visi, dan mimpi, yang akan menjadi pedoman, ke arah mana ia akan mengajak orang untuk mengikutinya berjalan.

Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik pemimpin adalah orang yang kamu cintai dan dia juga mencintai kamu, kamu mendoakannya dan dia pun mendoakanmu. Dan sejahat-jahat pemimpin ialah orang yang kamu benci dan membenci kamu, kamu kutuk dan  juga mengutuk kamu…” (HR. Muslim)

Namun kita harus maklum bahwa keempat kriteria di atas belum tentu dimiliki secara sempurna dalam diri seorang pempimpin. Dalam kondisi terpaksa jika harus memilih yang terbaik diantara dua pilihan yang buruk, maka figur yang paling sedikit kekurangannyalah yang harus dipilih. Dalam suatu kisah disebutkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang dua orang yang dicalonkan untuk memimpin pasukan yang sayangnya masing-masing memiliki kelemahan. Yang pertama kuat tapi bergelimang dosa sedangkan yang kedua baik keagamaannya namun lemah fisiknya. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “Orang yang pertama, dosanya dipikul dirinya sendiri sedangkan kekuatannya akan mendukung kepentingan umat, sedangkan orang kedua keberagamaannya untuk dirinya sendiri sedangkan kelemahannya menjadi petaka bagi yang dipimpinnya.”

Sementara mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie memiliki kriteria tersendiri terhadap orang-orang yang pantas menjadi pemimpin. Menurut beliau, untuk menjadi pemimpin harus mampu mengimplementasi wawasan. Lebih jauh dikemukakan oleh Habibie, bahwa pemimpin juga harus bisa mengkombinasikan 3 unsur peradaban, yakni agama, budaya dan iptek. Hal ini akan mencerminkan kualitas kesejahteraan. Habibie juga menyebut, pemimpin harus memiliki visi. Pemimpin sejati harus fokus pada hal-hal spiritual. Pemimpin harus melayani sesama dan lebih mengutamakan relasi dibandingkan dengan status dan kekayaan.

Namun rasanya kurang afdol jika kita tidak menyoroti bagaimana aspek kepemimpinan menurut tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara. Menurut tokoh nasional ini seorang pemimpin sejati harus memiliki tiga sifat:

  1. Ing ngarso sung Tulodo, artinya seorang pemimpin, kalau berada didepan harus mampu memberikan suri tauladan kepada anak buahnya, kata kuncinya adalah memberi tauladan.
  2. Ing Madya Mangun Karsa, apabila berada di tengah harus mampu membangkitkan motivasi dan inovasi.
  3. Tut Wuri Handayani. Apabila seorang pemimpin berada di belakang, harus bisa memberi dorongan moral dan semangat kerja pada orang yang dipimpinnya, yang pada akhirnya dapat menumbuhkan motivasi dan semangat.

Dalam sebuah milis kampus saya baca sekilas cuplikan tentang sosok Ki Hajar Dewantara yang cukup menarik untuk saya kutipkan dibawah ini.

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Jadi Pemimpin, sesungguhnya menderita.”
Rakyat masih tidur di pagi hari, pemimpin sudah bangun. Memikirkan ide, konsep dan realisasinya untuk kemakmuran rakyatnya. Rakyat sudah tidur di malam hari, ia masih bangun, melakukan evaluasi dan solusi yang telah dilakukan. Ia mendatangi sendiri rakyatnya untuk mengetahui persis masalah mereka, guna mencarikan jalan keluarnya. Bukan cuma duduk sambil menunggu laporan dari bawahan.

Nah, Jokowi (Gubernur DKI) tampaknya sedikit banyak mempraktekkan perilaku tokoh pendidikan tersebut. Lihat saja gaya blusukannya ke masyarakat kecil yang membuat para anak buah terpontang-panting untuk mengikuti langkahnya. Sementara itu beberapa hari lalu media elektronik dan cetak secara nasional menyuguhi kita berita tentang kesertaan Presiden kita di facebook dan youtube setelah sebelumnya tampil di twitter.

sby facebook

Duh, sang pemimpin  . . .

Ciputat, 10 Juli 2013.

Leave a Comment

Filed under Inspiration, social, society

Oleh-Oleh dari Situs Percandian Batujaya Karawang, Jawa Barat

logo

 

PENGANTAR

Jawa Barat awalnya dianggap “miskin” tentang tinggalan masa lalu berupa candi. Namun citra ini mulai berubah dengan ditemukannya beberapa situs yang diidentifikasi sebagai candi di beberapa wilayah, seperti Cangkuang (Garut), Situs Binangun, Pamarican, Pananjung, dan Rajegwesi (Ciamis); Cibuaya dan Batujaya (Karawang); serta Bojongmenje (Kabupaten Bandung). Dugaan para ahli, hanya bangunan-bangunan candi di Situs Batujaya sajalah yang memiliki latar agama Budha, sedangkan candi-candi lainnya agama Hindu.

Sejak ditemukan oleh tim arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (kini Fakultas Ilmu Budaya / FIB) tahun 1984, sampai saat ini (29 tahun) telah dilakukan serangkaian penelitian oleh berbagai pihak untuk menguak “misteri” percandian di situs ini. Sebagian “misteri” memang telah terungkap, namun masih banyak lagi yang perlu diteliti untuk dapat mengisi kerangka sejarah politik, sosial dan budaya masa lalu di Jawa Barat.

Mengingat potensi Situs Batujaya yang begitu besar, baik untuk pelestarian peninggalan budaya pemanfaatan dan pengembangannya, maka Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Deputi Sejarah dan Purbakala menyelenggarakan workshop yang digelar bulan Aprul 2002 dan dilanjutkan dengan pembangunan Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Situs Batujaya pada tahun 2004. Gedung ini diharapkan dapat mensosialisasikan hasil penelitian para ahli kepada masyarakat luas.

Namun tampaknya gedung yang sejatinya berfungsi sebagai “Pusat dokumentasi, informasi, sarana pembelajaran dan penelitian, serta obyek wisata budaya yang handal di wilayah Karawang,” belum sepenuhnya memenuhi harapan. Ketika kami mengunjungi lokasi tersebut belum lama ini, gedung yang cukup terawat bersih terlihat sepi-sepi saja kecuali seorang staf wanita yang sedang bertugas.

 

LATAR SEJARAH

Bila kita merujuk pada sumber-sumber sejarah, bahwa di Jawa Barat terdapat sebuah kerajaan tertua yakni Kerajaan Taruma (Tarumanagara) yang berkembang pada abad ke-4 hingga 8 Masehi (Ayatrohaedi, FSUI, 1986: 2). Berdasarkan prasasti-prasasti dan peninggalan arkeologi yang berhasil diidentifikasi dan tersebar di wilayah Kabupaten Karawang, Bekasi, Bogor, Pandeglang dan DKI Jakarta sebagai tinggalan masa Kerajaan Tarumanagara, maka dapat diduga wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Jawa Barat dan Banten.

Bukti sejarah yang sangat penting diantaranya Prasasti Tugu yang ditemukan di Desa Tugu, keacamatan Koja, Jakarta Utara. Isi ringkas prasasti ini menyebutkan tentang pembuatan saluran Gomati Candrabaga dan pemberian anugerah raja kepada Brahmana yang menyelamatkan pembatan saluran tersebut.

Sedangkan saluran Ciaruteun, ditemukan di Sungai Ciaruteun Kabupaten Bogor, yang isinya menyebutkan bahwa relief yang ada di atas prasasti itu merupakan tanda kaki Raja Purnawarman.

Peninggalan-peninggalan di Situs Batujaya bersifat Budhistik (abad 4-8 M) dan Situs Cibuaya bersifat Hinduistik (abad 7-8 M). Di Indonesia kedua agama ini pada abad ke-4 sampai abad ke-15 M menjadi agama yang umum dianut oleh masyarakat. Penganut kedua agama tersebut hidup rukun berdampingan bahkan ada yang menyebutkan adanya sinkretisme.

Dengan memperhatikan bukti-bukti sejarah (Prasasti Tugu, Ciaruteun, Koleangkak dan Kebonkopi, Naskah Carita Parahyangan, Pustaka Paratwan i Bhumi Jawadwipa, Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, dan catatan/berita dari Cina) dan keletakan Kawasan Batujaya, diguga kuat Situs Batujaya merupakan tinggalan Kerajaan Tarumanagara. Menurut Ayatrohaedi (FSUI, 1986: 2) daerah Batujaya sebagai bagian dari wilayah kekuasaannya.

 

Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Situs Batujaya yang diresmikan Maret 2004.

Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Situs Batujaya yang diresmikan  pada bulan Maret 2004.

 

LOKASI SITUS BATUJAYA

Situs Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Luas situs Batujaya ini diperkirakan sekitar 5 kilometer persegi. Situs ini terletak di tengah-tengah daerah persawahan dan sebagian di dekat permukiman penduduk dan tidak berada jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (pantai Ujung Karawang). Batujaya kurang lebih terletak enam kilometer dari pesisir utara dan sekitar 500 meter di utara Citarum. Keberadaan sungai ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keadaan situs sekarang karena tanah di daerah ini tidak pernah kering sepanjang tahun, baik pada musim kemarau atau pun pada musim hujan.

Lokasi percandian ini jika ditempuh dengan kendaraan pribadi dari arah  Jakarta, dapat dicapai dengan mengambil jalan tol Cikampek. Lalu keluar di Exit Karawang Barat dan mengambil jurusan Rengasdengklok. Selanjutnya mengambil jalan ke arah Batujaya di suatu persimpangan.  Sepanjang jalan kita akan dituntun oleh rambu petunjuk jalan yang bertulisan “Candi Jiwa Batu Jaya” sehingga kecil kemungkinannya untuk salah jalan. Walaupun jika ditarik garis lurus hanya berjarak sekitar 50 km dari Jakarta, waktu tempuh ternyata bisa mencapai tiga jam lamanya karena kondisi jalannya setelah keluar tol agak kurang mulus serta diramaikan oleh sepeda motor dan truk-truk.

 

SITUS CANDI TERTUA DI INDONESIA?

Sejumlah artikel yang membahas situs Batujaya menyebutkan bahwa inilah kompleks candi tertua yang pernah ditemukan di Indonesia hingga saat ini  yang seakan memberikan bukti Indonesia dilahirkan lewat rahim orang-orang berbekal teknologi tinggi.

Situs percandian Batujaya berjarak kurang dari 1 kilometer di sebelah timur aliran Sungai Citarum. Luas kompleksnya mencapai 5 kilometer persegi atau 500 hektar yang mencakup wilayah Desa Segaran Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya Kecamatan Pakisjaya, sekitar 47 kilometer arah barat laut dari pusat kota Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

IMG_5336

Candi Jiwa yang terbuat dari dari bahan batu bata, mirip dengan candi Muaro Jambi.

IMG_5324

Situs Candi Jiwa yang jaraknya sekitar 100 m dari Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Situs Batujaya

 

Kompleks Candi yang pertama kali diteliti tim jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu memiliki 30 situs candi dan tempat pemujaan. Dalam kunjungan kami ke Batujaya di awal Mei 2013, petugas di Gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya Situs Batujaya menyebutkan bahwa temuan terakhir menunjukkan adanya 39 titik yang diduga sebagai situs candi dan tempat pemujaan. Namun candi yang telah selesai diekskavasi adalah Candi Jiwa yang berbentuk bujur sangkar ukuran 19 meter x 19 meter serta Candi Blandongan yang berukuran 25,33 meter x 25,33 meter.

Temuan situs Batujaya ini memang tidak seluas kompleks Candi Muaro Jambi yang saya kunjungi di tahun 2010 dengan luas areal 2000 Ha yang terbentang sepanjang 7,5 km di tepi sungai Batanghari yang memiliki 82 candi.

Satu hal yang menarik bagi saya, candi di situs Batujaya ini terbuat dari batu bata, mirip dengan candi Muaro Jambi. Menurut para ahli, proses pembuatan bata batu sudah sangat maju karena menerapkan inovasi campuran sekam atau kulit padi. Campuran itu diyakini mematangkan bagian dalam batu bata saat dipanaskan hingga suhu 700 derajat celcius.

Pada masa lampau, masyarakat membuat batu bata dengan menggunakan kayu sebagai media bakarnya. Itulah yang membedakan batu bata pada masa lampau yang lebih terlihat gosong dibandingkan dengan batu batu masa sekarang yang dibakar menggunakan oven. Dan yang membuat uniknya, batu bata di situs Batujaya itu berukuran sangat besar dibandingkan dengan ukuran batu bata di daerah Jakarta dan sekitarnya.

Teknologi lain adalah stuko atau plester berwarna putih berbahan dasar kapur. Kapur diambil dari pegunungan kapur di Karawang Selatan. Perbukitan itu masuk dalam Formasi Parigi yang terdiri dari batu gamping klastik dan batu gamping terumbu yang melintang dari arah barat ke timut dengan panjang 20 kilometer.

Bahan pembuatan dan kegunaannya pun disesuaikan dengan tujuan penggunaan. Untuk melapisi tembok, arsitek mencampur kapur dan kulit kerang. Hal ini terkait keberadaan candi yang berada di tepi pantai. Kerang dianggap sebagai bahan kuat penahan abrasi air laut. Stuko juga digunakan untuk membuat ornamen, relief, dan arca. Untuk ini, biasanya pekerja membakar kapur dengan suhu 900 – 1000 derajat celsius. Sedangkan untuk memperoleh fondasi yang kuat, kapur dicampur dengan pasir, dan kerikil.

 

SEKILAS CANDI JIWA DAN CANDI BLANDONGAN

Situs Candi Jiwa dan Candi Blandongan merupakan dua candi yang telah selesai di ekskavasi dan dapat dicaai dengan berjalan kaki atau naik motor melalui jalan setapak yang terbuat dari semen. Candi Jiwa disebut juga Situs Segeran 2 atau oleh masyarakat setempat disebut Hunyur (Unur) Jiwa. Situs Candi ini berukuran 19 x 19 m dengan ketinggian 4,7 m dari permukaan sawah, pada bagian atas terdapat sejumlah bola tersusun melingkar diperkirakan adalah tempat Stupa.

Nama Candi Jiwa diberikan penduduk karena konon setiap kali mereka menambatkan kambing gembalaannya di atas reruntuhan candi tersebut, ternak tersebut mati. Candi yang ditemukan di situs ini seperti candi Jiwa, struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Budha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Bentuk seperti ini adalah unik dan belum pernah ditemukan di Indonesia. Ketika umat Budha melakukan ritual ditempat ini mereka mengitari candi jiwa searah dengan perputaran jarum jam.

Situs Candi Jiwa terbuat dari bata merah, dan hasil Carbon Dating menunjukan pada satu sisi menunjukan abad ke IV dan pada sisi lainnya menunjukan Abad ke VII Masehi, masa itu adalah Masa kejayaan Kerajaan Tarumanegara. Pada areal ini telah di ekskavasi pula Situs Candi Blandongan yang jaraknya hanya 100 m dari Candi Jiwa.

IMG_5355

Tulisan peringatan MOHON TIDAK NAIK yang dipajang di Candi Blandongan ternyata tidak dipatuhi oleh pengunjung.

IMG_5359

Susunan batu bata terlihat rapih.

 

Sebagai perbandingan, tipikal bangunan Candi Muaro Jambi yang juga terbuat dari batubata.

Sebagai perbandingan, tipikal bangunan Candi Muaro Jambi yang juga terbuat dari batubata.

Sementara Situs Candi Blandongan adalah Candi dengan struktur pasangan batu bata, pada Candi ini juga ditemukan lantai Cor Beton menurut analisa adalah campuran batu koral, kapur kulit kerang dan pasir atras, Candi ini berukuran 24,6 m x 24,6 m dengan ketinggian 4,9 m dari permukaan sawah, di Candi ini juga ditemukan materi–materi dalam keadaan utuh sebanyak 10 buah dan sejumlah pecahan.

 

PENUTUP

Kunjungan saya ke situs Batujaya diatas merupakan kunjungan yang kesekian kalinya terhadap situs-situs bersejarah di bumi nusantara ini. Kesimpulan yang saya peroleh mirip dengan saat mengunjungi Candi Muaro Jambi, kompleks candi terluas di Nusantara. Kita memang merupakan bangsa yang belum memiliki apresiasi dan penghargaan terhadap budaya dan sejarah masa lalu.  Pengelolaan situs-situs sejarah di seantero bumi nusantara masih memprihatinkan dan jauh dari memadai. Bicara soal candi, sepertinya masyarakat kita hanya terpaku kepada Candi Borobudur dan Prambanan belaka. Bangunan candi di Batujaya memang tidak spektakuler seperti di Borobudur dan Prambanan, namun ia memiliki nilai sejarah yang tinggi mengingat prediksi usianya sebagai candi tertua di Indonesia. Wallahualam.

(referensi: berbagai sumber di website)

Ciputat, 12 Mei 2013.

 

 

3 Comments

Filed under Culture, History

Sekilas Surau Nagari Lubuk Bauk, salah satu masjid tua di Sumatera Barat.

IMG_4190

Surau Nagari Lubuk Bauk tidak sulit untuk dikunjungi. Lokasinya berada di pinggir jalan raya Batusangkar – Padang yang secara administratif terletak Desa Lubuk Bauk, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Bangunan surau ini terletak lebih rendah sekitar satu meter dari jalan raya berbatasan dengan jalan raya Batusangkar – Padang di bagian utara, kolam dan masjid di bagian timur, kolam dan rumah penduduk di bagian selatan, dan rumah penduduk di bagian barat.

lbk_baukSurau Lubuk Bauk didirikan di atas tanah wakaf Datuk Bandaro Panjang, seorang yang berasal dari suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku. Dibangun oleh masyarakat Nagari Batipuh Baruh dibawah koordinasi para ninik mamak pada tahun 1896 dan dapat diselesaikan tahun 1901. Bangunan yang bercorak Koto Piliang yang tercermin pada susunan atap dan terdapatnya bangunan menara, sarat dengan perlambang dan falsafah hidup ini memiliki peran besar dalam melahirkan santri dan ulama yang selanjutnya menjadi tokoh pengembang agama Islam di Sumatera Barat. Pada tahun 1984 dilakukan studi kelayakan dalam rangka pemugaran oleh Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumatera Barat. Tindak lanjut dari studi kelayakan tahun 1984 adalah pelaksanaan pemugaran Surau Lubuk Bauk oleh Pemerintah Daerah setempat pada tahun anggaran 1992/1993. Sampai saat ini Surau Lubuk Bauk masih digunakan sebagai tempat belajar mengaji dan mengadakan musyawarah/rapat bagi masyarakat setempat, disamping sebagai obyek wisata budaya.

lbk_bauk2Surau Lubuk Bauk berdenah bujur sangkar, terbuat dari kayu surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai kemuncak sekitar 13 m. Bangunan dikelilingi pagar besi berbentuk panggung dengan tinggi kolong 1,40 meter terdiri dari tiga lantai dan satu lantai berfungsi sebagai kubah/menara yang terletak di atas atap gonjong berbentuk segi delapan. Pintu gerbang terletak di timur menghadap ke selatan (jalan raya), sedangkan pintu masuk surau terletak di timur dan naik melalui enam buah anak tangga. Di atas pintu (ambang pintu) terdapat tulisan arab “Bismillahirrahmanirrahim” yang dibuat dengan teknik ukir dan di belakangnya ditutup dengan bilah papan. Di depan pintu terdapat tempat mengambil air wudlu. Atap bangunan terbuat dari seng bersusun tiga. Atap pertama dan kedua berbentuk limasan, sedangkan atap ketiga yang juga berfungsi sebagai menara memiliki bentuk gonjong di keempat sisinya. Pada bagian puncak, atapnya membentuk kerucut dengan bentuk susunan buah labu/bola­bola.

Bangunan surau terdiri atas tiga lantai. Denah lantai satu berukuran 12 × 12 meter yang merupakan ruang utama untuk sholat dan juga tempat belajar agama. Di sisi barat terdapat mihrab berukuran 4 × 2,5 meter. Di ruang ini tidak terdapat mimbar. Ruang utama ini ditopang oleh 30 tiang kayu penyangga yang bertumpu di atas umpak batu sungai. Menurut keterangan masyarakat, jumlah tiang sebanyak itu sama dengan jumlah tiang rumah gadang menurut adat Minangkabau. Tiang-tiang tersebut berbentuk segi delapan dan tiang bagian tengah diberi ukiran di sebelah atas serta bagian bawahnya. Dinding dan lantai terbuat dari bilah papan, dan pada sisi utara, selatan, dan timur terdapat jendela yang diberi penutup. Di bagian luarnya terdapat ukir-ukiran berpola tanaman sulur-suluran. Ukiran diletakkan di bagian atas lengkungan-lengkungan yang menutupi kolong bangunan.

Lantai dua berukuran 10 × 7,5 meter, lebih kecil dari lantai satu. Untuk masuk ke lantai dua harus melalui sebuah tangga kayu. Tiang utama (empat tonggak) di lantai dua juga diberi ukiran-ukiran yang berpola sama dengan tiang di lantai satu.

Sedangkan lantai tiga berdenah bujur sangkar berukuran 3,5 × 3,5 meter. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu tiang dengan tangga melingkar untuk naik ke menara. Sedangkan bagian luar lantai tiga membentuk empat serambi dengan atap membentuk gonjong yang memantulkan ciri-ciri khas bangunan Minang yang menghadap ke arah empat mata angin.

lbk_bauk3Dinding serambi yang menghadap luar penuh dengan ukiran yang diberi wama merah, kuning, dan hijau mengambil pola tumbuhan pakis seperti pola bias pada bangunan rumah seorang tokoh masyarakat atau pemerintahan. Di salah satu bidang hias, di setiap serambi terdapat dua ukiran bundar yang bagian tengahnya disamar oleh tumbuh-umbuhan. Ukiran tersebut mengingatkan pada motif uang Belanda dan mahkota kerajaan. Menurut keterangan masyarakat, empat serambi melambangkan “Jurai nan Ampek Suku”, agama, dan lambang dan empat tokoh pemerintahan (Basa Empat Balai) kerajaan Pagarruyung. Sedangkan ukiran pakis di bagian luar serambi melambangkan kebijaksanaan, persatuan, dan kesatuan dalam nagari.
Bangunan menara berdenah segi delapan berdinding kayu dengan jendela jendela semu yang diberi kaca di setiap sisinya. Pada bagian luar, terdapat ukiran sulur-suluran pada bagian bawah dan pada bagian atasnya terdapat hiasan dengan pola segi empat. Bagian atas menara diberi kemuncak yang terdiri dari bulatan-bulatan (labu-labu) yang makin ke atas semakin mengecil dan di akhiri oleh bagian yang runcing (gonjong).

Ciputat, 28 April, 2013

(sumber: website http://kemenag.go.id dan buku Masjid-Masjid Kuno di Indonesia, terbitan Genta Kreasi Nusantara)

1 Comment

Filed under Culture, Religious / spiritual

Mengapa seseorang bisa sakit sementara yang lain tetap sehat?

extraordinary_healing

Banyak orang yang masuk kantor sambil menyalahkan anggota keluarganya yang lain, atau orang yang duduk di samping mereka di pesawat, karena infeksi bronkitis atau tenggorokan yang mereka alami. Sikap ini wajar-wajar saja. Namun, karena bakteri, virus, dan organisme lain bisa hidup dimana saja di lingkungan kita dan di udara yang kita hirup, mikroorganisme ini jelas bukan satu-satunya penyebab penyakit. Jika merekalah satu-satunya sang penyebab, tentu kita semua akan menderita sakit sepanjang waktu. Juga, jika kuman bisa menular dari satu orang ke orang lain dengan mudahnya, maka dokter yang menghabiskan waktunya setiap hari bersama orang-orang yang menyebarkan kuman ini, harusnya menjadi yang paling sering sakit. Tapi ternyata tidaklah demikian keadaannya.

Dalam kondisi normal, bakteri dan virus di lingkungan kita biasanya tidak terlalu mengganggu kita. Tetapi apa gerangan yang membuat kita mendadak jadi terinfeksi dan terpengaruh oleh bakteri dan virus tersebut? Apakah mereka yang menjadi penyebabnya, atau justru sesuatu yang ada di dalam diri kita? Dari hasil penelitian yang terkini ditemukan  bahwa hal yang kedua yang menjadi penyebabnya, yaitu diri kita sendiri. Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari wabah penyakit di dunia, yang dikenal sebagai epidemi. Dalam konteks ini dikenal sebuah model klasik yang disebut sebagai segitiga epidemiologi.

Segitiga epidemiologi menggambarkan bahwa timbulnya penyakit tergantung kepada tiga faktor:

  1. host (tubuh) yang merupakan orang yang menjadi target potensial dari penyakit;
  2. agen, yang berupa organisme atau faktor penyebab penyakit yang memulai atau mentransmisikan penyakit; dan
  3. lingkungan, di mana host dan agen berada atau datang. Ilmu kedokteran akan menimbang dan mengukur ketiga faktor tersebut untuk membantu menemukan asal-usul sebenarnya dari penyakit, sambil berupaya untuk memecahkan dan mencegah terjadinya epidemi di masa depan.

Sementara penelitian medis sebelumnya lebih banyak menyoroti agen virulensi seperti bakteri dan virus yang menyebabkan penyakit, penelitian medis terbaru justru  memberikan perhatian lebih besar terhadap faktor resistensi host, yaitu faktor dalam diri yang membuat kita tetap sehat dan membantu kita melawan penyakit. Kita bisa memikirkan faktor resistensi host sebagai sumber daya penyembuhan internal tubuh. Faktor ini yang menentukan kerentanan seseorang terhadap sakit dan penyakit serta mencerminkan ketahanan alami seseorang. Dengan memahami faktor resistensi host, kita akan mengerti mengapa ada orang yang sakit sementara yang lainnya sehat-sehat saja, bahkan ketika mereka sama-sama berhadapan dengan agen penyebab penyakit; mengapa ada orang yang lebih sering sakit daripada yang lain, dan mengapa penyakit tertentu tampaknya memiliki afinitas untuk orang-orang tertentu saja.

Riset terhadap faktor-faktor resistensi host menunjukkan bahwa, bagi orang-orang yang hidup di dunia modern, negara maju, faktor yang paling utama dalam menentukan tingkat kesehatan dan kerentanan terhadap penyakit bergantung kepada seberapa jauh kita peduli dengan diri kita, seberapa baik kita memelihara dan menghormati tubuh kita, dan seberapa baik kita menghargai keadaan kesehatan kita secara alami. Faktor-faktor ini tergantung pada pilihan yang kita ambil dalam kehidupan sehari-hari.

Studi pada faktor-faktor resistensi host juga memberikan kesadaran bahwa disamping sistem kekebalan tubuh, ada lagi sistem yang sangat penting di dalam tubuh yang bertanggung jawab terhadap ketahanan alami seseorang, dan kemampuannya untuk menyembuhkan dirinya sendiri serta menjaga agar diri tetap sehat. Sistem ini adalah sistem penyembuhan tubuh (body’s healing system), sistem terbaru yang ditemukan, dan salah satu yang paling penting. Tubuh manusia tahu bagaimana untuk menyembuhkan dirinya sendiri dan mempertahankan keadaan kesehatan alaminya melalui sistem penyembuhan yang dimilikinya.

(Sumber: Extraordinary Healing, The Amazing Power of Your Body’s Secret Healing System – Art Brownstein, M. D., 2005)

Ciputat, 22 April 2013

2 Comments

Filed under education

Bagaimana Mengatasi Kelelahan Kerja Karyawan Anda?

tips for manager

Dengan semakin berperannya fungsi Teknologi Informasi (TI) di dalam perusahaan belakangan ini, tuntutan perusahaan terhadap staf TI tanpa disadari juga semakin meningkat.
Seorang programmer yang berkacata mata tebal yang sering tidur di kolong meja kantor, serta menikmati makan malam di kantor boleh jadi merupakan pemandangan yang biasa saja di sebuah perusahaan yang menggunakan sistim TI secara intens.

Tuntutan kepada TI dirasakan semakin berat karena beberapa alasan:

  • Hampir setiap aspek dalam perusahaan atau korporasi tergantung kepada TI dan layanannya.
  • Tugas dan solusi yang diemban oleh tim TI semakin kompleks, rumit, dan intens.
  • Dalam dunia digital dewasa ini, kita seolah bekerja 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dengan tuntutan yang tanpa henti. Mengapa demikian? Ya, karena teknologi canggih saat ini memungkinkan orang untuk bekerja 24 jam sehari, dari mana saja di belahan dunia, dengan perangkat yang bisa masuk dalam saku, beranjak tidur hanya ketika badan sudah tidak kuat lagi untuk tetap terjaga.
  • Daya tarik dari tantangan teknis yang kompleks seringkali menggairahkan orang untuk bekerja 20 jam sehari. (Pada hari-hari awal mengembangkan Macintosh, Steve Jobs membagi-bagikan T-shirt yang bertuliskan: “Bekerja 90 jam seminggu dan nikmatilah hal itu“)
  • Staf TI dibutuhkan hadir selama jam kerja untuk memastikan bahwa sistem berjalan sebagaimana mestinya dan menanggapi masalah. Namun, staf tersebut juga terkadang diperlukan selepas jam kantor, karena hanya dalam jendela waktu itu pekerjaan tertentu seperti pemeliharaan (maintenance) dan upgrade bisa dilakukan.
  • Tidak seperti hari-hari di perusahaan perakitan, pekerjaan TI tidak diukur dalam produk yang dihasilkan per unit waktu sehingga tidak ada indikator eksternal yang jelas ketika pekerjaan tersebut telah selesai (“TI adalah pekerjaan dimana Anda akan memperoleh nilai “F” jika gagal, tetapi hanya meraih “C” jika berhasil. – “this stuff is supposed to work, right?” Bill Gates, Business @ Speed of Thought?)
  • Karyawan yang sangat bersemangat dan termotivasi mungkin tidak menyadari kondisi yang tengah mereka geluti. Meskipun Anda mungkin tergoda untuk mendorong staf agar bekerja semaksimal mungkin (push them to the limit), harap diingat bahwa Anda tidak akan banyak memperoleh hasil tambahan jika staf Anda telah berada diambang batas kemampuannya.
  • Banyak perusahaan baru yang bekerja efisien menuntut lebih dari departemen TI, sementara staf yang ada dipertahankan pada level yang sama atau bahkan ada yang dikurangi. Tantangan semacam ini telah membawa banyak departemen TI bekerja ke titik paling optimal dan melelahkan.

Sebagai seorang manager, Anda dituntut untuk melakukan beberapa tindakan untuk mengawasi dan menghindari terjadinya kelelahan kerja (burnout) di kalangan staf Anda seperti misalnya:

  • Miliki kejelasan tentang kinerja dan produktivitas yang diharapkan dari karyawan Anda. Susun metriks dan langkah-langkah pengukuran sederhana dan sering-seringlah mengkomunikasikannya dengan mereka. Dapatkan komitmen yang realistis dari karyawan Anda mengenai batasan waktu penyelesaian tugas. Yang juga penting, pastikan mereka merasa nyaman untuk menyampaikan masukan ketika tuntutan Anda/perusahaan dirasakan terlalu tinggi atau tidak realistis bagi mereka.
  • Menyadari tingkat kemampuan dan kontribusi semua anggota tim Anda. Jangan berpikir menggunakan angka mutlak. Bekerja selama 10 jam dalam satu hari mungkin Anda anggap bukanlah sesuatu masalah besar. Tetapi hal ini akan menjadi sebuah komitmen berat bagi seorang single parent atau mereka yang baru saja bergabung dan menangani tiga proyek sekaligus.
  • Bagilah tugas secara adil dan merata. Jumlah jam kerja di dunia TI seolah tidak ada habisnya. Sebagai seorang manager, Anda memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan dan karyawan untuk mengalokasikan beban kerja secara adil dan merata. Setiap orang memiliki output kerja yang berbeda, sama seperti halnya cara kerja dan gaya komunikasi setiap individu. Adalah tugas seorang manager untuk mempertimbangkan tim secara keseluruhan, bahwa setiap orang merupakan bagian penting dari keseluruhan itu, dan memperoleh bagian pekerjaan dalam konteks tersebut.
  • Lakukan perubahan personalia sesuai dengan kebutuhan pekerjaan tim. Perlu lebih banyak anggota? Mintalah masukan dari tim dan siapkan justifikasi Anda dalam angka, sebagai alasan kepada manajemen mengapa Anda membutuhkan mereka. Jika Anda lihat seorang staf yang berkualitas mungkin akan mengundurkan diri karena perusahaan membebaninya terlalu keras, pertimbangkan untuk memberinya tugas lain. Anda melihat seseorang menangani pekerjaan yang jauh melebihi kapasitasnya? Carilah posisi di tempat lain dalam perusahaan dimana orang ini dapat memberikan kontribusi yang lebih efektif. Dalam hal ini Anda harus hati-hati dan bijaksana dalam bersikap, karena pihak karyawan mungkin tidak paham dengan maksud tindakan Anda.
    Perlu disadari bahwa secara umum, dunia TI bukanlah tempat bagi mereka yang penakut dalam bertindak.
  • Sadarilah bahwa setiap orang akan memberikan kontribusi yang berbeda-beda. Beberapa karyawan hanya dapat memberikan kontribusi 40 jam kerja dalam seminggu, sekalipun duduk di mejanya selama 60 jam. Pekerja lainnya mampu melipat gandakan upaya mereka dalam waktu yang singkat, jika diminta. Seringkali, bekerja dengan kecepatan yang tinggi bukanlah cara yang terbaik untuk mencapai suatu target. Kita harus peka terhadap apa yang memotivasi seorang karyawan, apa saja kebutuhan dan keterbatasannya. Sadarilah bahwa sejauh ini kita hanya dapat mendorong, atau bahkan mereka mendorong diri sendiri. Sebagai manager, Anda harus mampu mengetahui kapan mereka dapat didorong dan kapan kapan Anda harus memaksa mereka untuk break, mengambil istirahat. Lakukan ini dengan cermat dan Anda akan dianugerahi sebuah tim yang jauh lebih produktif dan bermotivasi tinggi.
  • Pada akhirnya, sebagai seorang manager Anda perlu memberikan reward and punishment kepada semua bawahan Anda secara adil sesuai dengan prestasi dan kontribusi mereka. Gagal dalam aspek yang satu ini bisa berdampak serius terhadap kinerja tim atau bahkan terhadap reputasi Anda sebagai seorang manager yang sukses.

Ciputat, 3 Maret 2013.

1 Comment

Filed under Inspiration, IT CORNER

Rumah Kayu Unik di Kampung Pedagang Antik

Rumah kayu dilihat dari arah Nagari Sarik.

Rumah kayu yang satu ini menurut saya terbilang unik. Ya memang unik, karena penampilan rumah kayu bertingkat tiga ini jauh berbeda dengan rumah-rumah tinggal yang ada disekitarnya.  Atapnya memiliki kemiripan dengan bangunan tradisional Hindu. Lokasi tepatnya berada di Jorong Suntiang, Nagari Sarik, kabupaten Agam, SUMBAR yang  diapit oleh dua gunung, Merapi dan Singgalang.

Masyarakat setempat khususnya para pengendara ojek motor menandai keberadaan rumah ini dengan sebutan batu bagowong (batu berlubang). Pasalnya, disamping rumah kayu itu bercokol sebuah batu raksasa yang memiliki lubang ditengahnya yang dapat dimasuki kepala manusia.

Menurut si empunya, H. Ismail Johan yang juga dikenal sebagai pemilik Galeri 59 di kawasan Ciputat, Tangerang,  batu raksasa yang mempunyai lubang berdiameter sekitar 75 cm itu berasal dari sebuah sungai di daerah Sijunjung. Mengangkut batu raksasa itu ke lokasinya sekarang menurut Ismail merupakan perjuangan yang tidak mudah.

Membahas sebuah rumah hanya dari penampilan luar saja, tidaklah lengkap. Rumah mungil yang terbuat dari kayu ini terlihat lebih artistik jika kita melongok kedalamnya. Ismail yang memiliki darah penggemar antik dan kayu primitif ini tampaknya sengaja mendesain rumahnya sebagai tempat peristirahatan yang asri dan alami. Interior lantai dasar termasuk dapur yang dilengkapi dengan tempat perapian betul-betul membuat kita merasa masuk ke rumah masa lalu yang terdiri dari serba kayu. Namun keberadaan TV di lantai dasar dan lantai dua serta kulkas di dekat perapian itu menyadarkan kita bahwa rumah ini bukanlah rumah kayu “the seven dwarfs” di tengah hutan yang dimasuki Snow White.

Interior serba kayu di lantai dasar memberikan kesan kuat suasana di era tahun 1950 an. Adanya kursi-kursi kecil itu bisa membuat ingatan kita  melayang ke dongeng kurcaci dan Snow White.

Suasana dapur di lantai dasar yang dilengkapi dengan kayu perapian. Nuansanya nyaris 100% tradisional jika keberadaan kulkas ditiadakan.

Interior di lantai dua. Sebuah nampan dan baki kuningan yang terpajang diatas meja ceper rendah tampak mendominasi ruangan serba kayu ini.

Menginjak ke lantai dua kita akan menemui sebuah meja kayu ceper yang terhampar di tengah ruangan yang berlapiskan tikar anyaman. Ada lemari kaca dan beberapa asesori bernuansa jadul menghiasi ruangan tersebut. Dan aha, ini yang barangkali bisa mengusik kita, yaitu keberadaan sebuah TV Flat Panel dengan decoder multi-channelnya. Di lantai dua terdapat satu kamar yang bisa digunakan oleh tamu. Dari jendela di lantai ini kita bisa menikmati pemandangan indah kearah gunung Marapi dan disisi lainnya, ke gugusan Bukit Barisan.

Pemandangan menghadap ke gunung Marapi yang tampak dari jendela lantai dua.

 

 

 

 

Andaikan tidak ada TV di lantai dua ini, maka nuansa jaman baheula akan lebih tertanam di rumah kayu ini.

Dari lantai dua, menaiki tangga kayu kita bisa naik ke lantai tiga yang merupakan kamar tidur utama. Berbeda dengan kamar tidur di lantai dua yang memiliki pintu sebagaimana kamar tidur konvensional, di lantai tiga tidak ada kamar. Praktis keseluruhan lantai tiga itu merupakan kamar tidur. Sebuah kasur besar terbentang di pojok kamar persis dibawah jendela yang menghadap ke gunung Singgalang. Jika udara sedang cerah, kita akan menikmati pemandangan yang amat menyejukkan hati.

Ruang tidur utama yang terletak di lantai 3 betul-betul memberikan suasana yang damai dan udara sejuk, terutama jika jendela yang menghadap ke gunung Singgalang dibuka.

Itulah sedikit ulasan tentang rumah mungil bertingkat tiga yang keseluruhannya terbuat dari kayu kampeh, sejenis kayu keras khas  Sumatera, yang mirip dengan kayu ulin di Kalimatan.

Ciputat, 16 Desember 2012.

4 Comments

Filed under Culture, Travel

Sekilas tentang Masjid Raya Bingkudu di SUMBAR

Keberadaan Masjid tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di Minangkabau. Sebab sebagai salah satu tempat ibadah, masjid merupakan bangunan suci yang mesti ada pada suatu daerah ataupun perkampungan yang berpenduduk muslim.

Menurut data yang dimiliki oleh Departemen Agama Provinsi Sumbar, dewasa ini terdapat sekitar 5.682 unit masjid di SUMBAR, beberapa diantaranya merupakan masjid-masjid bersejarah yang tekah berumur berumur ratusan tahun, yang nyaris terlupakan. Yang terlupakan, karena di samping gencarnya pembangunan masjid-masjid baru, kurangnya perawatan dan renovasi, membuat “surau-surau” tua itu tenggelam dimakan usia. Padahal dulunya, selain sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan tempat  belajar. Tak jarang, para alim ulama, cerdik pandai, dan tokoh-tokoh besar negeri ini lahir di didik di masjid. Mulai dari belajar tentang agama, adat istiadat, ilmu beladiri silat, tempat musyawarah, serta banyak kegunaan positif lainnya.

Masjid-masjid tua yang kita temukan dan masih digunakan seperti di Sumatera Barat, memberikan gambaran bahwa proses akulturasi yang harmonis telah terjadi antara budaya lokal atau pra Islam dengan budaya yang datang kemudian. Sehingga tidaklah heran jika kita lihat adanya keterpaduan antara unsur lokal dengan budaya luar seperti Jawa, Melayu, Timur Tengah, Cina, India dan Eropa.

Dahulu, masjid tidak hanya diramaikan oleh para orang tua saja, tetapi juga merupakan tempat berkumpul anak-anak muda. Di Minangkabau dahulunya, seorang anak lelaki yang telah mencapai usia akil baligh pantang untuk tidur di rumah orang tuanya. Mereka hanya menempati rumah orang tuanay di siang hari.

Namun, dewasa ini pemandangan yang kita lihat di masjid-masjid telah jauh berbeda. Nyaris tidak ada anak muda yang tidur di surau, mempelajari agama dan menghidupkan masjid dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Kehidupan masyarakat memang telah berubah. Maka tinggallah masjid-masjid bersejarah tersebut dalam kesunyian dan menjadi lapuk seiring perkembangan zaman.

Salah satu masjid tua yang masih kita temui saat ini adalah Masjid Raya Bingkudu di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Menurut cerita masyarakat setempat, masjid beratap ijuk ini dibangun pada tahun 1813 yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh tujuh nagari. Ketujuh nagari itu adalah Canduang, Koto Lawas, Lasi Mudo, Pasanehan, Bukit Batabuah, Lasi Tuo.
Masyarakat setempat secara bersama-sama membangun masjid seluas 21 x 21 M dengan tinggi 37,5 meter ini. Yang menarik, hampir semua material yang pergunakan untuk membuat tempat beribadah ini berasal dari kayu, dari lantai, dinding, maupun tiang-tiangnya. Sedangkan atapnya yang berundak tiga, terbuat dari susunan ijuk.

Bangunan masjid dibangun dengan memakai sistem pasak. Artinya tidak satupun dari komponen penyusun masjid ini yang dilekatkan satu sama lain dengan menggunakan paku. Lampu-lampu minyak yang yang terpajang pada setiap sudut masjid rata-rata juga sudah menjadi barang antik, karena telah berumur ratusan tahun.

 

 

 

 

 

 

Pekarangan di sekitar masjid cukup indah. Tiga kolam ikan, serta satu kolam besar untuk berwudhuk membuat kesan masjid yang cukup jauh dari pemukiman penduduk itu semakin alami. Dulunya air untuk berwudhuk dialirkan dengan bambu sepanjang 175 meter dari kelurahan. Namun sekarang untuk memperlancar aliran air, salurannya diganti dengan pipa besi.

Selain itu, pada pekarangan masjid juga terdapat sebuah menara dengan ketinggian 30 meter. Seperti kebanyakan masjid yang ada, menara ini digunakan untuk mengumandangkan azan, terutama saat belum ada pengeras suara. Sementara di halaman masjid terdapat makam Syech Ahmad Thaher, pendiri sekolah pendidikan Islam yang lebih dikenal dengan MUS (Madrasah Ulumi Syriah). Beliau wafat pada tanggal 13 Juli 1960.

Di tahun 1957, atap masjid yang terbuat dari ijuk, diganti masyarakat dengan seng. Itu dilakukan karena ijuk yang yang melindungi ruangan masjid dari hujan dan panas telah lapuk. Dua tahun kemudian dilakukan renovasi dan pemugaran terhadap bangunan masjid yang lainnya.

Menurut Kepala KUA Candung, Ramza Husmen, pada tahun 1999, masjid ini diserahkan kepada Pemkab Agam, dan ditetapkan sebagai salah satu bangun cagar budaya di Agam. Dua tahun setelah itu, masjid mengalami pemugaran secara keseluruhan. “Atapnya yang dulu seng dikembalikan ke ijuk. Kemudian bagian-bagian yang lapuk diganti dan serta dicat lagi sebagaimana aslinya,” ujar Ramza.
Aktivitas keagamaan tetap berlangsung di tempat ini. Baik untuk shalat berjamaah setiap hari, shalat Jumat, serta ibadah lainnya.

Ketika kami melakukan shalat Jumat di masjid ini bulan November 2012, pengurus Masjid mengharapkan uluran tangan warga untuk membantu biaya perbaikan atap ijuk masjid yang akan dilapisi dengan aluminium foil.

Referensi:

http://candaung.wordpress.com/2008/09/07/masjid-bingkudu-di-candung-kabupaten-agam/

1 Comment

Filed under Religious / spiritual

SALERO MINANG DI PERSIMPANGAN JALAN

Belum lama ini saya bertemu dengan seorang sahabat saya yang baru saja kembali dari kota Padang. Dia berkunjung ke Padang untuk urusan kantor sekaligus ingin melepas “taragak kampuang”, melepas kangen terhadap kampung halamannya. Maklumlah, orang Minang pada umumnya lebih suka hidup dan sukses di rantau. Sahabat saya ini begitu antusiasnya ingin bercerita soal masakan Padang yang digemarinya sejak kecil. Ini tidak aneh, pikir saya dalam hati. Tapi saya dengan senang hati mencoba menjadi pendengar yang baik sambil mempersilahkannya memulai ceritanya.

“Gue kan sudah cukup lama ngga pulang ke Padang. Jadi satu hal yang mau gue lakukan adalah mencicipi masakan Padang yang asli,” katanya mengawali pembicaraan.

“Maksudnya asli bagaimana,” tanya saya bingung.

“Ya, masakan yang asli dibikin di Padang. Masakan Padang yang ditawarkan di resto Padang di Jakarta kan rasanya ngga persis sama dengan yang asli di Padang. Cabenya ngga pedas. Gue udah kepingin makan sampai berkeringat,” ujarnya menjelaskan.

“Hemm, begitu ya? Kalau begitu udah tercapai dong keinginan loe,” kata saya menimpali.

“Apaan tercapai? Siang hari kita dibawa makan ke restoran Padang yang besar. Tau nggak? Rasa cabenya sama aja dengan di Jakarta. Ngga pedas juga, malah terkesan ada campuran gula. Rada-rada manis. Gue kecewa berat. Waktu gue tanya ke pelayannya, dikasih jawaban bahwa pelanggan mereka sekarang ngga suka kalau makanannya terlalu pedas.”

Saya hanya diam sambil menyimak sahabat saya itu melanjutkan uneg-unegnya.

“Gue pikir, oke lah karena mungkin kebanyakan orang-orang yang makan di restoran besar itu bukan orang Minang asi, tapi pendatang. Jadi citarasa masakannya harus disesuaikan, sehingga rasa pedas harus dikurangi.”

“Karena masih penasaran, malam harinya gue jalan sendirian mencari masakan Padang yang gue harapkan. Akhirnya gue pilih warung makan di pinggir jalan, ya sekelas warung nasi Ampera. Ini kan tempat makan kelas bawah, warga lokal. Tentunya selera warga lokal berbeda dengan pendatang luar.”

“Tapi waktu gue cobain, ternyata sama aja. Cabenya ngga pedas seperti harapan gue. Udah ngga sama dengan masakan Ampera waktu kita nikmati di tahun 80-an. Gue akhirnya nanya ke uni yang punya warung. Jawabannya sama dengan jawaban di restoran yang tadi siang. Selera konsumen yang dijadikan alasan.”

“Gue kecewa berat. Stigma bahwa masakan Padang itu pedas sudah harus dikoreksi. Malah jauh lebih pedas sambel bikinan bebek goreng H. Slamet atau Rawon Setan,” katanya mengakhiri komentarnya soal masakan Padang.

Saya antara percaya dan ngga percaya pendengar cerita ini. Apakah betul tidak pedasnya masakan Padang adalah demi mengikuti selera konsumen? Dan apakah sampel di dua tempat makan (yang satu restoran besar dan satunya waraung nasi tradisional) yang diceritakan sahabat saya itu sudah mewakili rasa (taste) dari masakan Padang di bumi Minangkabau? Bagaimana dengan masakan Kapau di kota Bukittinggi atau bebek hijau di Kota Gadang. Pertanyaan-pertanyaan ini yang muncul di benak saya.

 

PERUBAHAN SELERA DI ERA GLOBALISASI

Demografi penduduk kota Padang saat ini sudah banyak bergeser jika dibandingkan dengan tahun 80-an. Sejak banyaknya terjadi migrasi penduduk antar pulau di nusantara kita dalam alam perkembangan budaya dan peradaban bangsa Indonesia, langsung tidak langsung, sengaja atau tak sengaja, telah terjadi pula pembauran dan penyesuaian selera makanan antar suku bangsa yang masing-masing mempunyai kekhususannya.

Sudah cukup lama di kota-kota Sumatera Barat muncul restoran-restoran yang menyajikan aneka masakan asal luar Minangkabau seperti pecel lele, gudeg, karedok, sayur asem, rawon, tahu bacem dan sebagainya.

Belakangan mulai marak terlihat di pusat-pusat pertokoan berbagai merek yang berbau Amerika/Barat yang menawarkan jenis makanan hamburger, pizza, hot-dog hingga spaghetti. Kehadirannya banyak dalam pola operasi franchise semisal Kentucky Fried Chicken, California Fried Chicken, J.C.O, McDonald dan lain-lain.

Dan yang menarik, restoran jenis franchise ini banyak diserbu oleh para generasi muda sehingga masakan Padang tradisional seolah terpinggirkan di kota-kota Sumatera Barat. Alasan digandrunginya restoran atau cafe ala Barat itu sejatinya bukan karena alasan citarasa atau karena bosan dengan masakan Padang (Minang), tetapi lebih kepada kenyamanan tempat dan kemungkinan untuk bisa berlama-lama ngobrol secara santai. Istilah populernya, hangout.

Saya pikir, generasi muda mengunjungi J.C.O., McDonald atau Pizza Hut bukan karena begitu fanatiknya dengan makanan ala barat tersebut, tapi suasana dan tempatnya membuat mereka nyaman untuk hangout. Jadi bukan karena masakan Padang kadaluwarsa dan sudah ditinggalkan penggemarnya.

Kembali kepada soal rasa pedas, saya meminta pendapat isteri saya yang sangat paham soal kuliner ini. Dia mengomentari pendek saja. Katanya berkurangnya rasa pedas masakan Padang di restoran-restoran ada kaitannya dengan harga cabai, walau tidak menampik kalau disebut bahwa selera pelanggan bisa dijadikan salah satu alasannya.

“Kan harga cabai merah keriting bisa hampir dua kalinya harga cabai merah yang besar,” katanya.

Saya paham maksudnya, cabai merah keriting yang ukurannya lebih kecil memang rasanya lebih pedas daripada cabai berukuran besar. Jadi rupanya ada faktor komersial juga dalam hal perubahan citarasa masakan Padang ini. Kalau si pemilik rumah makan bertahan dengan “taste” masakan yang pedas (dengan memakai cabai merah keriting), implikasinya harga makanan akan melonjak dan berujung kepada resiko kehilangan pelanggan.

Hal ini yang tidak diungkapkan oleh pemilik warung Ampera di Padang yang dikunjungi sohib saya itu. Jadi kalau begitu tidak ada yang aneh dengan terjadinya kecenderungan pergeseran selera makan ini.

Menurut saya istilah populer Minang “mato condong ka nan rancak, salero condong ka nan lamak,” masih berlaku hingga kini. Sehingga mereka yang berbisnis masakan Padang tidak perlu kawatir kehilangan pelanggannya. Apalagi kredo sebagian besar masyarakat kita masih sama dengan sekian tahun yang lalu, kalau belum makan nasi, itu artinya belum makan.

Ciputat, 20 Oktober 2012.

6 Comments

Filed under Kuliner

Apakah kebudayaan Minangkabau dipengaruhi peradaban dari daratan Cina?

Pendahuluan

Minangkabau atau yang biasa disingkat Minang adalah kelompok etnik Nusantara yang berbahasa dan menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, bagian selatan Sumatera Utara, barat daya Aceh, dan juga Negeri Sembilan di Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibukota provinsi Sumatera Barat yaitu kota Padang. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak (yang maksudnya adalah sama dengan orang Minang itu sendiri).

Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki, serta menganut sistem adat yang khas, yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya juga sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam, sedangkan Thomas Stamford Raffles, setelah melakukan ekspedisi ke pedalaman Minangkabau tempat kedudukan Kerajaan Pagaruyung, menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur.

Jadi suku Minang memiliki perbedaan dengan suku-suku lainnya di Indonesia dalam hal pemahaman garis keturunannya. Minangkabau menganut paham Stelsel serba-ibu (matriachaat-stelsel) sebagai landasan susunan masyarakatnya yang berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Adat dan budaya mereka menempatkan pihak perempuan bertindak sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan. Garis keturunan dirujuk kepada ibu, sedangkan ayah mereka disebut oleh masyarakatnya dengan nama Sumando (ipar) dan diperlakukan sebagai tamu dalam keluarga.

Menurut literatur, paham matrilineal ini dianut oleh suku Indian, Apache Barat, suku Navajo, sebagian besar suku Pueblo, suku Crow yang kesemuanya adalah penduduk asli Amerika Serikat, suku Khasi di Meghalaya, India Timur Laut, suku Nakhi di wilayah Sechuan dan Yunnan, Cina, dan beberapa suku kecil di kepulauan Asia Pasifik. Di Indonesia satu-satunya penganut adat matrilineal adalah suku Minangkabau, Sumatera Barat.

Belum lama ini saya membaca literatur yang menyebutkan bahwa daerah otonomi Guangxi Zhuang, Cina ribuan tahun yang lalu juga menganut paham matrilineal. Suku Zhuang ini menjadi perhatian saya karena budaya masyarakatnya terlihat memiliki sejumlah persamaan dengan masyarakat di Minangkabau.

Namun sebelum kita mengulasnya lebih jauh, mari kita lihat sekilas apa pendapat ahli sejarah seputar asal-usul masyarakat Minangkabau (bahasan yang lebih detil dapat dibaca di blog saya, http://aswilnazir.com/2012/08/08/menyoal-asal-nenek-moyang-penduduk-minangkabau).

 

Asal-usul Suku Minangkabau menurut ahli Sejarah

Pada ekskavasi arkeologis yang dilakukan di situs megalitik Ronah, Bawah Parit, Belubus berhasil ditemukan rangka manusia dari penggalian menhir di lokasi tersebut. Jenis rangka manusia tersebut dapat digolongkan sebagai ras Mongoloid (Boedisampurno 1991: 41), yang mengandung unsur Austromelanesoid yang diperkirakan hidup 2000-3000 tahun lalu (Aziz 1999). Menurut Kern dan Heine Geldern, seperti yang dikutip Soekmono (1973), migrasi ras Mongoloid dari daratan Asia ke Nusantara telah berlangsung dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama mulai pada masa neolitikum yang membawa budaya kapak bersegi terjadi sekitar 2000 SM yang oleh para ahli digolongkan sebagai kelompok Melayu Tua (Proto Melayu), sementara itu gelombang kedua muncul pada zaman logam yang membawa kebudayaan Dongson yang dimulai 500 SM, digolongkan sebagai kelompok Melayu Muda (Deutro Melayu). Soekmono mengatakan bahwa pada zaman logam ini disamping kebudayaan logam, juga dibawa kebudayaan megalitik (kebudayaan yang menghasilkan bangunan dari batu-batu besar) sebagai cabang kebudayaan Dongson (Soekmono 1973).
(Dongson adalah nama tempat di selatan Hanoi yang dianggap sebagai asal kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Konon kebudayaan Dongson ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hallstatt, Austria).

Tampaknya kebudayaan ini dikembangkan oleh ras Mongoloid yang berpangkalan di Indo China dan berkembang dengan pesatnya di zaman Megalitikum dan zaman Hindu. Nenek moyang orang Minangkabau itu datang dari daratan Indo China terus mengarungi Lautan Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian memudiki Sungai Kampar, Siak dan Indragiri. Sebagian diantaranya mengembangkan kebudayaan serta peradaban mereka di sekitar Kabupaten Limapuluh Kota sekarang. Dengan ditemukannya rangka manusia tersebut telah memperkuat teori bahwa telah terjadi migrasi ras Melayu Purba (yang berbahasa Austronesia) ke Sumatera, terutama Sumatera bagian Tengah.

Berdasarkan pendapat diatas, barangkali kita sepakat bahwa nenek moyang bangsa Minangkabau berasal dari daratan Asia, yang telah datang ke wilayah ini mulai sejak zaman pra-sejarah dapat digolongkan ke dalam Melayu Muda (Deutro Melayu).

 

Apakah benar leluhur suku Minangkabau berasal dari Cina?

Pertanyaan diatas sebenarnya sudah cukup lama tersimpan dalam hati saya, namun belum juga terjawab hingga detik ini. Sejumlah literatur dan diskusi di forum-forum elektronik yang mengulas soal sejarah dan asal-usul leluhur orang Minangkabau rata-rata hanya berujung kepada debat kusir tanpa kesimpulan yang meyakinkan.

Dalam kenyataannya dewasa ini, adat dan budaya suku Minangkabau banyak persamaannya dengan Cina, terutama dengan suku Zhuang dari Yunnan, yang juga terkenal sebagai suku tanduk kerbau. Beberapa pakaian mereka mirip dengan orang Minang, begitu juga paham garis keturunannya yang matrilinial.

Ketika saya berkunjung ke kota Guilin dan Yangshuo yang terletak di timur laut kawasan Guangxi Zhuang beberapa waktu yang lalu, memang ditemui sejumlah persamaan budaya antara Minangkabau dan Cina. Dalam perjalanan menuju desa Longji PingAn yeng terkenal sebagai “rice terraces”, kami melewati Sangjiang County yang masyarakatnya menghormati kerbau.  Malah di halaman sebuah shopping mall di kota tersebut kami melihat patung dua kerbau yang berhadapan dengan posisi saling menanduk. Saya pikir, agak mirip dengan masyarakat Minangkabau jaman dulu yang menggunakan kerbau sebagai simbol masyarakatnya.

Patung kerbau yang saling menanduk ini ditemui di Sangjiang County, Cina. Masyarakat Zhuang disini masih menganut kepercayaan yang menghormati kerbau.

Di desa Longji kami cukup surprise ketika melihat betapa penduduk setempat menggunakan tabung bambu untuk memasak (persisnya membakar) nasi lemak dengan dicampur daging. Pola memasak dengan menggunakan tabung bambu ini sangat mirip dengan cara pembuatan lemang (dari beras ketan) yang terkenal sebagai makanan khas Minang yang biasanya dicampur dengan tapai.

Dalam hal berpakaian, ditemui beberapa kemiripan seperti tutup kepala wanita yang di Minang disebut dengan tikuluak, memiliki persamaan dengan tutup kepala di beberapa suku di Cina dan sunting di kepala pengantin wanitanya. Demikian pula dengan pakaian adat pria pria suku Zhuang (dan juga suku minoritas Dong) yang berwarna hitam terlihat mirip dengan pakaian adat pria Minang (misalnya pakaian pemain randai – semacam pencak silat khas Minang).

Rumah-rumah tradisional suku Dong dan Yao di sekitar Dong Village dan Longji yang kami temui merupakan rumah panggung (memiliki ruang kosong di bawah lantai dasar) sebagaimana halnya rumah gadang di Minangkabau. Bedanya, atap rumah di Cina tidak berbentuk tanduk kerbau seperti yang kita lihat pada rumah adat Minangkabau.

Dalam hal bercocok tanam pun terlihat adanya kesamaan. Para petani yang kami lihat di sepanjang perjalanan membajak sawah dengan bantuan kerbau, persis seperti yang dilakukan para petani di Minang.

 

Teori Oppenheimer: Sundaland adalah pusat peradaban di penghujung Zaman Es.

Saya nyaris mengambil kesimpulan bahwa mungkin benar kalau dikatakan nenek moyang suku bangsa Minangkabau berasal dari Cina (yang oleh ahli sejarah disebut dengan kebudayaan Dongson). Tetapi dengan munculnya teori kontroversial dari Oppenheimer, saya jadi berpikir ulang.

Dalam bukunya Eden in The East, Professor Stephen Oppenheimer, seorang peneliti dan pakar genetika dari Universitas Oxford di Inggris mengisahkan bahwa Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi benua dan tempat peradaban manusia di penghujung Zaman Es. Benua ini disebutnya dengan istilah Sundaland. Dalam buku tersebut, Oppenheimer seolah memutar balik sejarah dunia. Bila selama ini sejarah mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia, maka Oppenheimer punya tesis sendiri.

Buku Eden in the East merupakan hasil penelitian Oppenheimer selama bertahun-tahun yang dilakukannya di berbagai negara. Benua Sundaland yang disebut oleh Oppenheimer tentu saja tidak bisa dibayangkan seperti bentuk wilayah ASEAN saat ini yang terdiri dari Indonesia, Semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan. Wilayah ini dulunya masih menjadi satu, yaitu Sundaland. Sebagian arkeolog percaya pada bukti-bukti yang dikemukakan Oppenheimer, sementara sejumlah arkeolog yang tetap yakin bahwa orang Indonesia berasal dari Taiwan.

Tapi belakangan ini sejumlah arkeolog juga menunjukkan bukti betapa keterampilan lokal, seperti berlayar dan menangkap ikan, telah ada sepuluh ribu tahun lalu, dan bercocok tanam di Indonesia sudah ada lebih dari empat ribu tahun lalu.

Sejenak kita tinggalkan Oppenheimer dan menyimak temuan perihal permainan layang-layang yang selama ini disebut berasal dari Cina.
Ternyata permainan layang-layang (kaghati) oleh nenek moyang masyarakat pulau Muna, Sulawesi Tenggara telah dilakukan sejak 4 ribu tahun lalu. Hal ini berdasarkan penelitian Wolfgong Bick tahun 1997 di Muna. Wolfgong Bick berasal dari Jerman dan merupakan salah seorang Counsultant of Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography. Awal penelitiannya dilatarbelakangi saat Festival Layang-Layang Dunia di Prancis tahun 1997. Saat itu layangan Kaghati Kolope dari Indonesia tampil sebagai juara mengalahkan Jerman. Hal ini membuatnya berkeinginan menelusuri keunikan Kaghati Kolope dan mengantarkannya ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Tepatnya di Gua Sugi Patani, Desa Liang kobori sekitar 8 km dari Raha, ibu kota Pulau Muna. Gua ini berada di sebuah bukit setinggi 80 meter dengan kemiringan 90 derajat.

Dalam penelitiannya Wolfgong Bick melihat sendiri lukisan tangan manusia yang menggambarkan layang-layang di dalam Gua Sugi Patani, Desa Liangkobori. Di situs prasejarah tersebut tergambar seseorang sedang bermain layang-layang di dinding batunya dengan menggunakan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dengan getah pohon). Gambar itu sudah dicoba untuk dihapus tetapi tidak bisa.

Penemuan lukisan di Gua Sugi Patani dikatakan Wolfgong Bick telah mematahkan klaim bahwa layangan pertama berasal dari China pada 2.400 tahun lalu. Layangan yang ditemukan di China menggunakan bahan kain parasut dan batang almunium. Sementara layangan dari Pulau Muna terbuat dari bahan alam dan telah menjadi bagian kehidupan masyarakatnya. Bick meyakini, layangan pertama di dunia berasal dari Muna, bukan dari China.

Kini kita kembali membahas teori Oppenheimer. Benua ini menurut Oppenheimer ada pada sekitar 14.000 tahun yang silam, sudah didiami oleh manusia. Menurut Oppenheimer, dari 14.000 tahun lalu itulah Zaman Es mulai berakhir. Oppenheimer menyebutnya sebagai banjir besar. Masih menurut Oppenheimer, banjir ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan naik perlahan-lahan.

Dalam periode banjir pertama, air laut naik sampai 50 meter. Ini terjadi dalam 3.000 tahun. Separuh daratan yang menghubungkan China dengan Kalimantan, terendam air. Lalu terjadilah banjir kedua pada 11.000 tahun lalu. Air laut naik lagi 30 meter selama 2.500 tahun. Semenanjung Malaysia masih menempel dengan Sumatera. Namun Jawa dan Kalimantan sudah terpisah. Laut China Selatan mulai membentuk seperti yang ada hari ini. Berikutnya terjadi banjir ketiga pada 8.500 tahun lalu. Benua Sundaland akhirnya tenggelam sepenuhnya karena air naik lagi 20 meter. Terbentuklah jajaran pulau-pulau Indonesia, dan Semenanjung Malaysia terpisah dengan Nusantara.

Kenaikan kenaikan air laut ini sangat berpengaruh kepada seluruh manusia penghuni Sundaland. Mereka pun terpaksa berimigrasi, menyebar ke seluruh dunia termasuk ke India dan Cina.

Boleh jadi di kemudian hari keturunan para imigran di Cina tersebut berlayar kembali ke selatan dan mendarat di Sundaland yang tentunya saja benuanya telah berubah, yang notabene merupakan tanah asal leluhur mereka. Salah satu lokasi domisili mereka adalah tanah Minangkabau selain Aceh, dan Sumatera bagian selatan serta Sumatera Utara.

Belum lama ini saya memperoleh informasi bahwa ada kepercayaan dalam masyarakat Batak bahwa nenek moyang mereka berasal dari suku asli di Formosa (Taiwan) yg diyakini menyebar ke Selatan melalui Filipina (sebagian menetap jadi suku Tagalog), Sulawesi (menjadi suku Toraja), Lombok (suku Sasak), lalu ke Sumatera (suku asli Lampung?) dan kemudian sampai di daerah Tapanuli. Ini dibuktikan melalui kesamaan kebudayaan, termasuk bentuk kesenian dan bahasa yg digunakan hingga sekarang.

Lalu kita coba lihat betapa wajah dan kulit orang Palembang, Jambi dan Bengkulu yang sangat mirip dengan orang Cina. Demikian pula sunting pengantin mereka yang ada kemiripannya dengan hiasan kepala pengantin wanita Cina seperti di Zhuang dan Yao.

Sebagai manusia yang dilengkapi Allah dengan akal dan pikiran, fakta-fakta diatas rasanya cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa anak bangsa Indonesia ini setidaknya penduduk asli Sumatera dan Indonesia bagian tengah adalah keturunan  bangsa Cina, alias nenek moyangnya sama. Sehingga dengan demikian apakah masih layak kalau kita selalu ribut dan membuat dikotomi antara penduduk Indonesia dan bangsa pendatang seperti Cina? Jangan-jangan mereka yang menuding orang lain sebagai keturunan Cina juga berasal dari keturunan yang sama, tanpa disadarinya. Wallahualam.

Kebetulan esok hari kita akan memperingati hari bersejarah bangsa ini, hari kemerdekaan Indonesia yang telah melepaskan diri dari penjajahan kolonial Belanda 67 tahun yang silam. Maka sudah selayaknya kita menyongsong masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik, yang demokratis, plural dan bhinneka tunggal ika dengan semangat optimisme serta kebersamaan.

Merdeka!!!

Ciputat, 16 Agustus 2012.

Sumber informasi:

  • Sejumlah artikel, diskusi elektronik dan foto-foto di Internet
  • Sejarah Minangkabau, Drs. M.D. Mansoer dkk, Bhratara, 1970
  • Nadra, Daerah Pertama Yang Didiami oleh Orang Minangkabau Berdasarkan Bukti Linguistis: Kajian Awal, 1999
  • http://blogs.itb.ac.id/iban/2012/01/31/sundaland-part-2/

 

16 Comments

Filed under Culture, social, society

Menyoal Asal Nenek Moyang penduduk Minangkabau

Pertanyaan soal asal-usul leluhur penduduk Minangkabau sesungguhnya bukan isu baru karena sudah sejak lama menjadi perbincangan. Namun sayangnya, jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak ada yang meyakinkan, banyak yang masih mereka-reka dan berupa hipotesa belaka. Ketidak pastian ini barangkali ada kaitannya dengan tidak terbiasanya orang Minang jaman dahulu dengan budaya sejarah tulisan.

Kenyataan ini membuat tim penyusun buku Sejarah Minangkabau oleh drs. M.D. Mansoer dkk di tahun 1970 harus bekerja ekstra keras. Yang banyak beredar adalah buku-buku tambo seperti “Tambo Alam Minangkabau” dan “kaba” yang cukup banyak jumlahnya, namun hanya selintas menyinggung perihal kehidupan orang Minangkabau di masa lalu. Hingga tahun 1970 masih belum ada usaha yang serius dan efektif untuk menyelidiki dan menyaring fakta-fakta sejarah Minangkabau dari tambo-tambo dan kaba-kaba itu. Cerita-cerita rakyat yang dipusakai (sebagian besar secara lisan), turun temurun dan baru sebagian kecil yang dibukukan, setidak-tidaknya berisi “2% fakta sejarah” yang tenggelam dalam “98% mitologi”. Bagaimana menggali dan menyisihkan 2% fakta sejarah dari 98% (lumpur) mitologi itu merupakan persoalan tersendiri. Pada umumnya tambo-tambo dan kaba-kaba itu baru diusahakan (sebagian kecil) penulisannya, ketika Minangkabau telah mengenal tulisan. Tulisan itu, abjad Arab, lazim disebut “huruf Melayu.” Kenyataan ini mengandung makna, bahwa orang Minangkabau baru pandai tulis baca, setelah mereka beragama Islam.

Berikut ini marilah kita ikuti rangkuman pandangan dan kesimpulan dari para sejarawan terhadap asal penduduk Minangkabau di Sumatera Barat.

Menurut sebagian sejarawan, kebudayaan Minang diperkirakan bermula sekitar 500 tahun SM, ketika rumpun bangsa Melayu Muda masuk ke Ranah Minang membawa kebudayaan Perunggu. Pembauran bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda menurunkan leluhur suku Minangkabau sebagai pendukung kebudayaan Perunggu dan Megalitikum.

Adapun peninggalan jaman pra-sejarah berupa situs-situs Menhir hanya ditemukan di kabupaten Limapuluh Kota (kecamatan Suliki dan Guguk). Situs-situs Megalith tersebut tersebar di daerah Koto Tinggi, Balubus, Sungai Talang, Koto Gadang, Ateh Sudu dan Talang Anau. Di desa Parit (daerah Koto Tinggi) berhasil ditemukan situs Megalith terbanyak yakni 380 Menhir, yang diantaranya mencapai tinggi 3,26m.

Di Minangkabau istilah yang dipakai untuk menhir adalah batu tagak. Istilah ini biasa dipergunakan oleh masyarakat Minangkabau yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti batu berdiri.

Menhir merupakan bagian dari produk tradisi megalitik yang menggunakan batu-batu besar sebagai material kebudayaannya; mega berarti besar dan lithos berarti batu. Sejarah pendirian menhir telah berlangsung sejak zaman neolitik sekitar 4500 tahun yang lalu. Awal kemunculannya hampir bersamaan dengan produk tradisi megalitik lainnya yang seangkatan seperti dolmen, teras berundak (bertingkat) dan lain-lain.

Di daerah darek, daerah inti kebudayaan Minangkabau, menhir ditemukan paling banyak di kabupaten Limapuluh Kota, kemudian disusul dengan kabupaten Tanah Datar. Di kabupaten Tanah Datar dijumpai ribuan menhir bersamaan dengan temuan-temuan lain seperti batu dakon dan lumpang batu. Menhir-menhir tersebut  muncul dalam bentuk yang beragam, ada yang berbentuk tanduk, pedang, phallus dan beberapa bentuk kepala binatang.

Di kabupaten Tanah Datar juga terdapat menhir-menhir yang sebetulnya sudah difungsikan sebagai nisan kubur Islam yang hampir semuanya berorientasi menghadap ke utara-selatan. Dengan demikian dapat dipastikan menhir-menhir di Kabupaten Tanah Datar umurnya jauh lebih muda jika dibandingkan dengan menhir-menhir di Kabupaten Limapuluh Kota.

 

Melayu Purba Pembawa Tradisi Megalitik ke Minangkabau?

Pada ekskavasi arkeologis yang dilakukan di situs megalitik Ronah, Bawah Parit, Belubus berhasil ditemukan rangka manusia dari penggalian menhir di lokasi tersebut. Di Bawah Parit dan Belubus ditemukan rangka manusia yang berorientasi hadap barat laut – tenggara, sementara di Ronah sebagian berorientasi timur laut – barat daya, dan sebagian lagi berorientasi utara – selatan (Boedhisampurno 1991).

Jenis rangka manusia tersebut dapat digolongkan sebagai ras Mongoloid (Boedisampurno 1991: 41), yang mengandung unsur Austromelanesoid yang diperkirakan hidup 2000-3000 tahun lalu (Aziz 1999).

Menurut Kern dan Heine Geldern, seperti yang dikutip Soekmono (1973), migrasi ras Mongoloid dari daratan Asia ke Nusantara telah berlangsung dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama mulai pada masa neolitikum yang membawa budaya kapak bersegi terjadi sekitar 2000 SM yang oleh para ahli digolongkan sebagai kelompok Melayu Tua (Proto Melayu), sementara itu gelombang kedua muncul pada zaman logam yang membawa kebudayaan Dongson yang dimulai 500 SM, digolongkan sebagai kelompok Melayu Muda (Deutro Melayu). Soekmono mengatakan bahwa pada zaman logam ini disamping kebudayaan logam, juga dibawa kebudayaan megalitik (kebudayaan yang menghasilkan bangunan dari batu-batu besar) sebagai cabang kebudayaan Dongson (Soekmono 1973).

(Dongson adalah nama tempat di selatan Hanoi yang dianggap sebagai asal kebudayaan perunggu di Asia Tenggara. Konon kebudayaan Dongson ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hallstatt, Austria).

Tampaknya kebudayaan ini dikembangkan oleh ras Mongoloid yang berpangkalan di Indo China dan berkembang dengan pesatnya di zaman Megalitikum dan zaman Hindu. Nenek moyang orang Minangkabau itu datang dari daratan Indo China terus mengarungi Lautan Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian memudiki Sungai Kampar, Siak dan Indragiri. Sebagian diantaranya mengembangkan kebudayaan serta peradaban mereka di sekitar Kabupaten Limapuluh Kota sekarang.

Dengan ditemukannya rangka manusia tersebut telah memperkuat teori bahwa telah terjadi migrasi ras Melayu Purba (yang berbahasa Austronesia) ke Sumatera, terutama Sumatera bagian Tengah. Oleh sebab itu barangkali kita sepakat bahwa nenek moyang bangsa Minangkabau yang berasal dari daratan Asia, yang telah datang ke wilayah ini mulai sejak zaman pra-sejarah dapat digolongkan ke dalam Melayu Muda (Deutro Melayu).

Di dalam historiografis tradisional, seperti kaba (tradisi lisan) dan tambo (yang bagi kalangan tertentu mempercayainya 100%) dikatakan Minangkabau terdiri atas tiga luhak, selalu dikatakan dan sudah menjadi paradigma tunggal bahwa Tanah Datar adalah luhak tertua tempat dirintis dan disusun pertama kali adat istiadat Minangkabau (Agam sebagai yang tengah dan Limapuluh Kota dianggap sebagai Luhak Nan Bungsu). Dengan adanya temuan tradisi megalitik di Limapuluh Kota yang lebih tua dari Tanah Datar, paradigma tradisional itu kini dipertanyakan kembali (Herwandi 2006).

Sementara menurut Bellwood (1985), penduduk Sumatera adalah imigran dari Taiwan dengan jalur dari Taiwan ke Pilipina, melalui Luzon terus ke Kalimantan dan kemudian ke Sumatera. Kesimpulan ini diambil Bellwood berdasarkan perbandingan bahasa. Bahasa yang digunakan oleh penduduk Sumatera, menurut Bellwood termasuk kelompok Western Malayo Polynesian (WMP) yang merupakan turunan dari Proto Malayo Polynesian (PMP). PMP adalah turunan dari Proto Austronesian (PAN) yang diperkirakan digunakan oleh penduduk Taiwan pada sekitar tahun 3000 SM.

Dari hasil penelitian, bahasa Minangkabau 50% kognat dengan PMP.

Jadi menurut kajian awal dan bukti linguistis, disimpulkan bahwa dialek bahasa yang konservatif ditemui di kabupaten Limapuluh Kota. Daerah tersebut dihipotesiskan sebagai daerah pertama yang didiami oleh orang Minangkabau di Sumatera Barat, sesuai dengan bukti arkeologis yang dibahas di awal artikel ini.

Dengan demikian cerita yang ada dalam tambo dan kaba bahwa Tanah Datar merupakan daerah tertua di Minangkabau tidaklah masuk akal, hanya suatu mitos belaka. Logikanya, perluasan wilayah Minangkabau dari daratan rendah ke daratan tinggi; melalui sungai atau pantai ke pegunungan (Nadra, 1999).

 

Pandangan kontroversial Professor Stephen Oppenheimer

Buku Eden in The East karya Professor Stephen Oppenheimer yang mengulas soal  Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara mengisahkan bahwa Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi benua dan tempat peradaban manusia di penghujung Zaman Es. Professor Stephen Oppenheimer adalah seorang peneliti dari Universitas Oxford di Inggris, pakar genetika yang juga mendalami antropologi dan folklore yang mengkaji dongeng-dongeng dunia. Oppenheimer meyakini bahwa Indonesia dan sekitarnya pernah menjadi benua dan tempat peradaban manusia di penghujung Zaman Es. Benua ini disebutnya dengan istilah Sundaland.

Dalam buku tersebut, Oppenheimer seolah memutar balik sejarah dunia. Bila selama ini sejarah mencatat bahwa induk peradaban manusia modern itu berasal dari Mesir, Mediterania dan Mesopotamia, maka Oppenheimer punya tesis sendiri.

Buku Eden in the East merupakan hasil penelitian Oppenheimer selama bertahun-tahun yang dilakukannya di berbagai negara. Benua Sundaland yang disebut oleh Oppenheimer tentu saja tidak bisa dibayangkan seperti bentuk wilayah ASEAN saat ini yang terdiri dari Indonesia, Semenanjung Malaysia dan Laut China Selatan. Wilayah ini dulunya masih menjadi satu, yaitu Sundaland.

Benua ini menurut Oppenheimer ada pada sekitar 14.000 tahun yang silam, sudah didiami oleh manusia.  Saat itu, Taiwan terhubung langsung dengan China. Tidak ada Laut Jawa, Selat Malaka dan Laut China Selatan. Semua adalah daratan kering yang menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan dan China. Yang dari dahulu sudah terpisah lautan adalah Sulawesi, Maluku dan Papua yang memiliki laut dalam.

Menurut Oppenheimer, dari 14.000 tahun lalu itulah Zaman Es mulai berakhir. Oppenheimer menyebutnya banjir besar. Namun menurut dia, banjir ini bukannya terjadi mendadak, melainkan naik perlahan-lahan.

Dalam periode banjir pertama, air laut naik sampai 50 meter. Ini terjadi dalam 3.000 tahun. Separuh daratan yang menghubungkan China dengan Kalimantan, terendam air.

Kemudian terjadilah banjir kedua pada 11.000 tahun lalu. Air laut naik lagi 30 meter selama 2.500 tahun. Semenanjung Malaysia masih menempel dengan Sumatera. Namun Jawa dan Kalimantan sudah terpisah. Laut China Selatan mulai membentuk seperti yang ada hari ini.

Oppenheimer lantas menambahkan, banjir ketiga terjadi pada 8.500 tahun lalu. Benua Sundaland akhirnya tenggelam sepenuhnya karena air naik lagi 20 meter. Terbentuklah jajaran pulau-pulau Indonesia, dan Semenanjung Malaysia terpisah dengan Nusantara.

Meskipun naik perlahan, Oppenheimer mengatakan kenaikan air laut ini sangat berpengaruh kepada seluruh manusia penghuni Sundaland. Mereka pun terpaksa berimigrasi, menyebar ke seluruh dunia.

Pandangan kontroversial dari Oppenheimer ditanggapi beragam oleh para koleganya. Sebagian arkeolog percaya pada bukti-bukti yang dikemukakan Oppenheimer, sementara sejumlah arkeolog yang tetap yakin bahwa orang Indonesia berasal dari Taiwan. Tapi belakangan ini sejumlah arkeolog juga menunjukkan bukti betapa keterampilan lokal, seperti berlayar dan menangkap ikan, telah ada sepuluh ribu tahun lalu, dan bercocok tanam di Indonesia sudah ada lebih dari empat ribu tahun lalu.

Belakangan, kelompok peneliti yang merupakan teman sejawat dari University of Oxford dan University of Leeds mengumumkan hasil penelitiannya dalam jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul:

Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia” (Soares et al., 2008) dan “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia” (Richards et al., 2008).

Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolitikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.

Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu.

Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya muka laut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara – dalam 10.000 tahun.

Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya. Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oceania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan naiknya permukaan laut di ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.

Nah, kini Anda lebih percaya kepada teori yang mana?

Apakah condong kepada pendapat yang selama ini dipegang oleh mayoritas sejarawan bahwa nenk moyang orang Minangkabau berasal dari Melayu Purba yang membawa kebudayaan Dongson, atau teori Oppenheimer yang beranggapan sebaliknya, justru  penduduk Sundaland (Nusantara) yang bermigrasi ke Taiwan dan lain-lain akibat Banjir Besar di Sundaland? Kalau Anda setuju dengan Oppenheimer, artinya bangsa kita yang menjadi saudara tua dari bangsa Cina, Taiwan dan Jepang.

Wallahualam.

Sumber informasi:

  • Sejarah Minangkabau, Drs. M.D. Mansoer dkk, Bhratara, 1970
  • Nadra, Daerah Pertama Yang Didiami oleh Orang Minangkabau Berdasarkan Bukti Linguistis: Kajian Awal, 1999
  • Herwandi, Limopuluah Koto Luhak Nan Tuo: Menhir, Jejak Budaya Minangkabau Membalik Paradigma Tradisional, 2006
  • http://blogs.itb.ac.id/iban/2012/01/31/sundaland-part-2/

 Ciputat, 8 Agustus 2012

9 Comments

Filed under Culture

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (Part-5 Tamat)

Hari Kelima: menuju Longji Ping An Village

Rabu, 27 Juni 2012, saya bangun pukul 6 pagi dan menikmati sejuknya suasana alam dan asrinya pemandangan dari jendela hotel Dong Village. Suasana terasa begitu damainya, ditengah gemericik air sungai yang mengalir dibawah hotel kami. Tetapi saya tidak bisa berlama-lama menikmati lukisan alam ciptaan-Nya ini karena harus segera berkemas untuk meneruskan perjalanan ke Longji PingAn Village. Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri untuk sarapan pagi di lobi (lebih tepat disebut basement) hotel. Kami pilih menu yang aman saja, yaitu roti bakar dan pancake berikut jus jeruk. Seusai santap pagi, saya dengan dibantu Mao (sopir) menurunkan koper-koper dari lantai 4 ke mobil dan menyelesaikan pembayaran hotel.

Suasana di sekitar hotel masih terlihat sepi ketika kami meninggalkan Hotel Dong Village sekitar pukul 8 pagi. Menurut perkiraan Mao perjalanan ke Longji yang termasuk dalam Longsheng County akan memakan waktu sekitar dua jam lebih. Perjalanan kami lagi-lagi diiringi oleh mendung dan hujan rintik-rintik hingga sedang. Hal ini memaksa kami terpaksa tidak bisa jauh-jauh dari mantel hujan dan payung. Pemandangan yang terlihat selama dalam perjalanan sangat mirip dengan pemandangan alam di sepanjang jalan raya Puncak, Jawa Barat yang dipenuhi dengan bukit-bukit hijau, kebun teh dan sungai.

Perjalanan kami melewati Sangjiang County, sebuah kota kecil yang memiliki sebuah department store yang memajang dua patung kerbau bertanduk di depan gedungnya. Karena kesulitan berkomunikasi dengan Mao, saya tidak tahu apa nama kota tersebut dan mengapa sampai memajang patung kerbau sebagai lambangnya. Dalam hati hanya berpikir, kok jadi mirip sama masyarakat Minangkabau yang meniru tanduk kerbau untuk rumah adatnya?

Department Store di Sangjiang County dengan dua patung kerbau di depannya.

Belakangan ketika saya tanyakan kepada Feng via email, dijelaskannya bahwa Sangjiang County dihuni oleh suku minoritas Dong yang dalam kepercayaannya menghormati kerbau (istilah mereka water buffalo). Kerbau diyakini sebagai Tuhan dimana nenek moyang mereka dulunya menyembah alam.

Kami akhirnya memasuki gerbang kompleks tourist center Longji yang sudah dipenuhi dengan bis-bis turis. Mao menghentikan kendaraan di tempat parkir dan meminta kami untuk tetap menunggu di mobil. Suasana sungguh ramai dengan para turis. Saya masih bertanya-tanya, bagaimana caranya untuk menuju ke desa Longji PingAn seperti yang diceritakan Feng dalam suasana hujan begini. Namun tidak lama kemudian Mao kembali dengan memegang beberapa lembar karcis ditangannya sambil tersenyum. Saya masih belum paham, maklumlah komunikasi kami hanya sebatas isyarat dan kode tangan saja. Mao lalu menjalankan mobil keluar dari areal tourist center tersebut, berbelok memasuki jalan kecil di sebelah kanan yang dipalang portal dengan penjaga. Ia segera menyerahkan karcis dan portal pun dibuka sehingga kami bisa masuk. Rupanya ini jalan masuk ke desa Longji yang diceritakan Feng kemaren. Oh iya, jalan yang kami susuri berada di sebelah kanan sungai yang terlihat cukup deras airnya, dan bukit-bukit di sebelah kanan. Kali ini perjalanan lebih mirip dengan suasana di lembah Anai Sumatera Barat.

Sekitar 15 menit kemudian kami melihat ada sejumlah perumahan kayu khas Cina di depan. Banyak bis-bis berhenti di tepi jalan yang tidak terlalu besar itu. Saya menduga-duga lagi, apa ini tujuan akhir kami. Selagi saya berpikir untuk bertanya kepada Mao (dalam bahasa isyarat), ia memberhentikan mobil dan meminta kami untuk turun. Waduh, hujan-hujan begini, pikir saya? Tapi apaboleh buat, bukankah tujuan kami kesini memang untuk jalan-jalan? Sambil memegangi payung masing-masing kami berjalan mengikuti arus para turis yang menuju ke seberang sungai melalui sebuah jembatan gantung. Ada papan peringatan dalam bahasa Inggris di ujung jembatan yang menyebutkan bahwa kapasitas ideal jembatan hanyalah 15 orang. Namun tampaknya tidak ada yang peduli karena saya lihat ada lebih dari 15 orang tengah berjalan diatas jembatan yang bergoyang-goyang.

foto bersama wanita Yao. Rambut panjangnya terlihat digelung menjadi sanggul.

foto dengan latar belakang jembatan gantung yang menghubungkan desa dengan jalan raya.

Tipikal rumah di Huangluo Yao Village

 

 

 

Setelah melihat literatur, saya baru tahu bahwa desa kecil ini adalah Huangluo Yao Village. Kelompok etnis Yao disini memiliki populasi 2,6 juta, dengan sejarah 2000 tahun. Etnis minoritas Yao adalah suku khas yang tinggal di daerah pegunungan bagian selatan Cina. Para wanitanya terkenal dengan pakaian tradisional yang berupa kostum merah muda bersulam dan anting-anting perak berat di telinganya. Namun, daya tarik terbesar Huangluo Yao Village adalah perempuan Yao dengan rambutnya yang panjang. Wanita Yao disebut dalam Guinness Book of World Records sebagai wanita dengan rambut terpanjang di dunia. Mereka ini hampir tidak pernah memotong rambutnya sejak mereka lahir, dan hanya membungkus rambut dengan disanggul pada bagian atas kepalanya. Sayang sekali kami tidak sempat untuk foto bersama para wanita Yao ini karena mereka tengah melakukan atraksi di dalam gedung pertemuan untuk rombongan turis yang datang. Jadi kami hanya berjalan menyusuri lorong-lorong perkampungan mereka sambil melihat pernik-pernik kerajinan tangan khas Yao. Usai melihat-lihat perkampungan kecil ini kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir, Longji PingAn Village.

Singkat cerita, mobil kami pun memasuki areal areal parkir Longji PingAn Village di tengah hujan rintik-rintik. Kami segera turun dan membawa perlengkapan seperlunya untuk dibawa naik keatas bukit. Ya, sebelum berangkat di Yangshuo kami sudah diwanti-wanti oleh Feng bahwa untuk mencapai lokasi hotel, kita harus mendaki naik melalui jalan setapak sekitar 25 menit. Jadi sebaiknya pakaian ganti dan keperluan pribadi, dibawa pakai koper kecil atau backpack saja. Kami sudah menyiapkannya. Pakaian kami berdua sudah di-pack dalam travelling bag dan saya pun siap dengan backpack.

Namun begitu masuk ke gerbang Longji PingAn Village, isteri saya langsung geleng-geleng karena merasa tidak akan sanggup melalui jalan setapak yang lebih cocok disebut tangga naik menuju puncak bukit itu. Saya bingung juga. Lalu kasih isyarat ke Mao bahwa isteri saya tidak mungkin menaiki jalan setapak yang cukup terjal itu. Solusi untuk itu tampaknya ada. Saya lihat ada sejumlah tandu yang bisa disewa untuk membawa penumpang naik ke atas bukit. Saya pun meminta Mao untuk negosiasi ongkos tandu untuk mengangkut isteri saya. Akhirnya kita sepakat dengan harga 100 Yuan, namun sempat berdebat sedikit dengan kedua tukang tandu ketika travel bag isteri saya diikutkan keatas tandu.

Bersiap-siap untuk ditandu berikut travel bag

Jalan setapak menuju puncak bukit terlihat cukup padat dilalui oleh pengunjung, termasuk pengusung tandu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Begitulah, isteri saya di tandu oleh dua orang menaiki bukit, sementara Mao dan saya mengikuti di belakang. Melihat kenyataan bahwa jalan setapak menuju bukit memiliki kemiringan yang lumayan tajam, hati saya mulai ciut. Mampukah saya melaluinya selama 20-25 menit? Tapi melihat betapa gesitnya kedua pengangkut tandu itu mengangkut isteri saya termasuk travel bag seberat 7 kg, saya malu hati juga. Bukankah di tahun 2010 saya terbukti mampu menaiki 253 anak tangga ke puncak gunung Bromo walaupun dengan susah payah. Demikian pula di tahun 2011 saya pun berhasil menaiki lebih dari 700 anak tangga menuju puncak bukit Makam Papan Tinggi di Barus, Sumatera Utara.

Taksiran Feng tidak meleset. Saya berhasil mencapai lokasi di dekat hotel dalam waktu 25 menit sementara si tukang tandu beserta Mao sudah duluan sekitar 5 menit sebelumnya. Saat itu saya baru menyadari betapa indahnya alam di sekitar kami, khususnya pemandangan ke arah bawah bukit. Amboi, begitu rapih dan teraturnya piringan sawah yang berjenjang naik di sepanjang lereng berliku dari tepi sungai sampai ke puncak bukit. Rasa penat yang menerpa diri langsung lenyap tergantikan oleh kekaguman kepada Sang Maha Pencipta.

Rumah makan tempat kami santap siang dan makan malam di Longji PingAn Village.

Karena sudah waktunya untuk makan siang, kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu sebelum masuk ke hotel. Santap siang itu terasa begitu nikmatnya dan ada bonus tambahan yang saya peroleh yaitu fasilitas Wi-Fi di rumah makan kecil itu sehingga bebas melanglang buana ke Internet. Sayangnya sejak dari Guilin saya tidak pernah berhasil mengakses facebook yang konon memang dicekal oleh pemerintah Cina.

Usai santap siang kami diajak Mao untuk check-in ke hotel Longji One yang ternyata hanya sekitar 50 meter dari rumah makan tadi. Hotelnya yang terletak di tepi tebing terbuat dari kayu dan terdiri dari 3 lantai. Kami sangat bersyukur diberikan kamar di lantai paling atas yang memiliki pemandangan sangat indah ke bawah bukit.

Siang itu ketika Mao mengajak untuk naik ke puncak yang disebut view point 2 yang memiliki pemandangan indah, kami menyambutnya dengan ragu-ragu karena kawatir tidak sanggup lagi menaiki anak tangga. Namun keraguan itu sekaligus dibarengi dengan rasa penasaran, masa sih jauh-jauh kesini hanya buat beristirahat di hotel? Alasan ini membuat kami akhirnya melangkah naik menuju lokasi yang dinamakan viewpoint 2. Pemandangan dari viewpoint 2 populer dengan sebutan “Seven Stars with the Moon”.

Indahnya pemandangan dari jendela kamar hotel Longji One di lantai 3.

Pemandangan ke sisi kanan kamar hotel Longji One.

Bersama ibu pemilik hotel Longji One

 

 

 

 

 

 

 

Mengapa disebut Dragon’s Backbone Rice terraces?

Longji Terraces, sering juga disebut Dragon’s Backbone Rice Terraces, Longji Rice Terraces adalah pemandangan yang menakjubkan hasil karya penduduk minoritas Zhuang. Teras padi ini usianya sudah lebih dari 300 tahun sejak 1200-an sampai 1600-an awal, selama Dinasti Yuan dan Qing, dan masih aktif dipelihara hingga kini. The Longji Terraces dibangun di lereng bukit dengan ketinggian teras yang bervariasi, antara 300 meter & 1100 meter dengan kemiringan antara 26 derajat dan 35 derajat. Kemiringan yang paling tajam mendekati 50 derajat. Meskipun ada banyak teras padi di pegunungan Cina Selatan, pemandangan seperti di Teras Padi Punggung Naga (Dragon’s Backbone Rice Terraces) ini termasuk langka.
Dragon’s Backbone Rice Terraces ini terlihat seperti rantai besar atau pita yang mengulir dari kaki ke puncak bukit. Struktur ini sungguh merupakan konstruksi persawahan yang terbaik untuk memanfaatkan sumber daya tanah langka tapi subur dan air di daerah pegunungan. Yang lebih kecil ibarat siput dan yang lebih besar terlihat seperti menara. Kita akan terpesona oleh teras sawah yang bertingkat-tingkat, dari jenjang bagian bawah hingga lapisan paling atas. Setiap jenjang teras itu ibarat dibatasi oleh garis lurus dengan rapihnya. Skalanya pun sangat besar. Itu sebabnya daerah ini disebut sebagai “The champion of the terrace world”.

Pemandangan di viewpoint 2

Indahnya pemandangan di viewpoint 2 yang dikenal dengan istilah “Seven Stars with Moon”

Tipikal rumah penduduk di Longji PingAn Village

 

 

 

 

 

 

 

 

Sayang sekali cuaca masih belum mau bersahabat dengan kami sehingga ketika belum lama berada di lokasi viewpoint-2, kami ditimpa hujan yang lumayan lebat. Tapi isteri saya masih sempat difoto dengan pakaian tradisional suku Yao berikut mahkotanya yang sangat mirip dengan mahkota mempelai wanita Palembang. Karena hujan makin lebat dan hari sudah berangsur sore, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel Longji One karena kondisi fisik sudah tidak kuat untuk melangkah naik lagi ke viewpoint-1.

Kami menikmati santap malam di rumah makan yang sama dengan sewaktu makan siang karena tempatnya lumayan dekat dengan hotel. Lagi pula saya membutuhkan akses Wi-Fi nya.

Malam itu kami tertidur pulas setelah mengatur alarm untuk bangun pukul 5 pagi. Bukan apa-apa, soalnya besok kami harus segera meninggalkan hotel sebelum jam setengah tujuh pagi agar dapat mencapai Guilin International Airport pukul 9 pagi. Pesawat AirAsia yang kami booking akan take-off menuju Kuala Lumpur pukul 11:00.

Itulah keseluruhaan rekam jejak perjalanan kami yang singkat, melelahkan namun sangat berkesan di kota Guilin, Yangshuo, Dong Village dan Longji PingAn Village.

Ciputat, 22 Juli 2012.

6 Comments

Filed under Leisure, Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (Part-4)

Hari Keempat: Memasuki daerah terpencil tanpa tour guide

Tipikal jembatan di Cina yang kami lewati dalam perjalanan menuju Dong Village. Awalnya kami sangka inilah Wind and Rain Bridge, tapi ternyata bukan. Ini jembatan baru.

Selasa pagi, 26 Juni 2012 cuaca masih dihiasi oleh hujan rintik-rintik setelah kami menyelesaikan sarapan pagi di restoran hotel. Rencana pagi itu kami akan check-out dari Li River Retreat untuk melanjutkan perjalanan ke desa terpencil Dong (Dong Village) yang konon akan memakan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dengan mobil. Lumayan jauh memang. Dan karena jauhnya itulah, sejak awal Feng sudah mengatur bahwa kami akan bermalam di salah satu hotel di lokasi tersebut. Cukup semalam saja karena keesokan harinya akan berangkat lagi menuju target wisata kami terakhir, Longji Ping’An Village yang terkenal dengan ladang padinya bertingkat-tingkat dan tersusun sedemikian rapinya sehingga dijuluki “rice terraced.” Kami pun akan menginap pula di Longji untuk satu malam sebelum menyudahi perjalanan yang mengesankan ini.

Persis jam delapan pagi Feng sudah muncul di lobi hotel sesuai janjinya. Dia langsung mendatangi kami yang sedang siap-siap untuk check-out dan berkata,  “I want to talk to you.”  Kami yang masih duduk di restoran mempersilahkannya menempati kursi. Saya mulai menduga-duga, apa gerangan yang akan disampaikannya?

Aswil, my grand mother passed away last night,” katanya pelan.

Oops, saya terkejut. “I am sorry to hear that,” kata saya spontan.

Lalu Feng menjelaskan lebih lanjut bahwa upacara pemakaman butuh waktu sekitar 3 hari dan dia tidak mungkin untuk meninggalkan keluarga. Maklum ia masih tinggal serumah dengan  kedua orang tua dan neneknya itu.

Saya langsung maklum bahwa hal ini akan berdampak kepada program kami dan sejuta pertanyaan mulai berseliweran di dalam benak saya. Tetapi Feng yang seakan mampu membaca apa yang saya pikirkan, langsung menyelak, “don’t worry about your program although I can’t join you for the rest of the days. I have arranged everything and Mao (driver) will accompany you to Dong Village and Longji. He is familiar with those areas, so you are safe.”

But how can we communicate with him, since he can’t speak English at all?” tanya saya masih kawatir.

In case you need to talk to me, you can ask him to call me using his phone cell. Don’t use yours since it will be very expensive,” jawab Feng. “And I have written this instruction in Chinese characters on this paper,” lanjutnya lagi sambil menyodorkan selembar kertas.

Diatas kertas itu saya lihat Feng sudah menuliskan satu kalimat dalam bahasa Inggris, “I need to talk to Feng” dan disampingnya ada tulisan Cina nya untuk memberi tahu Mao (sopir) andaikata saya ingin mengontak Feng. Saya sebetulnya tidak nyaman, tapi kami dihadapkan pada pilihan  sulit harus segera diputuskan. Kalau mau membatalkan rencana perjalanan ke Ding Villaage dan Longji memang bisa saja, tapi harus mengecek lagi ke hotel kami saat ini (Li River Retreat) apakah kamar kami masih bisa dipertahankan. Kalau sudah di booking orang, mesti cari hotel lain dan … sisa dua hari di Yangshuo mau dihabiskan dimana lagi? Ini kota kecil yang kalau dijalani dengan mobil setengah hari, selesailah sudah.

Saya segera mengambil keputusan. “Okay Feng,” kata saya kemudian. “We’ll go to Dong Village and Longji, but please put additional  Chinese sentences on your paper,” pinta saya. Lalu saya tuliskan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris untuk diterjemahkan ke tulisan Cina.

We want to use toilet
we go to eat
We want to go back to the hotel
please accompany us to the village and longji rice terraced
we want to see Yao ladies washing hair
we will chacek-out hotel in Longji one Hotel by 6:30 am.”

Pukul 08:15 kami pun check-out dari hotel, berangkat ke Dong Minority Village bertiga dengan Mao, sang sopir yang selalu setia menemani kami selama ini.

Mampir di SPBU untuk ke toilet.

Perjalanan menuju Dong Village ternyata sangat nyaman karena infrastruktur jalan raya sudah bagus dan nyaman untuk dilewati, apalagi lalu-lintasnya boleh dikatakan cukup sepi. Dalam hati saya berpikir, apa tidak mubazir pemerintah Cina membuat jalan raya yang bagus dan lebar sementara utilisasinya masih rendah. Atau barangkali mereka justru telah berpikir jauh, dengan mempersiapkan infrastruktur jalan raya jauh-jauh hari di muka. Entahlah, cuma rasanya enggan saja kalau mencoba membandingkannya dengan cara berpikir orang Indonesia. Kami memang tidak menjumpai masalah sama sekali jika ingin buang hajat di tengah jalan karena di setiap pompa bensin di pinggir highway selalu ada toilet dan mini market.

Setelah memasuki kota Longsheng menjelang siang, kami mulai memasuki jalan raya yang lazim kita temui di jalan raya ke puncak kalau menuju Bandung. Pemandangan bukit nan  menghijau dengan kebun-kebuh teh dan sawah terhampar di sepanjang jalan menuju ke perkampungan Dong. Karena perut sudah mulai protes, saya mengeluarkan kertas sakti titipan Feng dan menunjukkan kalimat “we go to eat” berikut tulisan Cina-nya ke Mao yang sedang menyetir. Mao langsung paham dan manggut-manggut sambil menunjuk kearah depan. Maksudnya jelas, kita akan mencari restoran di depan sana.

Namun rupanya mencari restoran yang sesuai dengan keinginan tidaklah semudah itu. Pasalnya kami sedang berada di jalan raya sepi di luar kota. Jadi kiri kanan jalanan tidak ada apa-apa selain tebing bukit dan tanah kosong. Barulah sekitar 20 menit kemudian Mao menemukan satu rumah makan merangkap rumah di tepi jalan raya dan menghentikan mobil. Masih sepi, mungkin karena waktu saat itu masih menunjukkan pukul 11:40. Mao memberri isyarat dengan tangan agar kami menunggu di mobil, lalu dia turun untuk memasuki rumah makan. Sejenak kemudian dia keluar dan meminta kami turun dari mobil. Baguslah, tampaknya rumah makan ini sudah dibuka.

Kami memilih meja di samping jendela yang menghadap ke belakang, kearah sungai yang mengalir persis di belakang restoran. Kami adalah tamu yang pertama di pagi ini.

Daftar makanan yang disodorkan membuat saya bingung karena tidak ada tulisan latin dan bahasa Inggris. Saya memberi isyarat ke Mao bahwa saya tidak paham dengan menu itu. Mao langsung maklum dan berbicara sama wanita pemilik rumah makan. Tidak lama kemudian saya ditarik untuk masuk ke arah dapur dan ditunjukkan aneka sayuran yang ada di meja dapur. Aha, ini cara komunikasi yang primitif tapi cukup efektif. Saya langsung menunjuk-nunjuk kearah 2 macam sayur mentah yang ada diatas panci. Dengan isyarat tangan ibarat menghadapi orang bisu, kami berkomunikasi. Dari dapur saya diseret lagi untuk turun tangga ke lantai bawah. Dalam hati saya bertanya-tanya, apa lagi ini? Oh, rupanya di lantai bawah ada pintu keluar menuju ke kolam ikan kecil. Si empunya rumah makan mengambil jaring untuk menangkap ikan berukuran sedang di kolam itu. Tertangkaplah seekor lele berukuran lumayan besar dan diperlihatkan ke saya. Pasti dia bertanya, apakah saya setuju dengan ikan ini? Saya jawab dengan anggukan sambil mengacungkan jempol. Saya tidak bertanya lagi berapa harganya dan bagaimana cara masak serta jenis bumbunya. Terlalu rumit sementara perut kami sudah keroncongan.

Yang membuat surprise, masakan pesanan kami terhidang dalam waktu yang relatif singkat. Ikan lele pilihan saya terlihat begitu menggiurkan dengan dimasak bumbu dan di-steam.  Padahal di Jakarta butuh waktu yang lumayan lama untuk menyajikan masakan seperti ini.

Dong Village Hotel

Sekitar pukul 14:20 kami tiba dengan selamat di perkampungan Dong yang terpencil itu. Awalnya saya tidak paham ketika Mao menghentikan mobil disamping sebuah rumah kayu bertingkat. Ternyata itulah hotel tempat kami bakal menginap yang mungkin lebih tepat disebut losmen.

Penginapan yang bernama Dong Village Hotel ini lokasinya jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, terletak di salah satu sisi jembatan tua “Wind and Rain Bridge” sebelum memasuk areal perkampungan Dong di Chengyang. Hotel yang terbuat dari kayu ini cukup nyaman dan ideal sebagai tempat peristirahatan. Apalagi kami beruntung memperoleh kamar di lantai 3 yang memiliki teras dengan pemandangan indah kearah sungai, jembatan dan sawah. Saya lama terpaku mengagumi asrinya keindahan alam. Itulah sedikit gambaran tentang hotel keluarga yang telah dioperasikan sejak tahun 1998 oleh anak muda bernama Michael Yang yang bisa berbahasa Inggris.

Mao melalui pemilik hotel meminta kami segera bersiap-siap untuk berjalan menuju perkampungan karena karena ada atraksi kultural yang akan dimulai pukul 15:00. Kami pun  meninggalkan hotel dengan berjalan kaki menuju areal perkampungan suku minoritas Dong.

Sekedar informasi, daerah ini berada di Liuzhou, provinsi Guangxi utara. Wilayah seluas 2454 kilometer persegi ini yang berbatasan dengan Guizhou di barat laut dan Hunan ke timur laut dihuni oleh sekitar 350.000 penduduk tradisional Dong. Chengyang, sekitar 20 km sebelah utara dari Sanjiang, menuju provinsi Hunan, terletak distrik Dong. Lokasi ini menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup populer bagi  turis backpackers.

Sanjiang County terkenal dengan desa-desa benteng yang dibangun oleh etnis minoritas Dong. Orang-orang Dong sejak dulu membangun jembatan-jembatan yang dilengkapi dengan teras-teras dan paviliun yang memberikan perlindungan khususnya saat hujan turun. Masyarakat setempat menyebut jenis jembatan ini dengan nama yang indah – ‘Wind and Rain Bridge’, jembatan angin dan hujan. Dari semuanya, Chengyang Wind and Rain Bridge adalah jembatan yang paling terkenal.

Old Chengyang Wind and Rain Bridge

Chengyang Wind and Rain Bridge yang juga disebut Yongji Bridge atau Panlong Bridge, melintasi Sungai Linxi di Sanjiang County. Dibangun pada tahun 1916, panjangnya 64,4 meter, lebar 3,4 meter dan tinggi 10,6 meter. Dibangun dengan kayu dan batu, permukaan jembatan dilapisi dengan papan kayu dan kedua sisinya diberi pagar. Di atas jembatan itu ada lima menara seperti kios dengan ‘tanduk’ dan atap yang menyerupai sayap burung mengepakkan.
Yang juga unik dengan jembatan ini, konstruksinya tidak menggunakan paku atau paku keling, melainkan menggunakan konsep pasak kayu. Meskipun usia jembatan ini sudah beberapa dekade, kondisinya masih terlihat kokoh.

Memandang keluar dari jembatan, kita akan terpukau oleh indahnya pemandangan di depan mata. Sungai Linxi berkelok-kelok di kejauhan, pohon teh pohon menghijau di pebukitan, petani lokal yang sedang bekerja di ladang, dan kincir air tua yang berputar sungguh membuat hati merasa teduh dan tenteram.

Pemandangan seperti ini sesungguhnya tidaklah aneh bagi kita, bangsa Indonesia. Negeri kita kaya dengan sumber daya alamnya (SDA) yang tidak kalah spektakulernya dengan Cina. Namun kesadaran bangsa kita untuk mengelola SDA dan memanfaatkannya untuk pariwisata masih jauh dari harapan. Itu saja kekurangan kita.

Tipikal rumah suku minoritas Dong

Bersama para penjual souvenir

karya seni tradisional

Alat musik tiup tradisional

Seni tradisional Dong

 

Masyarakat yang kami temui di perkampungan Dong ini, standar kehidupannya masih jauh dibawah rata-rata.Tetapi hampir di setiap sudut lorong kampung kami temui hasil-hasil kerajinan tangan penduduk setempat yang dijajakan kepada para turis yang datang. Mereka pekerja keras dan merupakan pedagang yang gigih. Isteri saya sampai kewalahan dikerubuti oleh ibu-ibu yang menjajakan dagangannya yang hanya seharga 5 Yuan.

Pemandangan dari kamar hotel ke sisi kiri

Pemandangan ke arah kanan kamar hotel

Malam itu kami melewatkan waktu dengan ngobrol di restoran hotel bersama beberapa tamu hotel yang semuanya berasal dari Eropa dan Australia dan rata-rata backpacker. Kami satu-satunya yang dari Asia.  Masakan di hotel lumayan juga, mungkin juga karena perut kami sedang lapar. Yang jelas, malam itu kami lalui dengan tidur pulas di tengah kesunyian alam dan gemericik air sungai yang mengalir alami.      (BERSAMBUNG …)

Leave a Comment

Filed under Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (Part-3)

Hari ketiga: Menyambangi pasar tradisional di desa terpencil, Banyan Tree dan Silver Cave

 

Menuju desa Fuli dengan boat memakan waktu 45 menit

Memasuki hari ketiga kami berharap matahari berkenan menampilkan sosoknya. Tetapi Tuhan belum mengabulkan permohonan kami, cuaca masih mendung dan hujan ringan masih membasahi bumi. Padahal acara kami adalah mengunjungi pasar tradisional di Fuli, sebuah desa di kawasan yang agar terisolir dibalik bukit.

Desa Fuli adalah sebuah desa kuno di dekat Yangshuo. Ia memiliki sejarah tua, lebih dari 1000 tahun usianya. Posisi desa ini unik. Tiga sisinya dikelilingi oleh pegunungan dan satu sisinya oleh Sungai Li. Fuli sejak dulu dan hingga kini digunakan sebagai salah dermaga Sungai Li. Pada zaman kuno, sebelum adanya jalan raya dan rel kereta api, Sungai Li adalah satu-satunya cara untuk menghubungkan Sungai Yangtze dan Sungai Pearl.

menjelang merapat ke dermaga desa tua Fuli

Untuk mencapai desa Fuli kami harus naik rakit bambu lagi selama 45 menit, begitu ujar Feng. Mengingat air sungai masih agak tinggi dan hujan masih turun, saya sebetulnya ingin membatalkan program ini. Tapi dilema juga karena keinginan untuk menyelusuri kampung pedalaman Cina tidak kalah kuatnya. Akhirnya kami pun berakit-rakit lagi ke hulu dengan harapan bersenang-senang kemudian. Syukurlah Allah masih berbaik hati kepada kami karena masa berlayar 45 menit dalam suasana sedikit tegang (karena melawan arus) bisa dilalui dengan selamat. Kami pun turun ke darat dan memulai tur di lorong desa Fuli. Menurut Feng, desa ini dikenal sebagai tempat diproduksinya “kipas kertas yang dilukis dengan tangan”. Ada banyak seniman yang pintar melukis kipas di kampung ini karena hampir semua orang di sini bisa melukis gambar dengan bagus. Rata-rata motif lukisan mereka adalah pemandangan alam  Guilin, daerah Yangshuo, bunga, burung dan ikan. Kipas kertas merupakan pendapatan utama dari penduduk desa Fuli karena produknya disalurkan ke kota-kota lain  di Cina.

Menyusuri desa Fuli di hari pasar

Lukisan dan kipas kertas di salah satu rumah produksi di desa Fuli

Foto bersama pemilik kipas terkenal di Fuli

 

 

 

 

 

 

Dari Fuli kami melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju Big Banyan Tree (pohon beringin) Yangshuo. Nah, ini dia tempat unik satu lagi yang hanya ada bisa ditemui di Yangshuo.

Berfoto dengan banyan tree di latar belakang

Foto dengan monyet di Banyan Tree

 

 

 

 

 

 

 

Alkisah big banyan tree yang termasuk jenis beringin ini awalnya ditanam semasa Dinasti Jin, dan memiliki sejarah lebih dari 1.300 tahun. Usia dan keindahan yang menjulang tinggi membuat pohon ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi jika datang ke Yangshuo. Yangshuo Big Banyan Tree terletak 7 kilometer dari pusat kota Yangshuo, dan pohon tua setinggi 17 meter ini berada dalam kompleks taman seluas lebih dari 1000 meter persegi. Masyarakat primitif di zaman kuno menganggap pohon itu sebagai Tuhan. Orang miskin memandang pohon sebagai dokter yang mampu menyembuhkan semua penyakit. Ada kepercayaan bahwa orang orang sakit yang menuliskan keinginan mereka untuk sembuh diatas selembar kertas merah dan ditempelkan ke pohon, maka keinginan mereka untuk sembuh akan terkabul.

Ada satu hal penting yang baru saya sadari tentang keunikan Banyan Tree Yangshuo yang tidak dijelaskan dalam brosur-brosur yang dibagikan kepada para turis. Kalau tidak dijelaskan oleh Feng, saya juga tidak akan tahu.

foto banyan tree dari dekat. Akar-akar yang “turun” dari atas terus menancap ke tanah dan berakar pula/

Seperti telah disampaikan, banyan tree sebetulnya masuk jenis beringin juga, tetapi agak berbeda dengan beringin yang biasa. Banyan tree ini tingginya sekitar 17 meter dan meliputi area seluas 1000 meter persegi. Pohon ini memiliki sejumlah akar cukup besar yang turun dari atas hingga menancap ke tanah sehingga tak obahnya ibarat sebuah batang pohon pula. Jadi kalau dilihat dari dekat, kita akan melihat bahwa banyan tree ini seolah-olah ditopang oleh banyak batang pohon kecil, namun semuanya menyatu diatas (bisa dilihat dari fotonya). Sungguh sebuah fenomena yang unik. Banyan tree di tepi sungai Jinbao ini dikatakan memiliki daun yang selalu hijau di segala musim dan batangnya belum pernah rubuh atau rusak.

Kami tidak bisa berlama-lama di taman yang indah ini karena perut sudah minta diisi. Feng sudah berencana akan membawa kami santap siang di Moon Hill Cafe, sebuah restoran di kami bukit yang dinamai Moon Hill tersebut. Moon Hill merupakan salah satu obyek turis juga khususnya bagi mereka yang menyenangi panjat tebing.

Usai makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Silver Cave (gua perak).

 

 

 

 

 

Gua Perak (Yinzi Cave) termasuk jenis gua Karst, lokasinya 18 km sebelah tenggara kota Yangshuo. Guilin memiliki banyak gua dan sebagian besar pemandangan di dalamnya hampir sama, tetapi Gua Perak adalah gua terbesar di Yangshuo dan bahkan di daerah administratif  Guilin. Luasnya meliputi 12 bukit sepanjang 2.000 meter yang untuk mengelilinginya bisa  memakan waktu satu setengah jam. Gua ini dinamai demikian  karena memiliki banyak stalaktit yang berkembang di periode geologi yang berbeda, mengandung kristal mineral yang berkilauan seperti jutaan perak dan berlian dalam gelap. Gua Perak dapat dikatakan terbagi atas tiga tingkatan, yaitu gua atas, aula besar dan gua bawah.

Kami masuk berbarengan dengan sejumlah rombongan turis yang datang dengan bis-bis besar yang membuat suasana agak crowded. Ketika berjalan menyusuri lorong di dalam gua yang ditata apik dengan suhu udara yang sejuk, kami hanya mampu bergumam dan memuji akan kebesaran Tuhan yang telah menciptakan pemandangan alam yang begitu mempesona. Bagian atas gua yang berwarna keperak-perakan sungguh membuat kami serasa terbawa ke dalam dunia es yang indah yang diliputi salju dan embun yang membeku. Gua ini sangat pantas disebut sebagai “gua perak”, karena sewaktu kami berjalan menyusuri tebing-tebing batu, warnanya mengkilap seperti perak. Ditambah dengan permainan lampu sorot warna warni, membuat suasana di dalam gua terseut menjadi semakin memukau. Ada yang mengomentari bahwa “silver cave adalah kombinasi dari puisi, filsafat dan estetika“. Dan banyak pula yang menyebutkan bahwa “Silver Cave ibarat negeri dongeng yang sekaligus sebagai gua yang terindah di daratan Cina.”

Semua pemandangan yang luar biasa itu  membuat perjalanan menyusuri Silver Cave selama satu setengah jam sebagai wisata gua yang tak terlupakan .  (bersambung …)

Leave a Comment

Filed under Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (part 2)

Hari kedua: tour menyusuri sungai Li yang melegenda

Indahnya pemandangan dari hotel Li River Retreat

Akumulasi dari kecapaian dan udara yang sejuk membuat kami malam itu tertidur pulas. Pagi harinya saya terbangun dengan perasaan dan badan yang lebih segar. Apalagi setelah duduk di beranda kamar yang menghadap ke sisi sungai dan bukit yang menghijau, terdengar derik suara jangkrik yang seolah merupakan lagu harmoni ditengah kesunyian pagi. Sekali-sekali terdengar lolongan entah lutung atau siamang di kejauhan sana, sungguh membuat kalbu ini menjadi tenteram. Suasana ini yang barangkali mampu mengilhami lahirnya karya-karya puitis para pujangga masa lalu.

Saya nyaris larut dalam suasana damai itu, namun segera sadar bahwa Feng akan menjemput kami pukul 9 pagi. Kami pun berbenah dan menikmati sarapan pagi di beranda luar hotel yang   dilatar belakangi bukit dan sungai Yulong sambil menunggu jemputan.

Teras hotel yang sangat nyaman untuk breakfast jika cuaca cerah

Rencana pagi itu adalah dermaga desa Xingping. Dari sana Feng akan mengajak kami melayari sungai Li kearah Yangdi dan kembali lagi ke Xingping. Perjalanan air ini diperkirakan akan memakan waktu satu setengah jam lebih.

Menurut literatur, Xingping yang juga dieja sebagai Xing Ping boleh disebut sebagai kota Yangshuo tempo dulu. Turis yang berdatangan ke Yangshuo dengan kapal pesiar (cruise) umumnya selalu singgah ke Xingping.  Padahal Xingping hanyalah sebuah desa kecil yang bisa kita kelilingi hanya dalam satu jam. Meskipun desa kecil, ia memiliki sejarah panjang yang  sudah mencapai 500 tahun. Disini banyak ditemui bangunan tradisional dari periode dinasti Qing dan Ming. Pasarnya tidak buka setiap hari, hanya ramai pada hari pasar, yaitu setiap 3 hari.

Problem yang kami hadapi lagi-lagi hujan, yang lumayan deras disertai angin, sehingga kami selain memakan ponco (jaket hujan), juga membentengi diri dengan payung-payung agar tidak terkena tampias. Saya mulai berpikir, bagaimana caranya untuk memotret pemandangan dalam cuaca seperti ini, apalagi gugusan bukit karst sudah diliputi kabut tebal. Saya hamper  putus asa karena obyek yang paling saya  incar justru bukit-bukit yang unik ini. Di sekeliling  kami sudah berseliweran banyak rakit dan kapal pesiar yang sebagian penumpangnya cukup nekad dengan memotret di tengah hujan sambil satu tangannya memegang payung. Arus sungai yang terlihat agak deras membuat motor tempel kami bekerja keras seperti meraung melawan arus, membuat hati saya agak was-was. Memang kita semua diwajibkan mengenakan pelampung, tapi persoalannya saya sama sekali tidak bisa berenang. Haiyya, ini dia pikiran setan yang selalu menakut-nakuti manusia. Saya mencoba menenangkan diri, apalagi ketika melihat Feng dan tukang perahu yang lagi-lagi wanita, wajahnya terlihat biasa saja. Hanya Feng terlihat seperti merasa bersalah karena tidak bisa mempertontonkan keindahan alam di sepanjang sungai Li dengan maksimal.  Beberapa kali kabut tebal yang menyelimuti gugusan bukit karst sempat menipis dan momen itu saya manfaatkan untuk mendokumentasikan keindahan alam ciptaan Nya. Namun itu juga yang menjadi penyebab terjadinya musibah kecil. Lensa kamera pocket kesayangan isteri saya tampaknya kemasukan cipratan hujan sehingga hasil fotonya menjadi blur, buram semua. Untungnya saya membawa dua tustel, tapi yang ini harus saya jaga benar, ngga mau konyol lagi.

menepi di delta menunggu hujan reda

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah hampir 2 jam terombang-ambing ditengah sungai dan sempat menunggu hujan reda  di delta kecil tengah sungai, kami selamat merapat kembali ke dermaga Xingping. Alhamdulillah, kami telah berhasil melewati perjalanan yang berkesan sekaligus beresiko  (waktu mau balik ke Jakarta, ketika check-in di Guilin airport kami bertemu dengan satu keluarga dari Makassar yang bercerita bahwa cruise yang ditumpanginya dari Guilin menuju Yangshuo diinstruksikan oleh otoritas pengawasan sungai untuk kembali ke Guilin karena arus sungai terlalu deras dan airnya pasang).

Dari dermaga Xingping kami diajak Feng berjalan kaki sekitar 15 menit menyusuri gang-gang kecil di perkampungan tradisional, yang lucunya diramaikan oleh bule. Pemandangan khas yang kami lihat hampir di setiap kedai di lorong perkampungan itu adalah sekelompok orang (pria dan wanita) yang bermain kartu dengan taruhan uang. Itu rupanya sudah merupakan tradisi disana.

di dermaga Xingping

lorong di kotra/desa tua Xingping

Kami akhirnya meninggalkan Xingping menuju downtown Yangshuo, West Street yang selalu diramaikan para turis. Dan memang sudah waktunya pula untuk makan siang.
Feng rupanya membawa kami ke restoran langganannya di West Street, terbukti dia disambut akrab sama para pelayannya. Kami memilih duduk di teras lantai 2 sehingga bisa bebas melihat keramaian di dibawah. Perasaan saya kembali melayang ke alam Kho Ping Hoo karena saya  merasa tak obahnya seperti seorang taihiap yang masuk ke rumah makan sambil menenteng sebatang pedang, disambut para pelayannya dengan mimik mengharapkan persenan beberapa tail perak sambil menyoja dalam-dalam. Hanya bedanya, yang saya tenteng adalah monopod tustel, bukanlah pokiam atau joan-pian. Makan di loteng (lantai 2) dijamin tidak akan diganggu oleh pengemis yang penuh tambalan di bahunya. Astaga, sudah begitu jauhnya pengaruh  dunia kang-ouw merasuk kedalam diri saya ini.
Singkat cerita, makan disini juga enak masakannya walau jenis menunya tetap sama, yaitu ikan dan green vegetable.

What next? Apalagi kalau bukan menyusuri West Street yang dipenuhi dengan toko, kios dan pedagang kaki lima yang begitu agresifnya memaksa kita membeli dagangannya. Saya menyerah kalau sudah begini, disamping tidak tertarik juga buat belanja pernik-pernik. Tapi sebaliknya  isteri saya ibarat memperoleh suntikan hormon, setiap ada sesuatu yang membuatnya tertarik langsung didekati. Alhasil bisa ditebak, kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam disana. Feng dari tadi sudah mengingatkan, hati-hati sama copet dan kalau mau beli sesuatu wajib hukumnya untuk menawar.

restoran yang kami masuki di West Street

Hard bargain?
No problemo.

Bersama gadis lokal di West Street

 

 

 

 

 

 

Saya cuma senyum-senyum menanggapi warningnya yang kedua, sebab soal menawar barang  isteri saya tidak perlu diajari. Terbukti Feng beberapa kali melongo ketika isteri saya berhasil menawar barang yang harganya bisa jauh dibawah estimasi yang disebut oleh Feng. Saya jadi ingat, dulu pernah ada yang bilang bahwa dalam berdagang, orang Cina hanya bisa dilawan sama orang Padang. Kenapa? Ya, karena sama-sama punya jiwa dagang. Ini analoginya sama seperti isitilah only a Ninja can defeat a Ninja.  Entahlah, tapi agaknya anggapan itu tidak 100% benar karena saya termasuk yang tidak suka Afgan (baca: sadis) dalam menawar.       (bersambung . . .)

8 Comments

Filed under Travel

Kisah perjalanan wisata ke Guilin dan Yangshuo, China (part 1)

Sekilas kota Guilin dan riwayatnya

Guilin ialah sebuah kota di Republik Rakyat Cina yang terletak di timur laut Kawasan Otonomi Guangxi Zhuang. Dari sensus di tahun 2004, kota ini berpenduduk 707.200 jiwa dan sejak lama menjadi daerah tujuan wisata. Terletak di bantaran Li River (Sungai Li), namanya berarti hutan Osmanthus fragrans (teh zaitun?), karena banyaknya tanaman ini di kota ini.

Begitu nama Guilin disebutkan, bagi mereka yang pernah mengunjunginya pasti akan terbayang keindahan alamnya. Padahal disamping lansekap karst yang menakjubkan di sekelilingnya, kota Guilin sesungguhnya memiliki sejarah panjang sejak 10.000 tahun yang silam. Di masa awal itu rakyat Zengpiyan masih menganut klan masyarakat matriarkat (matrilineal). Namun, Guilin belum terdengar sampai sekitar 214 SM ketika Kaisar pertama dari Dinasti Qin (221 SM-206 SM) mendirikan kota Guilin di wilayah tersebut. Pada saat yang sama, karena pembangunan Terusan Ling, Guilin menjadi salah satu pintu gerbang antara Dataran Tengah dan Daerah Lingnan (Guangdong saat ini, Guangxi dan bagian Hunan, Jiangxi). Kemudian, di tahun 111 M semasa Dinasti Han Timur (25-220), County Shian didirikan di Guilin. Sejak saat itu, Shian (Guilin) dianggap tempat yang strategis dan di masa Dinasti Tang (618-907), Shian diubah namanya menjadi Lingui County.

Karena kaya akan sumber daya alam dan posisi geografis yang menguntungkan, Guilin menjadi basis yang terkenal, baik untuk kaum revolusioner dan para panglima perang di era modern Cina. Terutama selama periode perang anti-Jepang, Guilin adalah pusat perlawanan budaya dengan sejumlah besar intelektual aktif. Di tahun 1921 Guilin menjadi salah satu markas besar Angkatan Darat Ekspedisi Utara dibawah pimpinan Dr. Sun Yat-sen. Dengan demikian, Guilin memiliki sejarah dan budaya yang seimbang dengan alamnya yang mengagumkan.

Karena Guilin telah lama terkenal akan pemandangan alamnya yang unik, tidaklah heran jika Guilin dianggap sebagai tempat yang paling indah di dunia dengan bukit-bukit Karst yang berbentuk spektakuler, gua-gua yang mengagumkan dan air sungainya yang jernih. Kita akan terkesan dan takjub oleh pemandangannya yang indah, dan mungkin akan bertanya-tanya bagaimana caranya Sang Maha Pencipta mewujudkan alam yang begitu indahnya bagi umat manusia.

Dari segi geografis, topografi Karst merupakan bentangan alam yang dibentuk oleh pelepasan lapisan atau lapisan batuan dasar laut, biasanya batuan karbonat seperti batu gamping atau dolomit (sumber: wikipedia). Cina Selatan merupakan daerah Karst yang utama di dunia, dan Guilin adalah yang paling khas karena merupakan sebuah teluk sejak beberapa ratus juta tahun yang lalu. Air laut asin terus melarutkan dan menyelimutinya dengan lapisan batu kapur yang perlahan-lahan menciptakan perbukitan Guilin yang unik di bawah air. Dalam pergerakan kerak bumi, laut berganti dengan tanah. Alam pun terus berkembang dan sekitar 70 juta tahun yang lalu, dengan bantuan unsur-unsur alam angin, hujan, dan sungai di atas dan di bawah tanah, terbentuklah puncak batu kapur yang terisolir dan gua stalagmit yang fantastis di Guilin.

Kawasan Guilin dialiri oleh banyak sungai yang jernih airnya, ibarat cermin yang merefleksikan gambaran perbukitan Karst yang indah. Sungai Li yang mengalir di wilayah tersebut dan menghubungkannya dengan kota kecil yang indah Yangshuo, adalah jiwa dari keindahan alam Guilin itu. Bahkan Han Yu, seorang penyair besar dinasti Tang (768-824) yang sangat terinspirasi ketika melayari Sungai Li dari Guilin, sampai menuliskan lirik terkenalnya “hembusan angin sungai seperti pita sutra hijau, sementara bukit-bukit seperti jepit rambut giok”. Pemerintah Cina saat ini pun tidak ketinggalan mempromosikan Guilin dengan menampilkan gambar gugusan bukit karst tersebut di uang kertas lembaran RMB 20 yang baru.

Mata uang RMB 20 dengan latar belakang pemandangan Sungai Li

 

Merencanakan kunjungan ke Guilin dan Yangshuo

Kunjungan saya dan isteri ke Guilin sesungguhnya bukan dari inisiatif kami sendiri, melainkan atas rekomendasi teman saya, Wahyu ketika ngopi bareng di Citos sekitar bulan September 2011. Saat itu Wahyu belum lama kembali dari liburan bersama keluarganya ke Guilin. Sejujurnya, ketika Wahyu menyebut “Guilin” saya tidak bereaksi apa-apa karena memang nama itu terasa asing bagi saya. Di benak saya, kota-kota di Cina yang sering saya dengar tidak lebih dari Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Shenzhen. Barulah setelah Wahyu yang tidak pernah lepas dari iPad nya menunjukkan foto-foto ketika berada di Guilin, mata saya jadi terbelalak. Ya Allah, ternyata keindahan di foto-foto itu sudah ada dalam imajinasi saya sejak lama, ketika masih jadi pecinta berat cerita-cerita silat Kho Ping Hoo. Yang langsung terbayang dalam imajinasi saya (ini gara-gara racun suhu Kho Ping Hoo) adalah kisah-kisah beliau tentang perjalanan para tayhiap berperahu melayari sungai Huang Ho yang kiri kanannya dipenuhi puncak gunung berkabut sementara ancaman bajak laut mengintai setiap saatnya.

Ketika menikmati keindahan Lembah Harau di Sumbar yang juga dipenuhi oleh bukit cadas pada akhir 2011, perasaan saya sudah ikut tenggelam ke alam imajinasinya Kho Ping Hoo. Tetapi foto-foto Guilin ini jauh lebih spektakuler, bahkan melebihi keindahan Halong Bay di Vietnam yang pernah dipakai untuk shooting film James Bond itu.

Saya langsung bertekad dalam hati, ini harus jadi target hunting saya berikutnya bilamana ada kesempatan berlibur. Sejak pertemuan dengan Wahyu, saya mulai rajin mencari informasi tentang Guilin dan Yangshuo dengan bantuan mbah Google. Oh iya, Wahyu menyebutkan bahwa ia sekeluarga menginap di kota kecil Yangshuo yang lokasinya sekitar 65 km dari Guilin Liangjiang International Airport.

Saya pun mulai menjual ide berlibur ke Guilin ke isteri, dengan menunjukkan beberapa foto keindahan alam disana. Isteri saya mungkin agak tertarik, tapi reaksinya belum seperti yang saya inginkan. Komentarnya pendek saja, “ya dijajaki dulu lah bagaimana cara perginya dan suasana disana.” Saya tahu yang dia maksudkan. Persoalan utamanya setiap kali berlibur hanya dua, faktor makanan dan kebersihan toilet. Ada faktor ketiga, yaitu perjalanan itu sendiri karena dia tidak suka (dan tidak kuat) berjalan kaki terlalu jauh. Belakangan saya baru tahu bahwa untuk mengunjungi Guilin tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta. Lokasi terdekat untuk terbang kesana adalah melalui Kuala Lumpur, dan pesawatnya hanya berangkat pagi hari, sekitar setengah tujuh pagi. Artinya, untuk kesana terpaksa transit dulu semalam di Kuala Lumpur.

Saya sebetulnya tidak terlalu suka perjalanan yang harus pakai transit atau transfer segala macam, tapi panggilan Guilin mampu mengalahkan keengganan itu. Begitulah, hanya berselang satu bulan setelah Wahyu mengompori saya tentang Guilin, di pertengahan Oktober 2011 saya sudah melakukan early booking penerbangan AirAsia ke Kuala Lumpur dan dilanjutkan ke Guilin untuk tanggal 22 Juni 2012 selama seminggu. Lumayan, artinya saya punya waktu sekitar 7 bulan untuk mempersiapkan perjalanan ini. Tidak mau tanggung-tanggung, segala informasi yang menyangkut trip ke Guilin saya korek dari Wahyu. Dimana hotel tempatnya menginap, siapa tour guide lokal yang disewanya serta lokasi apa saja yang menarik untuk didatangi, saya gali terus.

Saya pun mulai berkomunikasi dengan wanita yang bakal menjadi tour guide kami dan mendiskusikan obyek yang akan dikunjungi dalam 6 hari kunjungan ke Guilin dan sekitarnya. Karena saya menyebutkan ketertarikan akan budaya lokal dan keindahan alam, Feng (tour guide yang pernah memandu Wahyu) menawarkan sejumlah lokasi dan atraksi yang mungkin menarik bagi kami.

Ternyata Feng yang mengaku sudah berprofesi sebagai guide sejak 15 tahun yang lalu cukup profesional. Ia menawarkan detil agenda perjalanan berikut biaya yang terkait, seperti sewa mobil hingga tiket masuk lokasi wisata. Dalam agenda Feng, 3 hari pertama kami disarankan menginap di Yangshuo (sesuai dengan saran Wahyu). Hari ke-4 kami akan diajak ke perkampungan minoritas suku Dong (Dong Minority Ethnic) di Dong Village, sekitar 6 jam dengan mobil dan menginap disana. Keesokan harinya akan mengunjungi perkampungan etnis Zhuan di Longji Ping’An Village, sekitar 3 jam dari Dong Village dan menginap pula semalam disana. Esoknya harus meninggalkan Longji untuk langsung ke airport untuk kembali ke Kuala Lumpur dan terus ke Jakarta. Hotel di perkampungan Dong dan Longji Ping’An Village akan diatur oleh Feng.

Itulah agenda perjalanan yang akhirnya kami sepakati. Isteri saya pun setuju dengan agenda itu dengan mengingatkan kembali akan persyaratan yang disampaikannya tempohari. Berangkat ke Guilin dan Yangshuo Waktu berjalan begitu cepatnya sehingga tanpa disadari hari-H pun tiba. Sebenarnya ada beberapa pekerjaan yang sedang saya tangani, tapi apa boleh buat perjalanan ke Guilin bagi saya menjadi skala prioritas untuk saat itu.

Perjalanan ke Guilin boleh dikatakan lancar-lancar saja, tidak ada hambatan yang berarti kecuali letih di perjalanan akibat kurang tidur akibat transit dan jalan kaki yang lumayan jauh di LCC Airport Kuala Lumpur. Pesawat kami mendarat di Guilin Liangjiang International Airport tgl 23 Juni 2012 jam 10:05, lebih awal 20 menit dari jadwal dan disambut oleh udara mendung serta hujan ringan.

Guilin Liangjiang International Airport

Feng sudah menanti di ruang penjemputan bersama Mao, sopir yang akan menemani kami selama kunjungan disana. Dari guratan wajahnya tersirat bahwa ia seorang wanita yang sudah terbiasa dengan kerasnya hidup di Cina. Kami dibawa menuju sedan KIA yang cukup mulus dibawah siraman hujan rintik-rintik, bertolak menuju Yangshuo yang disebutnya akan memakan waktu hampir 2 jam perjalanan untuk jarak sekitar 65 km.

Betul juga seperti informasi di Internet, rupanya Yangshuo ini boleh dibilang kota para turis yang dipenuhi dengan hotel dan rumah makan. Rada mirip dengan kota Bukittinggi lah. Karena hujan masih mengguyur, Feng merubah beberapa agenda perjalanan kami. Karena waktu makan siang sudah datang, kami diajak menangsal perut (mengisi perut, ini lagi-lagi istilah di cersil cina) terlebih dahulu. Lokasi yang dipilih adalah sebuah rumah makan sepi yang tidak terlalu besar, namun terletak di tepi sungai Yulong dan tidak jauh dari Dragon Bridge (jembatan naga) yang berusia lebih dari 400 tahun.

Ketika ngobrol sambil menunggu makanan disajikan, tahu-tahu Mao (sopir) datang dari arah dapur dengan menenteng sepiring potongan buah mirip bengkuang putih. Feng memaksa kami mencobanya. Tidak ada salahnya, tokh ini buah-buahan atau sayuran sehingga kami mencicipinya dengan bantuan toothpick. Ternyata enak, ini acar apa ya pikir saya? Tapi isteri saya punya pengetahuan kuliner yang jauh lebih baik. Katanya “ini acar lobak putih, memang sedap rasanya.” Mao terlihat sumringah waktu kami acungkan jempol buat pilihannya, maklum dia tidak paham bahasa Inggris sama sekali.

Sementara Feng sejak awal sudah saya informasikan agar makanan kami dijauhkan dari unsur “pork”. Menurutnya hal itu tidak jadi kendala karena begitu banyak pilihan makanan di Cina. Entah memang masakannya enak atau kami yang kelaparan, menu steam cattle fish (ikan lele) digabung dengan mixed vetegable terasa begitu nikmat.

Usai santap siang hujan gerimis masih turun. Kami lalu diajak mengunjungi Dragon Bridge, tokh tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah makan yang tidak sempat saya tanya namanya. Menurut ceritanya Dragon Bridge dirancang di awal Dinasti Ming, jauh di tahun 1412 yang silam dan merupakan salah satu jembatan terbesar di provinsi Guangxi dengan panjang sekitar 59 meter. Di bawah jembatan naga ini kita bisa menyewa rakit bambu (bamboo raft) untuk menyusuri sungai Yulong. Tapi karena permukaan air sungai sedang naik, tidak satupun rakit bambu yang boleh beroperasi. Sementara itu hujan masih turun sehingga kami tidak mau berbasah-basah disini, sehingga hanya mengambil beberapa snapshot foto dan kembali ke mobil.

Pemandangan dari bawah Dragon Bridge

Target kunjungan berikutnya adalah Shangri-La Guilin yang terletak 15 km sebelah utara dari Yangshuo dan 50 km selatan kota Guilin. Ini adalah taman alam yang dilengkapi dengan danau buatan yang asri. Tamannya tidak terlalu luas, begitu juga danaunya yang sangat hijau airnya. Di pinggir taman dan danau didirikan beberapa bangunan yang merupakan miniatur suku Dong dan Miao, dua suku minoritas yang sebagian besar bermukim di bagian utara Guilin. Hujan yang masih menggguyur ternyata pengunjungnya yang mayoritas warga Eropa, Australia dan turis lokal cukup membludak dan rela berhujan-hujan menunggu giliran naik ke motorboat beratap dengan kapasitas 12 orang dengan panduan seorang gadis di setiap motorboat.

Hujan tidak menghalangi niat pengunjung yang antri untuk naik boat mengelilingi danau buatan.

Menyusuri gua buatan di Shangri-La Guilin

Pemandangan di Shangri-La Guilin yang dikelilingi puncak-puncak karst.

Pemandangan di sekeliling danau buatan sungguh memukau karena dilatar belakangi oleh gugusan bukit-bukit karst yang unik. Sayang sekali kabut agak mengganggu keindahaan pemandangan alamnya dan matahari masih bersembunyi. Dari Shangri-la kami diantar ke hotel Li River Retreat yang letaknya agak terpencil keatas bukit yang sepi. Sempat ciut juga melihat kenyataan betapa terisolirnya hotel kami ini, apalagi waktu Feng menyarankan untuk makan malam di hotel saja karena pusat keramaian kota lumayan jauh kalau berjalan kaki sementara lampu jalan tidak ada serta langkanya taksi meter (tidak ada?).

Kami disambut dengan sangat ramah oleh Alf, si empunya hotel yang warga negara Australia dan beristerikan wanita asli Guilin. Alf sendiri turut membantu mengangkat dua koper kami yang cukup berat hingga ke lantai 3 (paling atas) dengan jendela menghadap ke arah gunung dan sungai. Asrinya suasana di luar yang diselingi oleh suara jangrik dan lolongan siamang di kejauhan, sungguh membuat saya berasa kerasan di kamar hotel. Artinya pilihan hotel saya tidak salah, dan saya harus berterima kasih sama Wahyu.

Hotel Li River Retreat tempat kami menginap di Yangshuo

Dalam jadwal semula seharusnya kami akan diajak menyaksikan pementasan, sebuah show diatas panggung dengan ketinggian hanya sedikit diatas permukaan air sungai Li dan dua belas pegunungan sebagai latar belakangnya. Para penonton akan duduk di panggung yang dirancang khusus. Show ini disutradarai oleh Zhang Yimou yang juga menyutradarai film terkenal “Hero.” Ada yang bilang bahwa kalau ke Yangshou tapi tidak menyaksikan acara ini, kunjungan itu belumlah sempurna. Tapi apa daya, hingga hari ketiga kami menginap di Yangshuo, acara pementasan akbar ini batal dilangsungkan karena air sungai Li sedang naik. Too bad, manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan.

Sebagai gantinya, kami diajak menonton atraksi Cormorant Fishing yang akan dimulai pukul 19:30. Sebetulnya saya kurang tertarik dengan urusan pancing memancing, namun sayang juga kalau hanya berdiam di kamar hotel. Untuk itu kami akan dijemput sopir di hotel jam 7 malam menuju dermaga kecil untuk naik boat bersama 10 orang wisatawan Jerman yang akan turut menyaksikan atraksi ini. Karena Feng tidak ikut, kami agak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan Mao, sang sopir. Tapi dengan bantuan isyarat tangan kami paham bahwa Mao akan menitipkan kami ke pemilik kapal yang akan membawa kami menyusuri sungai Li berlayar sejajar dengan rakit bambu si Nelayan dengan burung dandangnya (cormorant birds).

Sungai Li di malam hari gelap gulita dan kapal kami juga tidak punya lampu. Bagaimana bisa melihat atraksi penangkapan ikan, pikir saya dalam hati. Tapi kegundahan itu segera terjawab ketika motorboat kami mendekati dan berlayar sejajar dengan sebuah rakit bambu yang dikemudikan sang nelayan yang diatasnya bertengger beberapa ekor burung besar mirip itik.

Begitu kami mendekat, si Nelayan langsung menyalakan lampu sorot yang terpajang di atas rakit bambunya, mengarah ke depan. 6 ekor burung yang semula saya kira itik, mulai terjun ke sungai, berenang mendahului rakit sang Nelayan. Lalu satu persatu burung tersebut menyelam hingga lenyap selama beberapa puluh detik, sebelum naik lagi ke permukaan air. Beberapa ekor diantaranya terlihat menelan ikan di paruhnya. Tapi si Nelayan dengan sigapnya menggaet burung dengan tongkat panjangnya, lalu menangkap dan memencet lehernya sehingga paruh burung itu terbuka dan ikan yang ditelannya terloncat keluar secara utuh, masuk ke keranjang yang sudah disiapkan. Kemudian burung itu dilepaskannya lagi dan melanjutkan perburuan ikan.

burung dandang mencari ikan dibawah lampu sorot

burung dandang yang baru muncul sehabis menyelam

 

 

 

 

 

 

Sungguh sebuah ide menangkap ikan yang kreatif dan pasti burung-burung sudah terlatih semua. Kegiatan ini berlangsung sekitar 45 menit dimana di akhir atraksi si nelayan menepi dan menurunkan keranjang yang berisi ikan hasil tangkapannya. Kami juga merapat dan diberikan kesempatan untuk melihat dari dekat ikan dan burung dandang yang pintar itu. Ujung-ujungnya sudah bisa ditebak, kita diminta menaruh uang tips di keranjang sang nelayan. Sedangkan untuk mengikuti atraksi ini setiap orang harus bayar RMB 50 buat pemilik kapal yang kami tumpangi. Win-win solution bagi pemilik kapal turis dan si nelayan.

Karena merasa penasaran soal cormorant fishing ini, belakangan saya surfing di Internet. Apa sih rahasianya sehingga ikan itu nyangkut di leher burung dandang itu sekalipun ukurannya tidak terlalu besar. Inilah nikmatnya hidup di era informasi. Jawabannya langsung saya peroleh. Cormorant fishing adalah suatu tradisi memancing ikan dengan bantuan burung dandang yang terlatih. Hal ini sudah menjadi tradisi lama nelayan Cina (khususnya Guilin) dan Jepang (Gifu) sejak tahun 960 Masehi. Untuk mengontrol burung, para nelayan mengikatkan tali di dekat pangkal tenggorokan burung. Hal ini untuk mencegah burung-burung itu menelan ikan yang lebih besar, yang berada di tenggorokannya. Tetapi mereka masih bisa menelan ikan kecil. Ketika burung dandang telah menangkap ikan agak besar dan tersangkut di tenggorokannya, nelayan menarik burung itu keatas perahu dan memencet lehernya supaya ikan yang tersangkut di lehernya dapat dimuntahkan ke keranjang.

Hari pertama boleh dikatakan berjalan dengan memuaskan walau kami tidak bisa menyaksikan pementasan cahaya di sungai Li. Kami pun kembali ke hotel dengan perasaan lega.  (bersambung …)

6 Comments

Filed under Travel

Signora Pasta, kelezatan masakan Italia di Cirendeu, Pondok Cabe

Minggu sore yang lalu anak bungsu saya tidak seperti biasanya, dia mengajak untuk makan malam di luar rumah. Dalam ajakannya dia sudah menyebut target yang akan dituju, yaitu di restoran Signora Pasta, Cirendeu, Pondok Cabe.

Ya, Signora Pasta. Mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa di kawasan Cirendeu Pondok Cabe ada sebuah restoran kecil yang menawarkan cita rasa masakan Italia yang patut dicoba. Ngga usah heran, karena lokasinya memang agak tersembunyi sehingga mereka yang melintas di jalan raya Cirendeu tidak bisa melihat papan nama restoran tersebut. Lokasinya berada di kompleks supermarket Superindo, dekat perumahan Bali View yang kini juga dikenal dengan nama Plaza Cirendeu. Plaza Cirendeu menurut pengamatan saya belakangan ini semakin ramai dengan rumah makan dan toko-toko kecil yang menjual aneka ragam barang.

Kunjungan Pertama ke Signora Pasta
Sekitar awal tahun lalu ketika diajak isteri untuk mencicipi makanan Italia di Cirendeu, saya agak ogah-ogahan karena dua alasan. Pertama, saya tidak ngefans sama makanan Italia karena bagi lidah saya, tidak ada yang bisa mengalahkan masakan Padang. Kedua, mau mencoba masakan Italia kok di Cirendeu? Itu yang ada di benak saya. Tapi karena tidak mau mengecewakan isteri, saya akhirnya diam saja ketika diajak masuk ke sebuah restoran kecil yang saat itu relatif sepi.
Seperti biasa, kalau masuk ke suatu restoran yang masih asing, saya menyempatkan diri untuk mengamati situasi dan interior ruangannya. Nuansa Italia memang cukup terasa dengan dipajangnya sejumlah gambar, poster dan ornament yang khas Italia. Kalau bicara Italia dalam kacamata saya, tentu tidak jauh dari film-film mafia Sicilia dan klub bola. Itulah kira-kira gambaran di dalam restoran Signora Pasta.

Sewaktu memesan makanan, saya serahkan sepenuhnya kepada isteri karena dia termasuk penggemar makanan Italia. Apalagi nama-nama yang tercantum di buku menu memakai nama Italia yang tidak saya pahami. Tahun 1992 kami berdua sempat singgah beberapa hari di Roma dan satu-satunya makanan yang saya nikmati hanyalah Tiramisu cake. Jadi saya sudah siap mental, andaikata order pesanannya nanti tidak cocok dengan selera saya, ya ngga apa-apa.

Maka begitu makanan pembukanya disuguhkan, yaitu salad sayuran yang dalam menunya disebut Insalata Mista (with mix vegetables), saya langsung coba. Rasanya? Hemm …. boleh juga. Enak malah.  Ternyata lidah saya yang selama ini alergi sama masakan Italia bisa memberikan reaksi positif. Kombinasi sayuran segar dan gurih berikut campuran minyak zaitun dan salad dressing membuat saya larut dalam kenikmatan citarasa Italia. Apalagi makan saladnya disertai dengan Bruschetta yang juga dicampur tomat dan olive. Yummy rasanya.

Main course pilihan kami pada kunjungan pertama adalah Signora Pizza yang merupakan menu andalan di Signora Pasta. Pilihan ini memang tidak salah. Ketika dicicipi, terasa lembut dengan aroma dan bumbu yang sungguh menggoda. Pizza ini agak tipis dan tidak dipenuhi oleh aneka topping seperti biasanya pizza Italia lainnya. Konon menurut pengakuan Pino, si pemilik restoran kelahiran Torino, Italia, resep ini berasal dari ibunya, asli dari Italia. Saya yang selama ini hanya terbiasa dengan pizza ala Pizza Hut kini merasakan citarasa pizza yang berbeda, dengan kelezatan khas Italia.

Setelah kunjungan pertama, saya dan isteri ada beberapa kali lagi mampir dan mencoba menu yang berbeda. Intinya kami merasa bahwa semua aneka makanan yang dicoba memang patut diacungi jempol.

Signora Pasta Sekarang
Minggu malam kami bertiga sampai di Signora Pasta menjelang pukul 7 malam dan disambut dengan senyuman ramah sang pramusaji sambil menanyakan apakah mau duduk dibawah atau di lantai atas. Karena saat itu baru satu meja yang ditempati tamu, maka kami memilih tempat di lantai dasar saja. Dalam hati saya cukup surprise bahwa restoran kecil yang lantai dasarnya cuma memiliki 8 meja, ternyata kini memiliki lantai atas. Seingat saya ketika baru mengenal restoran ini pada awal tahun, hanya ada satu lantai untuk para tamu.

Kami pun sibuk memilih dari buku menu yang disodorkan. Saya pilih Scaloppine All’aceto Balsamico (fillet of beef served with mushroom in balsamic vinegar), isteri saya memilih Scaloppine di Pollo Ai Funghi (fillet of chicken served with mushroom in white sauce) sedangkan anak saya memesan Spaghetti Al Pesto plus Fettuccine alla Panna. Fettuccine itu merupakan pasta sejenis kwetiau, dihidangkan bersama daging sapi asap dan jamur kancing yang disiram dengan saus putih dan keju parmesan.
Untuk makanan penutup, pilihan yang ada tidak banyak. Ada dua cake, tiramisu dan torta al cioccolato serta home made ice cream. Sayangnya di Minggu malam itu torta al cioccolato sudah habis. Jadi kami memilih tiramisu saja. Soal rasanya, sudah tidak perlu ditanya lagi. Numero uno!

Tapi tunggu dulu, rasanya ada yang berubah. Sebetulnya sejak hidangan pertama datang, saya merasa ada yang berbeda. Tapi saya baru sadar setelah tiramisu sebagai hidangan penutup disuguhkan. Yah, itu dia. Ukuran cake nya mengecil. Sekitar 5 bulan yang lalu, tiramisu disuguhkan dalam piring ceper dengan ukuran yang cukup sedang untuk dua orang.  Kini, tiramisu yang enak itu disuguhkan dalam satu gelas kecil.
Begitu pula dengan main course yang kami pesan, porsinya tidak lagi sebesar porsi pada awal kunjungan kami di awal tahun ini.
Apakah karena harga bahan pokok merambat naik, daripada menaikkan harga makanan, restoran ini memilih opsi untuk memperkecil porsi makanannya. Entahlah.

Yang jelas, selama kami duduk menunggu datangnya makanan yang dipesan, tamu-tamu mulai berdatangan. Sementara menunggu datangnya makanan, saya nyaris terlena oleh alunan lagu Il Mondo, sebuah lagu populer di tahun 60-an yang terdengar sayup-sayup di tengah keramaian para tamu. Ketika kami akan beranjak pulang, masih terlihat sejumlah tamu yang berdatangan.  Tampaknya Signora Pasta telah berhasil memperoleh  pelanggan setianya.

Ciputat, 30 Mei 2012.

1 Comment

Filed under Kuliner

MENGUAK TABIR: ASAL MUASAL URANG SARIAK BERDAGANG ANTIK

Kata “Urang Sariak” entah kenapa sering digunakan dalam pantun-pantun maupun lagu Minang, baik sebagai sampiran ataupun isinya.

Coba saja lihat dari beberapa lagu Minang dibawah ini:

Urang Sariak pai ka ladang, ondeh …
Manjinjiang balam jo sangkaknyo, iyo …
Tali ka denai rantang panjang, ondeh …
Usah baniaik mamutuihnyo, iyo …
(lagu Urang Sariak – Alkawi)

Urang Sariak, Rang Sungai Pua
Nan batagak batu palano
Urang Sariak, Rang Sariak oi
Urang Sariak, Rang Sariak oi
(lagu Urang Sariak – Misramolai)

Urang Sariak babaju ganiah
Pai manggaleh ka Padang Lua
Iyo sarik bak ayam putiah
Kok indak sikok, alang manyemba
(lagu Usah Diratok’i - Tiar Ramon)

Kalau Sungai Pua (Sungai Puar, kabupaten Agam – Sumatera Barat) terkenal sebagai daerah penghasil peralatan dari logam, terutama dari besi dan kuningan, maka nagari Sariak dikenal sebagai kampungnya pedagang antik. Di Jakarta misalnya, boleh dibilang lebih dari 80% pedagang antik berasal atau merupakan kerabat dari urang Sariak. Komunitas pedagang antik di Jakarta Selatan misalnya, bisa ditemui di Ciputat,  Pasar Jum’at dan Kemang, atau kawasan Jakarta Pusat di seputaran Kebon Sirih dan jalan Surabaya.

Saya sudah cukup lama bertanya-tanya dalam hati, apakah hanya faktor kebetulan saja yang membuat bisnis barang antik ini didominasi oleh pedagang yang berasal dari satu kampung? Atau mungkin ada alasan lain sehingga kondisi ini bisa terjadi.

Alhamdulillah pertanyaan yang cukup lama mengganjal, akhirnya membuahkan jawaban yang bisa diterima, setelah berbincang-bincang dengan beberapa orang tua dan penghulu Sariak. Cerita ini mungkin ada manfaatnya untuk diketahui oleh generasi muda Sariak.

Satu hal yang tidak banyak diketahui oleh anak muda Sariak dewasa ini adalah bahwa  puluhan tahun yang silam atau bahkan lebih, banyak orang Sariak yang berprofesi sebagai tukang patri. Kita tentu paham bahwa tukang patri dalam menjalankan profesinya akan berkeliling mencari pelanggan yang akan menggunakan jasanya untuk menambal (mematri) panci dan barang-barang logam lain yang bocor.

Konon menurut kisahnya, dalam menjalankan profesinya seringkali tukang patri memperoleh barang-barang bekas dari pelanggannya, entah dikasih atau dibeli dengan harga murah.

Sekali waktu, tukang patri yang sedang menenteng beberapa barang bekas (bisa berupa barang kuningan atau porselen Cina) itu dicegat oleh serdadu Belanda yang berpapasan di jalan. Barang bawaannya diperiksa dan diamat-amati oleh opsir tersebut. Awalnya disangka bahwa barang bekas tersebut akan dirampas. Tetapi ternyata tidak. Orang Belanda itu bertanya, apakah barang ini mau dijual? Kita tentu tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi. Tetapi menurut kisah turun temurun, terjuallah barang bekas itu dengan harga yang diluar perkiraan si tukang patri. Barang bekas yang dinilai antik oleh orang Belanda itu dibeli dengan harga tinggi. Malah si Belanda itu berpesan pula, kalau ada barang-barang seperti itu lagi, tolong bawakan lagi dan  akan dikasih imbalan harga yang bagus.

Peristiwa tersebut jelas merupakan kabar gembira bagi tukang patri warga Sariak tersebut sehingga dia menjadi terpacu untuk “hunting” benda-benda bekas seperti porselein untuk bisa ditawarkan kepada orang Belanda. Tentu saja berita ini mulai tersebar ke teman-teman se profesinya, sehingga perburuan barang bekas yang dianggap “antik” pun dilakukan. Kemudian ternyata bahwa peminat barang antik itu bukan hanya satu dua orang Belanda saja, tetapi juga yang lainnya. Terjadilah prinsip ekonomi supply & demand disini. Uniknya disini, perburuan barang antik hanya dilakukan oleh komunitas tukang patri, yaitu orang-orang Sariak.

Barangkali karena merasa bahwa ladang perburuan mereka di sekitar Fort de Kock (kabupaten Agam) sudah tidak menjanjikan lagi, para pemburu barang antik ini mulai bergerak keluar. Disitulah awal perantauan pemburu barang antik ke negeri orang, seperti ke Kuching, Sarawak bahkan hingga Siam (Thailand).

Alkisah di tahun 1934 ada tiga sekawan pedagang antik Sariak yang berangkat hendak mengadu nasib ke Batavia. Mereka adalah Ican St. Iskandar, Ajis St. Palindih dan Jakman. Mereka bertiga inilah tampaknya pioneer pedagang antik asal Minang di tanah Betawi. Darah dagang orang Minangkabau mereka benar-benar diuji di tanah rantau. Semangat juang yang tak kenal menyerah membuat mereka bisa “survive” dan bahkan berhasil mendapatkan pelanggan-pelanggan yang setia.

Ajis (yang belakangan dipanggil Inyik Krukut karena lama tinggal di daerah Krukut) menjadi pemasok yang dipercaya oleh kolektor keramik kuno bernama de Flines. Menurut literatur, 80% koleksi Museum Nasional adalah sumbangan dari de Flines yang bernama lengkap Egbert Willem van Orsoy de Flines, seorang Belanda penggemar keramik yang dahulunya tinggal di Ungaran, Jawa Tengah. Sumbangan itu diserahkannya ke museum Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunst en Wetenschappen (The Royal Batavian Society for the Arts and Sciences) yang kemudian menjadi Museum Nasional sekarang. Ironisnya, pada bulan September 1987 Museum Nasional disatroni maling. Ada dua puluh keping keramik tua bernilai tinggi raib, yang sebagiannya adalah warisan De Flines.

Di tahun 50-an, keramik tua yang dipasok oleh Ajis cs banyak yang dipajang di Museum Nasional. Nama mereka sebagai penemu turut dituliskan pada label yang menyertai pajangan tersebut. Disamping itu Ajis juga rutin menjual keramik tua temuannya ke Yung Tju Ping, pemilik anggur terkenal Anggoer Tjap Ikan Mas yang tinggal di gang Kelenteng (Kota).

Pada generasi berikutnya, salah seorang anak muda Sariak yang mengikuti jejak sebagai pedagang antik adalah Johan. Sebelumnya ia sempat menjadi pedagang kelontong asongan di Singapore. Setelah menikah di tahun 1957 pun, Johan masih sering berkeliling hingga ke Makassar dan Ternate untuk memburu barang-barang antik, khususnya porselen Cina.

Bisnis antik yang digeluti Johan (yang kemudian bergelar Dt. Palindih) semakin berkembang setelah menetap di jalan Sabang dan mencanangkan trade marknya, Johan Arts & Curio.
Pada masa jayanya. Toko Johan Arts & Curio di pojok jalan Sabang Jakarta Pusat sering dikunjungi para pelanggan setianya, termasuk Dewi Soekarno, Tong Djoe (pengusaha dan pelobi ulung sejak jaman Sukarno hingga sekarang) dan Raka Sumichan (kolektor porselen dan lukisan yang berdomisili di Surabaya). Ketika Imelda Marcos berkunjung ke Jakarta, secara khusus Imelda mampir belanja ke Johan Arts. Di tahun 70 an Johan pernah diminta untuk menjadi dosen tamu di Arkeologi UI untuk subyek  “porselen Cina”, tapi ditolaknya karena merasa tidak pantas untuk itu.

Dunia bisnis antik juga sama dengan bisnis lainnya, ada masa pasang surutnya. Bisnis antik di Indonesia boleh dikatakan mencapai masa jayanya di tahun 70-an hingga terjadinya krisis moneter di akhir tahun 1997. Di era reformasi ini perdagangan barang antik (yang sesungguhnya merupakan kebutuhan tertier atau lebih rendah) di masyarakat secara perlahan terlihat merosot seirama dengan kondisi ekonomi Indonesia yang belum juga pulih. Kemampuan daya beli masyarakat domestik dan luar negeri tidak lagi sebaik tempo dulu. Disamping itu barang antik juga semakin sulit diperoleh. Akibatnya, barang antik yang dijajakan kebanyakan sudah tidak lagi murni antik, tapi sudah merupakan “antique like” seperti kursi meja kreasi pengrajin di Jawa Tengah dengan meniru model furnitur yang asli (tua). Truk-truk kontainer yang beberapa tahun lalu sering mangkal di ruko-ruko Ciputat guna memuat barang/furnitur untuk dikirim ke manca negara, kini sudah agak lebih jarang terlihat.

Demikian sekilas sejarah singkat asal usul perdagangan barang antik khususnya di Jakarta.

(Nara sumber: Engku Ono. Dt. Palindih, Hj. Nurlaili Johan)

Ciputat, 22 Juli 2011.

1 Comment

Filed under History

Terkuaknya Rahasia Heracleion, Kota Kuno Mesir

Heracleion

Setelah selama berabad-abad itu dianggap sebagai legenda, sebuah kota makmur yang konon pernah dikunjungi oleh Helen of Troy dan Paris, kekasihnya, baru-baru ini ditemukan reruntuhannya di dasar laut, Teluk Aboukir, Mesir.

Jadi dugaan adanya kota Heracleion itu benar, dan satu dekade setelah penyelam mulai mengungkap harta karun yang ditemui, arkeolog telah menghasilkan gambaran seperti apa kehidupan di kota di era Firaun tersebut. Kota tersebut yang juga disebut Thonis, menghilang di bawah Mediterania sekitar 1.200 tahun yang lalu dan ditemukan selama survei dari pantai Mesir pada awal dekade terakhir.

heracleion-4

Para peneliti dari Pusat Arkeologi Maritim Universitas Oxford, menemukan sisa-sisa dari 64 bangkai kapal yang terkubur bersama koin-koin emas dan barang terbuat dari perunggu dan batu. Juga ditemukan 16 patung kaki raksasa, ratusan patung kecil dewa, beberapa lempengan batu tertulis dalam bahasa Yunani dan Mesir kuno.

Menurut The Telegraph, Minggu (28/4/2013), temuan ini memberikan gambaran bahwa Thonis adalah jantung kota perdagangan dan pelabuhan di era Firaun yang menghubungkan wilayah Mediterania dengan Yunani.

Puluhan sarkofagus yang baru-baru ini ditemukan oleh para penyelam diyakini mengandung mumi binatang yang merupakan barang persembahan untuk menenangkan para dewa.

heracleion-5

Dr Damian Robinson, Direktur Oxford Pusat Arkeologi Maritim di Universitas Oxford, yang merupakan bagian dari tim, mengatakan: “Ini adalah kota yang besar kami gali. Situs ini memiliki pelestarian yang menakjubkan. Kami sekarang mulai melihat beberapa lokasi yang lebih menarik di dalamnya untuk mencoba memahami kehidupan di sana.”

“Kami memiliki ratusan patung kecil dewa dan kami mencoba untuk menemukan di mana adanya lokasi kuil untuk dewa ini di kota. Kapal-kapal yang benar-benar menarik karena merupakan jumlah terbesar dari kapal kuno yang ditemukan di satu tempat dan kami telah menemukan lebih dari 700 jangkar kuno sejauh ini,” ujarnya.
Para peneliti, bekerja sama dengan pembuat film dokumenter German TV juga telah membuat rekonstruksi kota dalam tiga dimensi.

Pada pusatnya terdapat sebuah kuil besar untuk dewa Amun-Gereb, dewa tertinggi Mesir pada saat itu.

Bulan lalu para arkeolog dari seluruh dunia berkumpul di Universitas Oxford untuk membahas penemuan mulai muncul dari harta karun yang ditemukan di Heracleion, yang dinamai Hercules, oleh legenda selama ini.

Dr Robinson mengatakan: “Itu adalah pelabuhan dagang internasional utama bagi Mesir pada masa lalu, dimana pajak diambil pada bea ekspor dan impor. Semuanya dijalankan oleh candi utama. ”

Kota Thonis ditemukan di kedalaman 150 meter dan berada di Teluk Aboukir. Kota yang diperkirakan dibangun pada abad 8 sebelum Masehi berada di delta Sungai Nil yang menuju ke Mediterania.

heracleion-3

Para ilmuwan hingga kini masih menduga-duga apa yang menyebabkan kota itu tenggelam sekitar 1.000 tahun yang lalu. Namun diperkirakan bahwa terjadinya kenaikan permukaan air laut secara bertahap disamping runtuhnya  sedimen kota yang tidak stabil membuat kota itu terbenam hampir sekitar 4 meter. Seiring waktu catatan tentang keberadaan kota ini juga menghilang, kecuali dari beberapa naskah kuno.

Dr. Franck Goddio, arkeolog bawah air Perancis, adalah orang pertama yang menemukan kembali kota Thonis ketika melakukan survei sambil mencari kapal perang Perancis yang tenggelam dalam pertempuran di Sungai Nil pada abad 18.

Ketika para penyelam mulai turun ke dasar laut untuk menyingkirkan lapisan tebal pasir dan lumpur, mereka nyatris tidak percaya dengan apa yang mereka temukan.

“Temuan arkeologi ini sungguh tinggi nilainya,” kata Profesor Sir Barry Cunliffe, seorang arkeolog di Universitas Oxford juga telah mengambil bagian dalam penggalian.

“Dengan tenggelam dan terlindung oleh pasir di dasar laut selama berabad-abad, mereka telah terawetkan dengan sempurna.”

“Temuan ini baru sebatas penelitian awal. Kami mungkin harus terus bekerja selama 200 tahun ke depan untuk dapat mengungkapkan dan memahami Thonis-Heracleion sepenuhnya.”

(sumber: Lost city of Heracleion gives up its secrets, The Telegraph, 28 April 2013)

 

1 Comment

Filed under History